JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ia pernah memasak untuk keluarga sebelum berangkat mengaji, memimpin organisasi mahasiswa di tengah gejolak Reformasi, bertahun-tahun duduk di parlemen, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Perindustrian. Di balik perjalanan panjang itu, sosok Muhammad Sarmuji tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana: memasak, pergi ke pasar, berdialog, dan mendengarkan aspirasi warga.

Ada sisi dari Muhammad Sarmuji yang mungkin tidak langsung terlihat ketika namanya disebut sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar atau Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI. Dan sisi itu justru muncul dari sesuatu yang sangat domestik: dapur.

Sejak masih duduk di bangku SMP, Sarmuji sudah terbiasa memasak. Pagi hari, ketika ibunya pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan toko, Sarmuji kecil mengambil alih pekerjaan di rumah. Ia menanak nasi, membuat sayur sederhana, atau menggoreng ikan. Kebiasaan itu berlangsung bertahun-tahun. Bahkan rutinitas memasak menjadi bagian dari kesehariannya ketika sekolah, mengaji, hingga menjalani aktivitas sebagai mahasiswa.

Dalam sebuah wawancara dengan Parlementaria pada 2024, Sarmuji menceritakan pengalaman tersebut dengan cara yang sederhana. Ia tidak sedang bercerita tentang sebuah pencapaian besar. Ia hanya sedang mengingat masa ketika dapur menjadi bagian dari kehidupannya.

Kini, ketika kesibukannya berada di tingkat nasional semakin padat, memasak tetap menjadi salah satu hobinya. Jika memiliki waktu luang, ia disebut masih senang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan sendiri. Gambaran itu bisa dilihat dengan jelas melalui postingan-postingannya di media sosial miliknya. Rawon, soto, bandeng bakar pecel santan, botok, hingga berbagai masakan rumahan khas Jawa Timur menjadi beberapa menu yang disukainya.

Ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan itu. Di tengah kehidupan politik yang identik dengan ruang rapat, podium, lobi, dan agenda kenegaraan, Sarmuji justru mempunyai ruang personal yang sangat biasa: pasar dan dapur.

Kisah kecil tersebut memberi gambaran mengenai sisi lain seorang politikus yang selama bertahun-tahun berada di tengah hiruk-pikuk politik nasional.

Dari Surabaya, Menempa Diri di Jember

Muhammad Sarmuji lahir di Surabaya, 10 Juni 1974. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 16 Surabaya, langkahnya berlanjut ke Universitas Jember. Di kampus itulah perjalanan intelektual dan organisasinya mulai terbentuk.

Sarmuji menyelesaikan pendidikan sarjana bidang manajemen di Universitas Jember pada 2000. Lima tahun kemudian, ia menuntaskan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, bidang ilmu administrasi.

Namun, kehidupan kampus bagi Sarmuji bukan hanya soal ruang kuliah. Ia aktif dalam organisasi mahasiswa. Pada 1996–1998, ia dipercaya menjadi Ketua Koperasi Mahasiswa Universitas Jember. Setelah itu, ia menjadi Ketua Umum HMI Cabang Jember periode 1998–2000. Itu bukan periode yang biasa.

Indonesia waktu itu  sedang memasuki fase perubahan besar. Reformasi 1998 mengubah lanskap politik nasional, termasuk kehidupan organisasi mahasiswa. Di Jember, Sarmuji menjadi bagian dari generasi mahasiswa yang menjalani langsung masa transisi tersebut. Pengalaman itulah yang kemudian membawanya ke tingkat nasional. Ia tercatat pernah menjadi Ketua PB HMI pada 2001–2002, Wakil Sekretaris Jenderal DPP AMPI, Ketua KNPI, hingga Sekretaris Jenderal PP AMPG.

Organisasi seperti menjadi semacam sekolah kedua bagi Sarmuji. Di sanalah ia belajar berdebat, bernegosiasi, membangun jaringan, sekaligus berhadapan dengan beragam karakter manusia.

Dari Tenaga Ahli ke Ruang Sidang DPR

Sebelum menjadi legislator, Sarmuji sempat bekerja sebagai konsultan di PT Himais Optima pada 2002–2010. Ia juga pernah menjadi tenaga ahli Fraksi Partai Golkar di DPR RI pada 2007–2014. Pengalaman tersebut membuatnya tidak asing dengan bagaimana sebuah kebijakan dibahas sebelum akhirnya menjadi keputusan politik. Sebagai tenaga ahli, ia harus mengikuti isu yang berkembang di parlemen dan membantu mengkaji berbagai persoalan yang menjadi perhatian fraksi.

