JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ada satu fase dalam perjalanan HMI yang pada akhirnya akan membawa seorang kader pada sebuah pertanyaan: setelah proses perkaderan, setelah melewati berbagai dinamika organisasi, setelah mengenal gagasan dan nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan, akan dibawa ke mana semua itu? Bagi saya, KAHMI adalah salah satu jawaban dari perjalanan panjang tersebut.
Hari ini, 17 September 2026, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam genap berusia 60 tahun. Enam dekade tentu bukan perjalanan yang pendek. Ada begitu banyak generasi yang telah melewati ruang-ruang HMI, kemudian melanjutkan pengabdiannya di berbagai tempat dan bidang kehidupan.
Sebagai kader HMI, saya memandang hari ulang tahun KAHMI bukan sekadar momentum untuk mengucapkan selamat kepada para alumni. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan bagi kami yang masih berada dalam proses perkaderan untuk belajar dari perjalanan mereka. Sebab setiap kader pada akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah itu.
Menjadi kader HMI berarti belajar bahwa organisasi bukan hanya tentang hari ini. Ada proses yang panjang, ada diskusi yang tidak selesai dalam satu malam, ada perdebatan yang terkadang melelahkan, ada perbedaan pandangan, dan ada proses belajar yang tidak selalu mudah. Tetapi dari proses itulah seseorang ditempa.
Ketika melihat perjalanan para alumni HMI yang hari ini berada di berbagai ruang pengabdian, saya melihat bahwa proses tersebut memiliki banyak bentuk. Ada yang mengabdi di kampus, ada yang berada di pemerintahan, ada yang membangun usaha, ada yang menjadi profesional, ada yang memilih jalur politik, ada yang bergerak di masyarakat, dan ada pula yang tetap aktif dalam berbagai kerja sosial dan kemanusiaan.
Jalan mereka berbeda, tetapi ada satu benang merah yang seharusnya tetap ada, yaitu semangat untuk memberikan manfaat. Karena bagi seorang kader, menjadi alumni seharusnya bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang pernah dipelajari di HMI. Justru ketika memasuki ruang kehidupan yang lebih luas, nilai tersebut diuji dalam bentuk yang sebenarnya.
Sebagai kader, saya tentu tidak berada pada posisi untuk menggurui para alumni tentang bagaimana seharusnya KAHMI berjalan. Kami justru banyak belajar. Kami melihat bagaimana para senior membangun karier, mengambil peran di masyarakat, menghadapi persoalan bangsa, dan tetap menjaga hubungan antarsesama alumni.
Namun dari generasi kader hari ini, tentu ada harapan yang ingin disampaikan. Kami berharap KAHMI tidak hanya menjadi tempat bertemunya para alumni, tetapi juga menjadi rumah yang tetap membuka pintu bagi kader-kader yang sedang tumbuh.
Kader membutuhkan ruang untuk berdiskusi dengan para senior. Kader membutuhkan pengalaman, membutuhkan kritik, dan membutuhkan contoh bahwa nilai-nilai yang selama ini dipelajari dalam perkaderan HMI benar-benar bisa diterapkan ketika memasuki kehidupan yang sesungguhnya.
Bagi kami, alumni bukan hanya mereka yang telah selesai dari HMI. Alumni adalah bagian dari perjalanan yang ingin kami lihat dan kami jadikan pelajaran.
KAHMI lahir pada 1966. Enam puluh tahun kemudian, dunia yang kita hadapi tentu sudah sangat berbeda. Generasi hari ini hidup dalam era digital. Informasi dapat berpindah dalam hitungan detik. Media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecerdasan buatan berkembang dengan sangat cepat. Dunia kerja berubah. Persaingan semakin terbuka.
Di saat yang sama, persoalan bangsa juga tidak semakin sederhana. Kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, lapangan pekerjaan, pembangunan daerah, lingkungan, pertanian, kelautan, ekonomi masyarakat, hingga persoalan generasi muda masih membutuhkan perhatian.
Dalam situasi seperti ini, KAHMI memiliki tantangan untuk memastikan bahwa warisan intelektual dan pengabdian yang telah dibangun selama enam dekade tetap relevan. Bagi saya, KAHMI tidak harus selalu menjawab zaman dengan cara-cara lama. Justru pengalaman panjang yang dimiliki KAHMI seharusnya menjadi modal untuk melahirkan cara-cara baru.
Kita membutuhkan alumni yang tidak hanya mampu membaca perubahan, tetapi juga mampu memberikan gagasan dan terlibat dalam menyelesaikan persoalan yang muncul akibat perubahan tersebut.
Ada hal yang sering dibanggakan dari alumni HMI: banyak yang berada di posisi strategis. Tentu hal itu merupakan bagian dari perjalanan yang patut dicatat. Tetapi bagi saya sebagai kader, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar posisi: apa yang dilakukan dengan posisi tersebut? Jabatan pada akhirnya akan berganti. Kekuasaan memiliki batas waktu. Karier juga memiliki akhir. Tetapi gagasan dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat dapat bertahan jauh lebih lama.
Karena itu, saya berharap generasi alumni HMI tidak hanya dikenal karena posisi yang pernah ditempati, tetapi karena kontribusi yang pernah diberikan. Di situlah saya kira makna pengabdian menemukan bentuknya.
