JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ekonom senior Burhanuddin Abdullah menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen bukan sesuatu yang mustahil. Namun, target tersebut membutuhkan perubahan mendasar dalam cara pembangunan ekonomi, terutama melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi.
Hal itu disampaikan Burhanuddin saat menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk “Industrialisasi, Bursa Komoditas Strategis & Prabowonomics” yang digelar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Menurut Burhanuddin, Indonesia tidak dapat mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi apabila masih menggunakan pendekatan pembangunan yang sama seperti sebelumnya.
Dalam paparannya, Burhanuddin menempatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu faktor penting dalam menggerakkan pembangunan dan membangun peradaban.
Ia menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan jumlah masyarakat berpendidikan dan memiliki kapasitas tinggi. Menurutnya, jumlah masyarakat yang benar-benar mampu menjadi penggerak perubahan masih relatif terbatas.
“Kita sering mengatakan Indonesia ini banyak orang pintar. Sebetulnya sedikit sekali. Paling 7 persen kalau semua sarjana itu dianggap orang pintar,” kata Burhanuddin.
Ia menjelaskan, perubahan besar dalam peradaban, budaya, dan pemikiran membutuhkan proporsi masyarakat berkapasitas tinggi yang lebih besar. Burhanuddin menyebut angka sekitar 20 persen sebagai salah satu ukuran yang diperlukan untuk membentuk critical mass penggerak perubahan.
“Untuk satu critical mass untuk menggerakkan peradaban, budaya dan pikiran diperlukan paling tidak 20 persen orang pintar. Kita baru 7 persen dalam 70 tahun,” ujarnya.
Menurut Burhanuddin, pembangunan pendidikan yang tengah didorong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki kaitan dengan upaya meningkatkan kualitas SDM nasional. Ia melihat pembangunan sekolah dan berbagai kebijakan pendidikan sebagai bagian dari agenda Indonesia Emas dan Asta Cita.
“Sekarang Presiden sangat semangat dan visioner untuk membuat sekolah macam-macam karena ingin mengejar orang pintar tadi. Situasi itulah yang kemudian memunculkan Indonesia Emas dan Astacita. Intinya, kita ingin lebih cepat karena kita sudah sangat lambat,” katanya.
Burhanuddin juga mengungkapkan perhitungan yang pernah dilakukan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengenai pertumbuhan ekonomi dan upaya Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun, Indonesia diproyeksikan dapat keluar dari middle income trap pada 2041. Jika pertumbuhan mencapai 7 persen per tahun, target tersebut diperkirakan dapat dicapai lebih cepat, yakni pada 2038.
Namun, target pertumbuhan kemudian didorong hingga 8 persen.
Target 8 Persen Butuh Produktivitas dan Efisiensi
Burhanuddin menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen tetap memungkinkan dicapai Indonesia. Ia merujuk pada pengalaman pertumbuhan ekonomi tinggi yang pernah terjadi pada masa lalu.
“Presiden bilang target 8 persen, lebih cepat lagi. Apa mungkin? Sangat mungkin bisa mencapai 8 persen. Kita pernah tumbuh 8 persen, bukan hanya sekali, tapi lima kali di zaman Orde Baru dulu. Kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak bisa?” ujarnya.
Meski demikian, Burhanuddin menekankan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan perubahan cara pembangunan. Menurut dia, terdapat dua faktor utama yang harus menjadi perhatian, yakni produktivitas dan efisiensi.
“Cara kita memang harus berbeda. Kalau caranya sama seperti yang lalu, pertumbuhan kita tetap 5 persen. Kunci paling pokok mewujudkan itu cuma dua, yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi,” katanya.
Ia kemudian mengutip ungkapan yang populer dikaitkan dengan Albert Einstein untuk menggambarkan pentingnya perubahan pendekatan ketika hasil yang diinginkan juga berubah.
“Kegilaan itu adalah ketika kita melakukan hal yang sama terus-menerus tetapi kita ingin hasil yang berbeda,” ujarnya.
Burhanuddin menilai sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo menunjukkan adanya upaya mengubah pendekatan pembangunan dibandingkan periode sebelumnya.
“Saya kira apa yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo ini sudah sangat banyak yang berbeda. Kita semua akan melakukan pembangunan ke depan dengan cara yang berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan,” katanya.
Menurutnya, perubahan strategi pembangunan tidak berarti mengubah tujuan akhir pembangunan nasional. Tujuan tersebut tetap diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
Karena itu, target pertumbuhan ekonomi 8 persen menurut Burhanuddin perlu diikuti perubahan cara kerja ekonomi secara menyeluruh. Peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas SDM, serta pendekatan pembangunan yang berbeda menjadi sejumlah faktor yang ia soroti untuk mengejar target tersebut.
Diskusi publik tersebut turut menghadirkan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, pengamat ekonomi Didik J. Rachbini, pengamat ekonomi dan teknologi Poltak Hotradero, serta Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Chandra Wijaya (red)

Berita terkait