JAKARTA, BERITA SENAYAN – Dinamika geopolitik global di kawasan Timur Tengah dinilai semakin kompleks dan berpotensi mengancam stabilitas dunia Islam. Hal tersebut disampaikan oleh Hajriyanto Y Thohari dalam kegiatan Halal Bi Halal Yayasan Amal Insani dan Alumni HMI Yogyakarta yang berlangsung di Masjid Baiturrahman DPR RI, Selasa (14/4/2026).

Dalam paparannya, Hajriyanto menyoroti akar persoalan geopolitik kawasan yang tidak lepas dari sejarah panjang sejak runtuhnya Kekaisaran Ottoman pasca Perang Dunia I. Kekalahan tersebut, menurutnya, menjadi titik awal pembentukan negara-negara modern di Timur Tengah yang terbagi berdasarkan kepentingan negara-negara Barat.

“Sejak kekalahan Ottoman, wilayah Timur Tengah dibagi-bagi oleh kekuatan Eropa, dan itulah yang membentuk peta politik kawasan hingga hari ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dari satu entitas besar, kawasan tersebut kemudian terfragmentasi menjadi puluhan negara dengan kepentingan yang berbeda-beda.

“Dulu satu wilayah besar, sekarang menjadi lebih dari 20 negara yang berdiri sendiri dengan dinamika masing-masing,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hajriyanto menyinggung potensi konflik baru yang dipicu oleh upaya pembentukan tatanan baru di kawasan yang kerap disebut sebagai New Middle East. Ia menilai, agenda tersebut berpotensi memperbesar ketegangan antarnegara di kawasan.

“Ada upaya untuk membentuk ulang Timur Tengah dengan konfigurasi baru, dan ini tentu membawa risiko konflik yang besar,” tegasnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya ketegangan antara Iran dan kekuatan global yang terlibat dalam percaturan politik kawasan.

“Jika eskalasi ini terus berlanjut, maka dampaknya tidak hanya regional, tetapi juga global, termasuk bagi dunia Islam,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Hajriyanto mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan umat Islam dalam membaca perubahan geopolitik global yang terus berkembang.

“Umat Islam harus memahami dinamika ini secara utuh agar tidak hanya menjadi objek, tetapi juga mampu berperan dalam percaturan global,” pungkasnya.

Melalui forum ini, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan literasi geopolitik sekaligus memperkuat solidaritas umat dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks (red).