HMI mengajarkan kita untuk berdiskusi dan berbeda pendapat. KAHMI kemudian memperlihatkan bahwa perbedaan itu bisa menjadi semakin luas ketika para alumni masuk ke berbagai bidang kehidupan. Pilihan politik bisa berbeda, profesi bisa berbeda, cara melihat persoalan juga bisa berbeda. Tetapi perbedaan tidak seharusnya membuat kita kehilangan persaudaraan. Justru setelah menjadi alumni, semangat persaudaraan itu semakin penting untuk dijaga.
KAHMI memiliki kesempatan untuk menjadi ruang di mana perbedaan tidak selalu berakhir dengan jarak. Kita boleh tidak sepakat dalam banyak hal, tetapi tetap bisa duduk bersama. Kita boleh memiliki jalan yang berbeda, tetapi tetap mengingat bahwa kita pernah tumbuh dari rahim perkaderan yang sama.
Hari ini kami yang masih menjadi kader mungkin belum mengetahui akan berada di mana sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Mungkin ada yang menjadi akademisi, mungkin ada yang masuk pemerintahan, mungkin ada yang menjadi pengusaha, mungkin ada yang menjadi profesional, dan mungkin ada yang tetap memilih jalan aktivisme. Tidak ada yang tahu.
Tetapi satu hal yang pasti, perjalanan hari ini sedang mempersiapkan kami untuk memasuki ruang pengabdian yang lebih luas.
Karena itu, KAHMI memiliki peran penting dalam perjalanan tersebut. Kami tidak membutuhkan senior yang hanya hadir sebagai simbol. Kami membutuhkan senior yang mau berbagi pengalaman. Kami membutuhkan ruang dialog. Kami membutuhkan kritik yang jujur. Kami membutuhkan keteladanan.
Dan yang paling penting, kami membutuhkan keyakinan bahwa kader-kader hari ini juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjalanan panjang yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
Regenerasi bukan tentang siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda. Regenerasi adalah tentang bagaimana nilai dan semangat pengabdian dapat terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Silaturahmi juga tidak seharusnya berhenti pada pertemuan dan foto bersama. Dari silaturahmi seharusnya lahir kerja bersama. Dari diskusi seharusnya lahir gagasan. Dari gagasan seharusnya lahir program. Dan dari program seharusnya lahir manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.
KAHMI memiliki sumber daya manusia yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikonsolidasikan menjadi kekuatan sosial yang produktif. Bayangkan jika alumni dari berbagai bidang keahlian dapat duduk bersama membicarakan persoalan pendidikan, pertanian, kelautan, ekonomi masyarakat, teknologi, lingkungan, kesehatan, pembangunan daerah, dan berbagai persoalan lainnya. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi untuk mencari apa yang bisa dikerjakan bersama.
Enam puluh tahun KAHMI bagi saya bukan hanya tentang melihat ke belakang. Justru ini saat yang tepat untuk melihat ke depan.
Apa yang akan kita lakukan dalam sepuluh tahun berikutnya? Bagaimana KAHMI menghadapi perubahan teknologi? Bagaimana alumni HMI dapat memberikan kontribusi terhadap persoalan ekonomi masyarakat? Bagaimana KAHMI dapat memperkuat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia? Bagaimana alumni dapat menjadi bagian dari penyelesaian persoalan lingkungan, pertanian, kelautan, dan pembangunan daerah? Bagaimana hubungan antara alumni dan kader dapat semakin dekat dan produktif?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Tetapi organisasi yang panjang umurnya adalah organisasi yang tidak takut mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri. Karena itu, pada usia 60 tahun, saya berharap KAHMI terus berani melakukan refleksi. Tidak perlu merasa bahwa perjalanan selama enam dekade sudah selesai. Justru sejarah panjang itu harus menjadi energi untuk melangkah lebih jauh.
Sebagai kader HMI, saya ingin menyampaikan bahwa perjalanan para alumni adalah bagian dari inspirasi kami. Kami belajar dari apa yang telah dilakukan. Kami juga belajar dari kekurangan dan tantangan yang pernah dihadapi. Kami berharap KAHMI terus menjadi rumah besar yang tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi masa depan.
Sebab suatu hari nanti, kader-kader yang hari ini masih duduk dalam forum-forum perkaderan, berdiskusi sampai larut malam, berdebat tentang gagasan, dan belajar memahami persoalan bangsa, akan sampai pada fase yang sama. Kami pun akan menjadi alumni. Dan ketika hari itu tiba, semoga kami tidak hanya mewarisi nama dan sejarah HMI. Semoga kami juga mampu mewarisi semangat pengabdian.
Enam puluh tahun telah berlalu. Bagi kami yang masih menjadi kader, perjalanan itu adalah sejarah yang harus dipelajari. Bagi para alumni, perjalanan itu adalah pengabdian yang terus dilanjutkan. Dan bagi generasi berikutnya, perjalanan itu adalah amanah yang suatu saat akan kami teruskan.
Teruslah menjadi rumah bagi alumni, ruang belajar bagi kader, dan bagian dari perjalanan panjang Indonesia.
Selamat Dies Natalis ke-60 KAHMI.
17 September 1966 – 17 September 2026.
Yakin Usaha Sampai.
*Dean Hadi Pratama, Penulis adalah Wakil Bendahara Umum PB HMI Periode 2024–2026

Berita terkait