JAKARTA, BERITA SENAYAN – Penguatan mitigasi bencana dinilai tidak cukup hanya mengandalkan teknologi peringatan dini. Kesiapsiagaan masyarakat sejak usia dini juga menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko ketika gempa bumi terjadi.
Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah mendorong pemerintah memasukkan edukasi mitigasi bencana ke dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, pembiasaan sejak dini akan membuat anak-anak lebih memahami langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
“Edukasi mitigasi bencana harus diberikan sejak usia dini. Kalau sudah diajarkan di sekolah, anak-anak akan terbiasa memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” ujar Musa di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Gempa Harus Jadi Pelajaran Kesiapsiagaan
Musa mengatakan Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, termasuk gempa bumi. Karena itu, pengetahuan mengenai mitigasi seharusnya tidak hanya disampaikan ketika terjadi bencana, tetapi menjadi bagian dari pendidikan yang diterima siswa secara berkelanjutan.
Menurut Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut, anak-anak perlu memahami berbagai tindakan dasar ketika gempa terjadi, mulai dari cara menyelamatkan diri, mencari tempat aman, hingga mengikuti prosedur evakuasi.
Dengan pembelajaran yang dilakukan secara rutin, kesiapsiagaan menghadapi bencana diharapkan tidak berhenti pada teori. Anak-anak dapat memiliki refleks dan pemahaman yang lebih baik ketika menghadapi kondisi darurat.
“Kalau sudah diajarkan di sekolah, anak-anak akan terbiasa memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” tegasnya.
Teknologi Peringatan Dini Harus Diperkuat
Selain memperkuat pendidikan kebencanaan, Musa juga menilai pemerintah perlu meningkatkan sistem peringatan dini gempa berbasis teknologi digital.
Ia menyoroti perlunya integrasi sistem BMKG dengan jaringan telekomunikasi sehingga masyarakat dapat menerima peringatan secara langsung melalui telepon seluler.
“Sekarang kita sudah memasuki era digital. Apakah provider bisa dikoneksikan dengan BMKG?” kata Musa.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi instrumen penting untuk memperpendek waktu antara terjadinya gempa dan diterimanya informasi oleh masyarakat.
Ia mencontohkan sistem peringatan gempa di Jepang yang mampu memberikan alert langsung ke telepon seluler masyarakat, lengkap dengan informasi mengenai lokasi dan kekuatan gempa.
“Kita belum seperti itu, padahal alatnya sudah ada,” ujarnya.
Peringatan Cepat Harus Diikuti Masyarakat Siaga
Dorongan tersebut disampaikan di tengah tingginya aktivitas gempa di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk gempa bermagnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga 18 Agustus 2026, tercatat 2.119 gempa susulan dengan magnitudo 1,3 hingga 6,2.
Bagi Musa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan mitigasi tidak dapat ditunda. Sistem peringatan dini harus diperkuat, sementara masyarakat harus dibekali pengetahuan agar mampu merespons informasi kebencanaan secara tepat.
Ia menegaskan, teknologi dan pendidikan harus berjalan beriringan. Peringatan yang cepat tidak akan maksimal apabila masyarakat tidak memahami apa yang harus dilakukan setelah menerima informasi tersebut.
“Penguatan sistem peringatan dini dan edukasi masyarakat harus berjalan beriringan,” pungkas Musa.
Dengan pendekatan tersebut, mitigasi bencana diharapkan tidak hanya berorientasi pada respons setelah bencana terjadi, tetapi juga membangun budaya kesiapsiagaan masyarakat sejak dari lingkungan sekolah (red)

Berita terkait