JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB Mahdalena menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, berdasarkan data dari Komnas Perempuan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Dalam peringatan Hari Kartini, Mahdalena menegaskan bahwa lonjakan kasus kekerasan berbasis gender harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terutama negara sebagai pelindung warga.

Data Komnas Perempuan mencatat, dalam satu dekade terakhir terdapat lebih dari 2,5 juta kasus kekerasan berbasis gender. Sementara pada 2023 saja, jumlah kasus mencapai 289.111, dengan mayoritas berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta kekerasan seksual.

“Ini bukan sekadar angka, ini adalah realitas pahit yang dialami perempuan setiap hari. Negara tidak boleh abai terhadap kondisi ini,” ujar Mahdalena, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, tingginya angka tersebut menunjukkan adanya persoalan sistemik dalam perlindungan perempuan, terutama karena pelaku sering berasal dari lingkungan terdekat korban.

Menurutnya, fenomena ini memperlihatkan bahwa ruang aman bagi perempuan semakin sempit, bahkan di lingkungan keluarga dan pendidikan.

Mahdalena juga menyoroti masih rendahnya keberanian korban untuk melapor, yang disebabkan oleh rasa takut, stigma sosial, hingga kurangnya kepercayaan terhadap sistem hukum.

“Banyak korban memilih diam karena takut disalahkan atau tidak mendapatkan keadilan. Ini menjadi pekerjaan besar bagi negara untuk membangun kepercayaan publik,” tegasnya.

Ia pun mendorong aparat penegak hukum agar lebih responsif dan berpihak kepada korban, serta memastikan setiap laporan ditangani secara serius tanpa diskriminasi.

Menurut Mahdalena, peringatan Hari Kartini harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam menciptakan lingkungan yang aman dan adil bagi perempuan di seluruh Indonesia (red)