Lalu datanglah 2014.Sarmuji terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur VI. Ia kembali terpilih pada Pemilu 2019 dan Pemilu 2024. Dalam daftar riwayat hidup resmi MPR, masa jabatannya sebagai anggota DPR tercatat sejak 2014 dan berlanjut hingga periode 2024–2029. Perjalanan itu menunjukkan satu hal: politik bagi Sarmuji bukanlah persinggahan singkat.

Dar gambaran itu, Sarmuji tampak tumbuh dari organisasi, masuk ke ruang kerja politik sebagai tenaga ahli, lalu menjadi pembuat kebijakan di parlemen.

Bersentuhan dengan Industri Jauh Sebelum Menjadi Menteri

Menariknya, Kementerian Perindustrian bukan wilayah yang sepenuhnya asing bagi Sarmuji. Selama berada di DPR, ia pernah bertugas di sejumlah komisi yang bersinggungan dengan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Ia pernah berada di Komisi XI yang membidangi keuangan. Kemudian ia juga bertugas di Komisi VI yang memiliki ruang lingkup antara lain perdagangan, perindustrian, investasi dan BUMN. Di Komisi VI, Sarmuji berhadapan dengan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: energi, harga dan ketersediaan BBM, BUMN, perdagangan, investasi hingga industri.

Pada Juni 2024, misalnya, ia memimpin Panja Timah Komisi VI DPR RI melakukan peninjauan ke kawasan pertambangan timah di Bangka Belitung. Ia melihat langsung aktivitas pertambangan legal dan ilegal serta dampaknya terhadap penerimaan negara dan lingkungan. Setahun sebelumnya, atau bahkan jauh sebelum kursi menteri berada di hadapannya, isu industri sudah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari Sarmuji di parlemen.

Kini pengalaman tersebut mendapatkan ruang yang jauh lebih luas.

Politik yang Tidak Harus Berjarak

Salah satu karakter yang menarik dari Sarmuji adalah cara pandangnya terhadap hubungan antara institusi politik dan masyarakat. Pada Februari 2026, sebagai Sekjen Partai Golkar, ia meminta kantor-kantor Golkar di berbagai daerah dibuka sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan dan aspirasi. Ia bahkan menyebut kantor partai seharusnya dapat menjadi tempat masyarakat “berkeluh kesah menyampaikan aspirasinya”.

Pesan tersebut memperlihatkan cara pandangnya bahwa politik tidak seharusnya berhenti di ruang rapat. Politik harus mempunyai pintu yang bisa diketuk masyarakat. Karena itu, ia juga mendorong kader legislatif membuka kanal komunikasi melalui media sosial agar masyarakat memiliki jalur untuk menyampaikan aspirasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan aktivitasnya yang selama bertahun-tahun bersinggungan langsung dengan persoalan masyarakat, mulai dari UMKM hingga energi dan industri.

Dalam kunjungannya ke Tulungagung pada 2026, misalnya, Sarmuji mengapresiasi produk UMKM binaan Golkar yang berhasil menembus pasar Jakarta dan Surabaya. Ia menekankan pentingnya pembinaan UMKM agar usaha lokal tidak berhenti pada persoalan produksi, tetapi juga berkembang dalam pemasaran.

Barangkali di sinilah sisi “dekat dengan masyarakat” Sarmuji lebih tepat dibaca: bukan semata-mata dari seberapa sering ia berada di tengah kerumunan, tetapi dari bagaimana ia memandang akses masyarakat terhadap ruang politik dan ekonomi.

Sekjen Golkar yang Tetap Menyukai Hal-Hal Sederhana

Pada 2024, Sarmuji masih menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI. Pada tahun yang sama, perjalanan politiknya di Partai Golkar memasuki fase baru ketika ia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar periode 2024–2029.

Sebelumnya, ia juga pernah memimpin DPD Partai Golkar Jawa Timur. Jabatan-jabatan itu menempatkannya di lingkaran elite politik nasional. Tetapi ada paradoks yang menarik. Semakin tinggi posisi yang didudukinya, semakin sederhana pula beberapa sisi kehidupannya yang justru terlihat. Ia masih berbicara tentang masakan rumahan. Ia masih mempunyai kebiasaan pergi ke pasar ketika memiliki waktu. Dan ketika berbicara tentang kehidupan politik, ia berkali-kali menekankan pentingnya mendekatkan institusi kepada masyarakat.

