JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Faisol Riza mengusulkan pembentukan dua badan khusus untuk memperkuat kemandirian industri nasional.
Dua lembaga yang diusulkan tersebut yakni Badan Penjamin Bahan Baku Industri dan Badan Teknologi Terapan Industri. Menurut Faisol, kedua institusi itu dibutuhkan untuk menjawab persoalan mendasar dalam industrialisasi Indonesia, mulai dari ketergantungan bahan baku impor hingga kesenjangan antara hasil riset dan penerapan teknologi di sektor industri.
Usulan tersebut disampaikan Faisol saat menghadiri diskusi publik bertajuk “Industrialisasi, Bursa Komoditas Strategis dan Prabowonomics” di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026).
Faisol mengatakan, kemandirian industri setidaknya membutuhkan dua prasyarat utama, yakni kepastian ketersediaan bahan baku dan kemampuan mengembangkan teknologi yang benar-benar dapat diterapkan di sektor industri.
“Menurut saya ada dua yang paling penting untuk menindaklanjuti apa yang disampaikan para pembicara. Kemandirian industri itu minimal ada dua yang harus kita pastikan,” kata Faisol.
Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan bahan mentah yang melimpah. Namun, ketersediaan bahan mentah tersebut belum otomatis menjamin kebutuhan bahan baku industri dalam negeri dapat terpenuhi.
“Bahan mentah kita punya, tapi bahan mentah belum tentu jadi bahan baku kalau tidak kita olah. Hampir semua industri membutuhkan bahan baku, dan bahan baku kita rata-rata itu impor,” ujarnya.
Faisol mencontohkan perusahaan di sektor pendingin ruangan atau AC yang mulai mengolah bahan mentah impor menjadi bahan baku untuk kebutuhan produksinya sendiri. Menurut dia, langkah semacam itu dapat menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok industri yang lebih kuat.
“Kita harapkan perusahaan-perusahaan seperti ini mulai membangun rantai pasok bahan baku dan menyuplai kebutuhan pabriknya,” kata Faisol yang juga menjabat Wakil Menteri Perindustrian.
Karena itu, ia mengusulkan adanya institusi khusus yang bertugas memastikan ketersediaan bahan baku industri.
“Kita harus memastikan bahan baku harus ada. Semua bahan baku yang sekarang banyak kita impor seharusnya kita jamin ketersediaannya dan kita produksi lebih banyak di dalam negeri,” tegasnya.
Faisol mengakui Kementerian Perindustrian memiliki kewenangan dalam merumuskan kebijakan industri. Namun, menurutnya, fungsi memastikan ketersediaan bahan baku di lapangan membutuhkan institusi yang lebih spesifik.
“Kementerian Perindustrian memang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan berbagai macam kebijakan, tetapi memastikan di lapangan bahan baku harus ada itu hanya bisa dilakukan oleh sebuah institusi tersendiri yang menjamin bahan baku ada,” jelasnya.
Badan Teknologi Terapan Dinilai Penting
Selain bahan baku, Faisol menyoroti persoalan teknologi sebagai faktor penting dalam membangun industri nasional yang mandiri.
Ia mengatakan Indonesia memiliki sumber daya manusia dan lembaga riset yang telah mengembangkan berbagai teknologi baru. Bahkan, terdapat inisiasi pengembangan teknologi di bidang strategis seperti teknologi kuantum.
Namun, Faisol menilai persoalan Indonesia bukan hanya bagaimana menciptakan teknologi, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan dan dikomersialkan oleh industri.
“Teknologi yang kita inginkan adalah teknologi yang bisa diterapkan di dalam industri. Teknologi yang diciptakan dengan teknologi yang diterapkan industri bisa jauh bedanya,” katanya.
Menurut Faisol, teknologi yang diterapkan di sektor industri harus mempertimbangkan berbagai kebutuhan nyata, mulai dari efisiensi produksi, penggunaan energi, komponen, hingga ketersediaan bahan baku.
Karena itu, ia mengusulkan pembentukan Badan Teknologi Terapan Industri. Lembaga tersebut diharapkan dapat menjembatani hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan industri.
“Badan Teknologi Terapan Industri ini penting untuk menjamin keberlangsungan teknologi industri yang digunakan di berbagai macam pabrik dan berbagai macam sektor,” ujar Faisol.
Ia menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak prototipe hasil riset. Persoalannya, tidak semua hasil penelitian tersebut berhasil melewati tahap komersialisasi dan diterapkan secara luas oleh sektor industri.
“Prototipe banyak, teknologi banyak, tetapi belum bisa komersial dan belum bisa diterapkan secara luas di berbagai sektor industri,” katanya.
Menurut Faisol, dua badan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi mempercepat industrialisasi nasional. Badan Penjamin Bahan Baku Industri diarahkan untuk memperkuat kepastian pasokan, sedangkan Badan Teknologi Terapan Industri dapat mendorong hasil riset agar lebih mudah diadopsi dunia usaha.
Ia berharap pendekatan tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat rantai pasok dan kemampuan teknologi industri nasional.
Diskusi publik tersebut turut menghadirkan ekonom senior Burhanuddin Abdullah, pengamat ekonomi Didik J. Rachbini, pengamat ekonomi dan teknologi Poltak Hotradero, serta Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Chandra Wijaya (red)

Berita terkait