BOGOR, BERITA SENAYAN — Komisi III DPRD Kabupaten Bangka Barat melakukan kunjungan ke Sekretariat Bank Sampah Kumpul Mutiara, Bogor, pada Jumat (28/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi para legislator untuk menggali pengalaman pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah dijalankan Bank Sampah Kumpul Mutiara.

Direktur Bank Sampah Kumpul Mutiara, Indah Purwaningsih, menyambut positif kedatangan rombongan Komisi III DPRD Bangka Barat. Ia berharap kunjungan tersebut dapat menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan.

“Kami berharap bisa saling berbagi pengalaman dan juga bisa menyerap ilmu, sharing ilmu, bagaimana cara mengelola sampah untuk kelestarian lingkungan kita,” ujar Indah saat menerima kunjungan tersebut.

Menurut Indah, Bank Sampah Kumpul Mutiara dibangun dari semangat warga untuk menangani persoalan sampah secara langsung dari sumbernya. Meski baru berjalan sekitar empat tahun, kegiatan tersebut kini berkembang dengan melibatkan 12 pengurus sukarela.

Kunjungan Komisi III DPRD Bangka Barat dinilai relevan karena persoalan lingkungan dan kebersihan menjadi bagian dari ruang lingkup kerja komisi tersebut. Melalui kunjungan lapangan, para legislator dapat melihat secara langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan dengan melibatkan masyarakat.

Belajar dari Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

Dalam kunjungan tersebut, Bank Sampah Kumpul Mutiara memperkenalkan proses pemilahan dan pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik.

Indah menjelaskan, pengelolaan sampah organik telah dikembangkan hingga menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat. Sementara sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dikelola melalui sistem bank sampah.

“Kami mengelola sampah, memilah sampah, sampah organik dan juga sampah anorganik. Alhamdulillah sampai saat ini kami sudah memproduksi pupuk cair dan pupuk padat dari pengelolaan sampah organik,” jelasnya.

Bank Sampah Kumpul Mutiara sebelumnya hanya melayani lingkungan RT 02. Namun, cakupan kegiatannya kini berkembang hingga sejumlah RT di RW 11 dan mulai merambah lingkungan RW 12.

Saat ini tercatat 68 nasabah yang terlibat dalam kegiatan bank sampah tersebut.

Menurut Indah, pertumbuhan jumlah nasabah menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah dari rumah mulai tumbuh.

Komitmen Pengelolaan Sampah Jadi Pembelajaran

Selain melihat proses pengelolaan sampah, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Komisi III DPRD Bangka Barat untuk mempelajari bagaimana keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan utama dalam menangani persoalan sampah.

Indah mengatakan keberadaan bank sampah tidak terlepas dari kerja sukarela para pengurus. Sejak awal berdiri, para pengurus belum mendapatkan gaji dan tetap menjalankan kegiatan dengan semangat menjaga lingkungan.

“Awalnya empat-lima orang, tapi alhamdulillah sekarang menjadi 12 pengurus bank sampah, yang semuanya itu bekerja sukarela, tanpa digaji sepeser pun,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian hasil dari kegiatan bank sampah digunakan kembali untuk mendukung operasional dan pengembangan fasilitas pengolahan sampah.

Bank Sampah Kumpul Mutiara juga mendapat dukungan Baznas Provinsi Jawa Barat berupa sejumlah peralatan, antara lain mesin pencacah dan alat pres. Peralatan tersebut kemudian turut didistribusikan kepada RT yang memiliki komitmen untuk menjalankan pemilahan sampah.

Indah berharap pengalaman yang dibagikan dalam kunjungan tersebut dapat menjadi referensi bagi Komisi III DPRD Bangka Barat dalam melihat peluang pengembangan pengelolaan sampah di daerah.

“Kami sangat berterima kasih atas kunjungannya. Semoga bisa menjadi proses pembelajaran bersama dalam mengelola sampah untuk kelestarian lingkungan,” pungkasnya.

Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, legislatif, komunitas, dan warga, persoalan sampah diharapkan dapat ditangani secara lebih terstruktur dan berkelanjutan (red)