Kesan bersahaja itu tentu bukan sesuatu yang bisa diukur hanya dari satu-dua aktivitas. Namun, rekam jejak yang terdokumentasi memberikan beberapa potongan gambar tentang pribadi Sarmuji di luar ruang politik formal. Seorang politikus yang sejak muda terbiasa mengurus kebutuhan rumah. Seorang aktivis yang tumbuh dari organisasi mahasiswa. Seorang legislator yang bertahun-tahun bersentuhan dengan persoalan ekonomi. Dan seorang elite partai yang pernah meminta kantor partai dibuka untuk masyarakat.

Dari Beringin ke Kabinet Merah Putih

Pada Kamis, 1 Oktober 2026 kemarin, perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian di Istana Negara, Jakarta. Ia menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Pelantikan tersebut dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 104 P Tahun 2026. Beberapa jam sebelum pelantikan, Sarmuji tiba di Kompleks Istana Kepresidenan.

Saat ditanya wartawan mengenai kemungkinan dirinya menjadi Menteri Perindustrian, ia belum memberikan jawaban secara langsung. Ia hanya mengatakan telah dihubungi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk membantu Presiden di bidang perindustrian.

“Nanti dilihat, kira-kira untuk membantu Pak Presiden di bidang perindustrian,” ujarnya.

Beberapa jam kemudian, jawabannya menjadi resmi. Sarmuji berdiri di hadapan Presiden Prabowo untuk mengucapkan sumpah jabatan. Dari seorang aktivis mahasiswa di Jember, ia kini menjadi orang yang bertanggung jawab atas salah satu sektor penting perekonomian nasional.

Tantangan Baru di Kursi Menperin

Menjadi Menteri Perindustrian bukan sekadar perubahan alamat kantor. Sarmuji memasuki kementerian ketika sektor manufaktur Indonesia menghadapi tantangan ekonomi global. Sektor industri harus berhadapan dengan persoalan daya saing, investasi, produktivitas, penciptaan lapangan kerja, hilirisasi, teknologi, hingga penguatan industri dalam negeri.

Tak lama setelah dilantik, Sarmuji menyatakan akan memberikan perhatian pada industri padat karya. Fokus tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.

Tantangannya tidak kecil. Namun, sebagian medan yang akan dihadapinya sebenarnya sudah pernah ia lihat dari kursi parlemen. Dulu ia mengawasi. Kini ia harus mengeksekusi. Dulu ia memimpin rapat. Kini ia harus mengambil keputusan. Dulu ia berbicara tentang kebijakan industri dari sisi legislator. Kini ia berada di dalam pemerintahan yang harus memastikan kebijakan itu bekerja.

Menteri yang Datang dari Dapur

Pada akhirnya, sosok M. Sarmuji mungkin tidak cukup digambarkan hanya dengan deretan jabatan. Ia adalah seseorang yang perjalanan hidupnya bergerak dari ruang-ruang yang sangat biasa menuju ruang kekuasaan yang semakin besar. Dari rumah di Surabaya. Dari dapur dan pasar. Dari kampus di Jember. Dari organisasi mahasiswa. Dari ruang tenaga ahli DPR. Dari kursi legislator. Dari struktur Partai Golkar. Hingga akhirnya sampai ke Istana Negara.

Ada ironi kecil sekaligus cerita manusiawi dalam perjalanan tersebut. Seorang Menteri Perindustrian yang kini harus memikirkan masa depan manufaktur nasional, investasi, teknologi dan jutaan pekerja, pernah mengawali salah satu keterampilannya dengan pekerjaan sederhana: menanak nasi ketika ibunya pergi ke pasar.

Mungkin pengalaman seperti itulah yang membuat politik terasa lebih dekat. Sebab sebelum menjadi pejabat, seseorang tetaplah manusia yang pernah menjalani kehidupan sehari-hari. Dan pada diri Sarmuji, dapur, pasar, kampus, organisasi, parlemen, partai dan kini kementerian menjadi bagian dari satu perjalanan panjang.

Perjalanan seorang anak Surabaya yang tumbuh melalui banyak ruang, tetapi belum sepenuhnya meninggalkan kesederhanaan yang membentuk dirinya. Kini, tantangannya adalah membuktikan bahwa kedekatan dengan kehidupan masyarakat tidak berhenti sebagai cerita personal, melainkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan industri yang benar-benar terasa di kehidupan sehari-hari (red)