JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, menegaskan bahwa arah pengembangan pariwisata Indonesia harus mulai berfokus pada kualitas wisatawan dan dampak ekonomi yang dihasilkan, bukan hanya mengejar tingginya angka kunjungan turis mancanegara.
Pernyataan tersebut disampaikan Chusnunia saat menanggapi data Direktorat Jenderal Imigrasi terkait kebijakan bebas visa yang dinilai bukan faktor utama meningkatnya jumlah wisatawan asing ke Indonesia.
“Kita harus terus mendorong pergeseran strategi pariwisata dari sekadar mengejar jumlah kunjungan (mass tourism) menjadi fokus pada kualitas, pengalaman, keberlanjutan lingkungan, dan dampak ekonomi yang lebih besar,” ujar Chusnunia di Jakarta, Jum’at (08/05).
Politikus yang akrab disapa Nunik itu menilai paradigma quality tourism menjadi kebutuhan penting agar sektor pariwisata Indonesia mampu bersaing secara global sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah tujuan wisata.
Menurutnya, wisatawan asing saat ini lebih memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan, kualitas layanan, hingga pengalaman selama berada di Indonesia dibanding hanya kemudahan akses visa.
Karena itu, ia menilai kebijakan bebas visa tetap diperlukan, namun harus diterapkan secara lebih selektif berdasarkan negara asal wisatawan yang potensial memberikan kontribusi ekonomi dan kualitas kunjungan yang baik.
“Bukan berarti kebijakan bebas visa harus dihapus, tetapi perlu lebih selektif agar benar-benar mendukung pengembangan pariwisata berkualitas,” tegasnya.
Chusnunia juga menyinggung arah pembangunan pariwisata nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan sebagai prioritas utama pemerintah.
Ia menilai keberhasilan sektor pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari besarnya dampak ekonomi terhadap masyarakat lokal serta kemampuan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Quality tourism ini bukan hanya tentang jumlah kunjungan, tetapi bagaimana destinasi kita mampu memberikan pengalaman unik, bernilai tinggi, dan berdampak pada perekonomian masyarakat,” pungkasnya (red)

Berita terkait