JAKARTA, BERITA SENAYAN – Tradisi “halal bi halal” yang selama ini melekat dalam perayaan Idulfitri di Indonesia ditegaskan sebagai budaya lokal yang tidak berasal dari Timur Tengah. Hal itu disampaikan oleh Hajriyanto Y Thohari dalam forum Halal Bi Halal Yayasan Amal Insani dan Alumni HMI Yogyakarta di Masjid Baiturrahman DPR RI, Selasa (14/4/2026).

Hajriyanto, yang juga Direktur Akademi Partai Golkar itu menyebut,  istilah “halal bi halal” memang menggunakan kosakata Arab, namun secara linguistik tidak dikenal dalam praktik bahasa Arab modern maupun tradisi masyarakat di kawasan Timur Tengah.

“Istilah halal bi halal itu tidak ditemukan dalam bahasa Arab modern, baik secara struktur maupun penggunaannya,” ujar Hajriyanto.

Ia menegaskan bahwa istilah tersebut justru lahir dari kreativitas umat Islam Indonesia dalam membangun tradisi silaturahmi pasca-Ramadan.

“Ini adalah istilah Arab yang dibuat di Indonesia, bukan berasal dari budaya Arab,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hajriyanto menjelaskan bahwa masyarakat di negara-negara Arab tidak mengenal istilah khusus dalam momentum Idulfitri selain tradisi saling bermaafan.

“Di Timur Tengah, mereka hanya salat Id, lalu bersalaman dan saling mendoakan, tanpa istilah halal bi halal,” jelasnya.

Fenomena ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa Islam di Indonesia berkembang dengan pendekatan kultural yang kuat, sehingga melahirkan tradisi khas yang tetap sejalan dengan nilai-nilai keislaman.

Dalam paparannya, Hajriyanto juga menyinggung perkembangan bahasa Arab modern yang banyak dipengaruhi oleh intelektual dari Lebanon, terutama di Beirut sebagai pusat literatur dan percetakan dunia Arab.

“Banyak kamus dan literatur bahasa Arab modern justru diproduksi di Beirut oleh para linguis Lebanon,” ungkapnya.

Ia menambahkan, meskipun banyak dikembangkan oleh kalangan non-Muslim, bahasa Arab modern tetap merujuk pada sumber klasik seperti Al-Qur’an.

“Bahasa Arab modern itu tetap dekat dengan bahasa Al-Qur’an, meskipun dikembangkan oleh berbagai kalangan,” pungkasnya.

Melalui pemaparannya, Hajriyanto mengajak umat Islam Indonesia untuk memahami bahwa keberagaman praktik budaya dalam Islam merupakan kekayaan yang perlu dijaga, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama (red)