JAKARTA, BERITA SENAYAN – Partai Golkar menyiapkan 17 program Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus) sebagai bagian dari strategi memperluas kaderisasi sekaligus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat yang bersimpati terhadap partai. Melalui pendekatan ini, Golkar ingin menjangkau kelompok masyarakat dengan beragam minat, keahlian, dan latar belakang tanpa mewajibkan mereka menjadi anggota resmi partai.
Direktur Akademi Partai Golkar, Hajriyanto Y. Thohari, mengungkapkan program tersebut saat memberikan sambutan dalam pembukaan Kaderisasi Komunitas Workshop Jurnal Populer Ilmiah di Aula Golkar Institute, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Membangun Tradisi Gagasan, Memperkuat Kepemimpinan Intelektual Organisasi” itu merupakan salah satu dari 17 program Diklatsus yang dikembangkan Akademi Partai Golkar untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan organisasi.
Hajriyanto menjelaskan, pengembangan program tersebut merupakan bagian dari pembaruan sistem kaderisasi Golkar. Jika sebelumnya keorganisasian partai lebih berfokus pada anggota dan kader, kini Golkar menambahkan kategori simpatisan sebagai kelompok yang dapat dilibatkan dalam berbagai aktivitas partai.
“Pada periode ini kita menambah kategori yang ketiga, yaitu simpatisan Partai Golkar,” ujar Hajriyanto.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi respons terhadap kecenderungan menurunnya minat masyarakat untuk menjadi anggota partai politik sebagaimana tergambar dalam berbagai survei.
Karena itu, Golkar berupaya membangun pola pendekatan yang lebih fleksibel dengan memberikan ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi melalui kegiatan berbasis minat, pengetahuan, dan kompetensi.
17 Diklatsus Sasar Beragam Minat dan Keahlian
Hajriyanto menegaskan, kaderisasi partai tidak harus selalu dilakukan melalui jalur formal. Pendidikan dan pelatihan informal dapat menjadi sarana untuk mempertemukan partai dengan masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap bidang tertentu.
Akademi Partai Golkar pun mengembangkan 17 program Diklatsus yang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta memperdalam pengetahuan sekaligus berkontribusi dalam pengembangan organisasi.
Salah satu program yang mulai dijalankan adalah Workshop Jurnal Populer Ilmiah, yang diselenggarakan melalui kerja sama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
Program tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan literasi, menulis, dan mengembangkan gagasan yang dapat dituangkan dalam publikasi ilmiah populer. Hasil workshop diharapkan menjadi fondasi bagi pembentukan tim pengelola jurnal populer ilmiah Akademi Partai Golkar.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Namun, karena keterbatasan kapasitas ruangan, panitia hanya memilih 30 peserta untuk mengikuti pelatihan.
Hajriyanto berharap program ini tidak berhenti pada pelaksanaan workshop, tetapi berkembang menjadi komunitas yang produktif dan mampu menghasilkan karya intelektual secara berkelanjutan.
Selain bidang jurnal dan literasi, Akademi Partai Golkar juga berencana mengembangkan komunitas berdasarkan minat serta keahlian lainnya, termasuk kajian geopolitik.
Melalui beragam program tersebut, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak pilihan untuk terlibat dalam kegiatan pengembangan pengetahuan dan kapasitas organisasi.
Simpatisan Tak Wajib Jadi Anggota Golkar
Salah satu poin penting dalam pembaruan kaderisasi ini adalah terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi simpatisan tanpa harus mendaftarkan diri sebagai anggota resmi Partai Golkar.
Hajriyanto menilai, pendekatan tersebut memungkinkan partai menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan aspirasi atau ketertarikan terhadap program dan gagasan Golkar, tetapi belum tentu ingin terikat dalam keanggotaan formal.
“Jadi sebenarnya tidak harus masuk sebagai anggota Partai Golkar. Kalau masuk, boleh saja. Tapi kalau tidak masuk, tidak apa-apa. Namun, bisa menjadi simpatisan Partai Golkar,” tuturnya.
Dengan model ini, keterlibatan masyarakat dapat dibangun melalui aktivitas komunitas, pelatihan, pertukaran gagasan, dan pengembangan keahlian. Partisipasi publik tidak semata-mata diukur dari jumlah anggota, tetapi juga dari kontribusi nyata masyarakat dalam berbagai kegiatan.
Hajriyanto juga menekankan bahwa partai politik membutuhkan kader dengan kemampuan yang beragam. Selain individu yang dipersiapkan untuk menduduki jabatan legislatif dan eksekutif, organisasi juga memerlukan sumber daya manusia yang mampu mengelola partai, mengembangkan pemikiran strategis, serta memperkuat tradisi intelektual.
Karena itu, pengembangan 17 Diklatsus diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kaderisasi yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perubahan.
Melalui strategi tersebut, Akademi Partai Golkar berupaya memperluas jangkauan organisasi dengan menjadikan pendidikan, komunitas, dan pengembangan keahlian sebagai pintu masuk bagi masyarakat untuk berpartisipasi.
Pengembangan 17 program kaderisasi khusus ini sekaligus menempatkan simpatisan sebagai bagian penting dari strategi Golkar untuk memperluas partisipasi publik, membangun komunitas berbasis kompetensi, dan memperkuat kapasitas intelektual organisasi (red)

Berita terkait