JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar Adela Kanasya Adies mendorong penguatan literasi nasional tidak hanya dilakukan melalui perpustakaan, tetapi juga diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi.
Menurut Adela, pengembangan budaya membaca harus berjalan beriringan dengan pembentukan kemampuan literasi yang sistematis. Literasi, kata dia, bukan sekadar kemampuan membaca buku, melainkan menjadi fondasi bagi generasi muda untuk berpikir kritis, mengevaluasi informasi, serta menghadapi berbagai tantangan di era digital.
“Dalam rangka meningkatkan literasi bagi generasi muda di Indonesia, diperlukan upaya yang sistematis dan terencana, yaitu selain aspek pengembangan budaya membaca dilakukan melalui Perpustakaan, juga diperlukan pengembangan literasi dengan memasukkan agenda literasi di dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah dan kampus,” ujar Adela dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Berita Senayan, Senin (24/8/2026).
Adela menilai integrasi literasi ke dalam pendidikan formal penting karena sekolah dan kampus merupakan ruang strategis dalam membentuk pola pikir serta kebiasaan belajar generasi muda. Dengan demikian, literasi tidak berhenti sebagai program tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan sehari-hari.
Ia mengatakan kemampuan literasi memiliki keterkaitan erat dengan daya saing sumber daya manusia. Generasi yang memiliki kemampuan membaca, memahami, mengolah, dan mengevaluasi informasi dinilai akan lebih siap menghadapi perubahan zaman serta perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Adela juga menyoroti masih adanya tantangan serius dalam kemampuan literasi masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil PISA 2022 yang diselenggarakan OECD, skor membaca siswa Indonesia usia 15 tahun tercatat 359 poin, masih jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 476 poin.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan budaya membaca perlu dibarengi dengan strategi pendidikan yang lebih komprehensif. Literasi harus hadir dalam proses pembelajaran agar kemampuan memahami informasi dapat berkembang sejak usia sekolah dan terus diperkuat ketika memasuki perguruan tinggi.
Di sisi lain, Adela menegaskan peran perpustakaan tetap penting dalam ekosistem literasi nasional. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyedia buku, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran, pengembangan komunitas baca, dan akses pengetahuan bagi masyarakat.
Karena itu, ia mendorong adanya sinergi antara sekolah, kampus, perpustakaan, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat dalam membangun budaya literasi.
Adela juga mengingatkan bahwa penguatan literasi harus memperhatikan kesenjangan akses antardaerah. Distribusi perpustakaan di Indonesia masih belum merata, sehingga pengembangan literasi tidak boleh hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Ia berharap Komisi X DPR RI bersama pemerintah dapat terus mendorong kebijakan yang mampu memperkuat ekosistem literasi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Untuk dapat meningkatkan literasi generasi muda, diperlukan berbagai dukungan dari berbagai pihak, baik pusat, daerah sampai dengan desa/kelurahan dan masyarakat,” kata Adela.
Menurutnya, penguatan literasi melalui pendidikan formal dan perpustakaan pada akhirnya harus diarahkan pada satu tujuan, yakni membentuk generasi muda yang mampu berpikir kritis, memiliki kemampuan mengelola informasi, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun global.
Dengan memasukkan literasi ke dalam kurikulum sekolah dan kampus, Adela berharap budaya membaca tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian fundamental dari pembangunan kualitas manusia Indonesia (red)

Berita terkait