JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat memperkuat kinerja tenaga ahli (TA) dalam mendukung tugas legislasi di parlemen. Hal tersebut disampaikan Hetifah saat menjadi keynote speaker dalam workshop yang digelar Forum Staf Anggota (FOSTA) Fraksi Partai Golkar DPR RI bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Workshop bertajuk Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence untuk Mendukung Kerja Profesional Tenaga Ahli DPR RI ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia tenaga ahli dan staf administrasi anggota DPR RI.

Menurut Hetifah, tenaga ahli DPR memiliki peran strategis sebagai “mesin intelektual” yang memperkuat kualitas argumentasi dan posisi politik anggota dewan.

“Tenaga ahli membantu analisis RUU, penyusunan policy brief, naskah pidato, hingga monitoring isu publik dan media,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penggunaan AI dapat mempercepat proses kerja, mulai dari membaca dan merangkum dokumen, hingga mengolah data dalam jumlah besar untuk menghasilkan analisis yang lebih akurat.

“AI membantu menyajikan inti informasi secara cepat dan menemukan pola dari data besar untuk mendukung pengambilan keputusan,” jelas Hetifah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak menggantikan peran manusia, melainkan hanya sebagai alat bantu dalam memperkuat kualitas analisis.

“AI tidak dapat menggantikan judgment politik, tetapi memperkuatnya,” tegasnya.

Senada, Ketua Umum FOSTA, Nur Wahyu Satrio Wibowo, menyatakan pemanfaatan AI dapat meningkatkan kualitas keputusan DPR melalui analisis yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data.

Menurutnya, penggunaan AI dapat mendukung tiga fungsi utama DPR, yakni fungsi pengawasan, anggaran, dan legislasi.

“AI membantu analisis program pemerintah, pengolahan data anggaran, serta telaah RUU secara lebih sistematis,” ungkap Satrio.

Ia juga menjelaskan alur kerja integrasi AI bagi tenaga ahli, mulai dari riset awal, analisis isu, penyusunan bahan, hingga tahap review dan penyempurnaan.

“Dengan AI, output kerja tenaga ahli menjadi lebih siap pakai, tepat waktu, dan berkualitas,” pungkasnya.

Workshop ini turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Wim Tohari Daniealdi dan Hanif Fakhrurroja, serta dimoderatori oleh Taufiq Saifuddin (red)