JAKARTA, BERITA SENAYAN – Lembaga Kajian Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial (LKPES) Sulawesi Tengah merilis hasil riset terbaru yang menempatkan Dedi Mulyadi sebagai figur dengan sinyal potensi terkuat menuju Pemilihan Presiden 2029. Melalui Indeks Sinyal Potensi 2029 (ISP-2029), Dedi mencatatkan nilai 83,5 poin, jauh di atas Prabowo Subianto yang memperoleh 44,9 poin dan Anies Baswedan dengan 37,4 poin.

Direktur LKPES Sulawesi Tengah, Salihudin, menegaskan bahwa angka tersebut bukan menggambarkan tingkat elektabilitas, melainkan indeks internal yang mengukur kombinasi kekuatan survei terbaru dan performa digital para tokoh nasional.

“Temuan LKPES menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi mempunyai kombinasi paling kuat antara momentum survei terbaru, pertumbuhan pengikut, dan pola komunikasi yang menampilkan tindakan langsung. Namun, nilai 83,5 itu bukan berarti elektabilitas Dedi sebesar 83,5 persen. Angka tersebut merupakan poin indeks internal LKPES,” kata Salihudin dalam keterangan tertulis yang diterima Berita Senayan, Jumat (31/7/2026).

Dalam pemeringkatan ISP-2029, posisi berikutnya ditempati Gibran Rakabuming Raka dengan 30,3 poin, Ganjar Pranowo 29,0 poin, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 23,8 poin, dan Mahfud MD 17,2 poin.

Hasil Survei LKPES

Hasil Survei LKPES

Gabungan Survei dan Kekuatan Digital

LKPES menjelaskan, ISP-2029 disusun dengan formula yang menggabungkan 60 persen hasil survei nasional paling mutakhir dan 40 persen indikator digital, meliputi jangkauan akun media sosial, tingkat keterlibatan (engagement), serta pertumbuhan pengikut Instagram hingga Juli 2026.

Menurut Salihudin, hasil tersebut menunjukkan setiap tokoh memiliki sumber kekuatan politik yang berbeda.

Dedi Mulyadi dinilai unggul karena berhasil menggabungkan momentum elektoral dengan pertumbuhan digital yang kuat. Konten komunikasi politiknya banyak menampilkan aksi langsung di lapangan, mulai dari isu pendidikan, lingkungan, infrastruktur hingga transparansi anggaran.

Sementara itu, Prabowo Subianto dinilai tetap memiliki modal besar dari sisi rekam historis dan jangkauan komunikasi publik. Dengan sekitar 14,72 juta pengikut Instagram, Prabowo menjadi figur dengan basis digital terbesar dalam riset tersebut.

Namun, statusnya sebagai Presiden juga membuat penilaian publik terhadap kinerja pemerintahan ikut memengaruhi potensi politiknya menjelang 2029.

Di sisi lain, Anies Baswedan disebut memiliki basis pendukung yang relatif stabil dengan tingkat keterlibatan digital tinggi. Narasi politik Anies masih didominasi isu pendidikan, gagasan publik, diaspora, serta jaringan relawan.

“Dedi saat ini kuat pada momentum, Prabowo kuat pada jangkauan dan rekam historis, sedangkan Anies kuat pada stabilitas basis dan keterlibatan pendukung. Ketiganya memiliki modal yang berbeda, tetapi juga menghadapi tantangan yang berbeda,” jelas Salihudin.

Prabowo Unggul dalam Rekam Historis

Selain ISP-2029, LKPES juga menyusun Indeks Ringkasan Survei Sekunder (IRSS-LKPES) untuk memotret rekam posisi tiga tokoh utama sepanjang Februari hingga Juli 2026.

Dalam indeks tersebut, Prabowo Subianto berada di posisi teratas dengan 25,0 poin, disusul Dedi Mulyadi 20,0 poin, dan Anies Baswedan 9,2 poin.

Menurut LKPES, hasil tersebut menunjukkan Prabowo masih memiliki kekuatan paling konsisten jika dilihat dari akumulasi berbagai survei nasional selama enam bulan terakhir.

Gibran dan Ganjar Bersaing Ketat

Riset LKPES juga menemukan persaingan yang relatif ketat antara Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo.

Gibran memperoleh 30,3 poin, unggul tipis atas Ganjar yang meraih 29,0 poin. Gibran dinilai memiliki keunggulan dari sisi momentum survei, posisi sebagai Wakil Presiden, serta narasi regenerasi kepemimpinan.

Sebaliknya, Ganjar dinilai unggul pada tingkat keterlibatan digital dan gaya komunikasi yang lebih personal sehingga mudah diterima publik di media sosial.

Peta Politik Masih Sangat Dinamis

LKPES menegaskan peta menuju Pilpres 2029 masih sangat cair. Belum ada figur yang dapat dianggap berada pada posisi aman karena tahapan pemilu masih panjang, koalisi partai belum terbentuk, dan calon resmi belum ditetapkan.

“Riset ini tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang pasti menjadi Presiden pada 2029. Temuan LKPES merupakan peta awal untuk melihat siapa yang sedang memiliki momentum, dari mana kekuatan setiap figur berasal, dan indikator apa yang perlu dipantau dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Salihudin.

LKPES juga mengingatkan bahwa seluruh data yang digunakan bersumber dari survei nasional sehingga tidak dapat langsung dijadikan gambaran preferensi politik masyarakat Sulawesi Tengah tanpa survei khusus di tingkat daerah (red)