JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Iyeth Bustami, mendorong pemerintah memperluas program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) ke Provinsi Riau.

Dorongan tersebut disampaikan setelah Iyeth menemukan persoalan penumpukan sampah yang cukup serius saat melakukan kunjungan ke daerah pemilihannya di Kepulauan Meranti, Riau.

Ia mengungkapkan, terdapat gunungan sampah di atas lahan sekitar dua hektare. Kondisi tersebut dinilai semakin memprihatinkan karena lokasi berada di kawasan tanah gambut dan telah berdampak terhadap masyarakat sekitar.

“Saat melakukan kunjungan ke Kepulauan Meranti, saya melihat sampah yang semakin menggunung di atas lahan sekitar dua hektare. Kondisinya sangat memprihatinkan karena berada di kawasan tanah gambut,” ujar Iyeth saat Rapat Dengar Pendapat dengan Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Air Lindi Cemari Sumur Warga

Menurut Iyeth, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut pemandangan atau estetika lingkungan. Timbunan sampah juga telah menimbulkan dampak langsung terhadap masyarakat.

Ia menyebut air lindi dari tumpukan sampah telah mencemari tanah dan sumur warga. Sementara bau menyengat dari lokasi pembuangan turut mengganggu kehidupan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

“Air lindi dari tumpukan sampah ini sangat mengganggu masyarakat. Tanahnya tercemar, air sumurnya tercemar, dan baunya menyebar ke mana-mana,” katanya.

Atas kondisi tersebut, Iyeth meminta pemerintah pusat turun langsung melihat persoalan persampahan di Kepulauan Meranti. Ia berharap pemerintah dapat melakukan kajian untuk menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi daerah.

“Kalau memang persyaratannya terpenuhi, saya kira Riau juga harus mendapatkan perhatian. Saya meminta Ibu Deputi turun langsung atau mengirimkan staf ke Kepulauan Meranti. Lihat kondisi di sana, kaji kebutuhannya, dan kalau memungkinkan segera siapkan langkah penanganannya,” tegasnya.

Pekanbaru Dinilai Butuh Pengelolaan Modern

Selain Kepulauan Meranti, Iyeth meminta pemerintah mempertimbangkan Kota Pekanbaru sebagai salah satu wilayah yang dapat menerapkan program PSEL.

Menurutnya, volume sampah di Pekanbaru yang mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 ton per hari membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih modern dan berkelanjutan.

PSEL sendiri merupakan metode pengelolaan sampah yang memanfaatkan sampah sebagai sumber energi, termasuk untuk menghasilkan listrik. Namun, Iyeth menekankan penerapannya harus mempertimbangkan kesiapan masing-masing daerah, mulai dari volume dan karakteristik sampah hingga infrastruktur serta aspek lingkungan.

“Persoalan sampah tidak bisa hanya dengan memindahkan sampah dari permukiman ke TPA. Harus ada pengelolaan dari hulu hingga hilir, mulai dari pengurangan, pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali,” ujarnya.

Minta Truk Sampah untuk Riau

Iyeth juga meminta pemerintah memperkuat sarana dasar persampahan di Riau. Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah penambahan armada pengangkut sampah.

Menurutnya, keterbatasan jumlah truk membuat proses pengangkutan sampah di sejumlah daerah belum berjalan optimal. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperbesar persoalan penumpukan sampah.

“Kalau memungkinkan, saya minta dukungan anggaran untuk pengadaan truk sampah juga diberikan kepada Riau. Ini kebutuhan yang sangat konkret dan langsung dirasakan masyarakat,” katanya.

Riau Jangan Tertinggal Teknologi Sampah

Iyeth menegaskan Riau harus mendapatkan perhatian serius dalam pengembangan teknologi pengelolaan sampah. Ia menilai persoalan lingkungan perlu ditangani sejalan dengan posisi Riau sebagai salah satu daerah yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Karena itu, ia menilai permintaan agar teknologi pengolahan sampah dikembangkan di Riau merupakan kebutuhan untuk menjawab persoalan lingkungan yang dirasakan masyarakat.

“Riau merupakan salah satu penopang perekonomian nasional. Karena itu, kalau kami meminta teknologi pengolahan sampah juga masuk ke Riau, saya rasa itu bukan permintaan yang berlebihan,” pungkas Iyeth (red)