JAKARTA, BERITA SENAYAN – Direktur Lembaga Kajian Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial (LKPES) Sulawesi Tengah, Salihudin, menilai Presiden Prabowo Subianto masih menjadi figur dengan rekam historis politik paling kuat dalam kontestasi menuju Pemilihan Presiden 2029. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keunggulan tersebut tidak otomatis mencerminkan elektabilitas terkini.
Temuan tersebut merupakan bagian dari riset LKPES yang menyusun Indeks Ringkasan Survei Sekunder (IRSS-LKPES) berdasarkan akumulasi hasil survei nasional sepanjang Februari hingga Juli 2026.
“Prabowo memperoleh nilai tertinggi dalam ringkasan historis survei yang kami susun. Namun perlu ditegaskan, ini bukan berarti beliau memiliki elektabilitas tertinggi saat ini, melainkan memiliki rekam dukungan paling kuat berdasarkan data beberapa periode survei,” kata Salihudin dalam keterangan tertulis yang diterima Berita Senayan, Jumat (31/7/2026).
Dalam IRSS-LKPES, Prabowo mencatat 25,0 poin, mengungguli Dedi Mulyadi yang memperoleh 20,0 poin, serta Anies Baswedan dengan 9,2 poin.
Menurut Salihudin, keunggulan Prabowo didukung oleh dua faktor utama, yakni jangkauan komunikasi digital yang sangat luas serta konsistensi tingkat dukungan dalam berbagai survei nasional.
Dengan sekitar 14,72 juta pengikut Instagram, Prabowo menjadi figur dengan jangkauan media sosial terbesar dibanding enam tokoh lain yang dianalisis LKPES. Statusnya sebagai Presiden RI juga memberikan ruang komunikasi publik yang lebih besar melalui berbagai agenda pemerintahan.
Namun, Salihudin mengingatkan bahwa posisi tersebut juga menghadirkan tantangan politik yang tidak ringan.
“Sebagai kepala pemerintahan, seluruh kebijakan ekonomi, penegakan hukum, stabilitas nasional, hingga program prioritas pemerintah akan selalu dikaitkan langsung dengan Presiden. Karena itu, perubahan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah akan sangat memengaruhi potensi politik beliau menuju 2029,” ujarnya.
LKPES juga menilai peta persaingan menuju Pilpres 2029 masih sangat terbuka. Belum adanya koalisi permanen, tahapan pemilu yang masih panjang, serta dinamika politik nasional membuat seluruh figur masih memiliki peluang yang sama untuk meningkatkan maupun kehilangan dukungan.
“Belum ada figur yang bisa dianggap aman. Politik masih sangat cair dan seluruh indikator masih bisa berubah dalam beberapa tahun ke depan,” jelas Salihudin.
Ia menegaskan, riset LKPES tidak dimaksudkan untuk memprediksi siapa yang akan memenangkan Pilpres 2029, melainkan memotret sumber kekuatan politik masing-masing tokoh berdasarkan kombinasi data survei dan perkembangan komunikasi publik.
“Temuan ini adalah peta awal untuk membaca modal politik setiap figur. Momentum politik, kinerja pemerintahan, strategi komunikasi, hingga dinamika koalisi masih akan menjadi faktor penentu dalam perjalanan menuju 2029,” pungkasnya (red)

Berita terkait