JAKARTA, BERITA SENAYAN – Direktur Akademi Partai Golkar, Hajriyanto Y. Thohari, mengungkapkan langkah baru Partai Golkar dalam memperkuat tradisi intelektual dan pengembangan sumber daya manusia melalui rencana penerbitan jurnal populer ilmiah. Inisiatif tersebut diharapkan menjadi terobosan dalam membangun budaya berpikir kritis, memperluas ruang pertukaran gagasan, sekaligus memperkuat kepemimpinan intelektual di lingkungan partai politik.
Hal itu disampaikan Hajriyanto saat membuka kegiatan Kaderisasi Komunitas Workshop Jurnal Populer Ilmiah yang diselenggarakan Akademi Partai Golkar bekerja sama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), di Aula Golkar Institute, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Kegiatan bertema “Membangun Tradisi Gagasan, Memperkuat Kepemimpinan Intelektual Organisasi” tersebut menjadi bagian dari upaya Akademi Partai Golkar menghadirkan model kaderisasi yang tidak hanya berorientasi pada kepemimpinan politik praktis, tetapi juga penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan literasi, dan pengembangan pemikiran strategis.
Dalam sambutannya, Hajriyanto menyampaikan apresiasi atas kesediaan LP3ES menjalin kerja sama dengan Akademi Partai Golkar. Menurutnya, pengalaman panjang LP3ES sebagai lembaga penelitian dan pengkajian menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan institusi pendidikan kader di lingkungan Partai Golkar.
Ia menilai keberadaan LP3ES yang telah bertahan sejak 1971 menunjukkan konsistensi lembaga tersebut dalam mengembangkan tradisi penelitian dan pemikiran di Indonesia.
“Kesediaan LP3ES untuk bekerja sama dengan Partai Golkar ini merupakan kehormatan yang sangat besar. Sebagai badan atau lembaga baru di dalam Partai Golkar, kami belum memiliki pengalaman yang cukup untuk mengembangkan Akademi Partai Golkar sebagai kawah candradimuka kaderisasi,” ujar Hajriyanto.
Golkar Siapkan Jurnal Populer Ilmiah, Bidik Terobosan Baru Partai Politik
Hajriyanto menjelaskan, salah satu agenda strategis Akademi Partai Golkar adalah menerbitkan jurnal populer ilmiah yang dapat menjadi wadah bagi akademisi, intelektual, praktisi, dan kader partai untuk menyampaikan gagasan serta pemikiran mengenai berbagai persoalan kebangsaan.
Ia berharap inisiatif tersebut dapat menjadikan Golkar sebagai salah satu pelopor penerbitan jurnal populer ilmiah yang dikelola secara kelembagaan oleh partai politik di Indonesia.
“Sejak awal, Akademi Partai Golkar ingin membuat sebuah jurnal. Kita berharap ini menjadi jurnal pertama yang diterbitkan oleh partai politik,” ungkapnya.
Menurut Hajriyanto, jurnal yang direncanakan tidak akan menggunakan pendekatan akademik yang terlalu kaku. Sebaliknya, jurnal tersebut diharapkan mampu menyajikan tulisan berbobot dengan bahasa yang lebih komunikatif sehingga dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
Ia mencontohkan jurnal internasional seperti Foreign Affairs yang menghadirkan pemikiran para akademisi, pengambil kebijakan, dan tokoh pemerintahan melalui tulisan yang relatif mudah diakses oleh pembaca umum.
Konsep tersebut dinilai relevan untuk membangun ruang diskusi intelektual yang mempertemukan dunia akademik dengan praktik pengambilan keputusan politik.
Hajriyanto juga menegaskan bahwa workshop ini bukan sekadar kegiatan pelatihan menulis, melainkan langkah awal membentuk tim yang akan bertanggung jawab mengelola jurnal populer ilmiah Akademi Partai Golkar.
“Dari workshop ini akan lahir sebuah tim yang nantinya mengelola jurnal. Para peserta workshop ini bisa bergabung di dalamnya,” jelasnya.
Antusiasme terhadap kegiatan tersebut terbilang tinggi. Namun, keterbatasan kapasitas ruangan membuat panitia harus melakukan seleksi peserta.
Dari banyaknya pendaftar, sebanyak 30 orang dipilih untuk mengikuti workshop dan mendapatkan pembekalan langsung dari para pengajar serta praktisi LP3ES.
Peserta yang terpilih berasal dari kalangan dengan latar belakang pendidikan dan kemampuan literasi yang dinilai dapat mendukung pengembangan jurnal.
Hajriyanto menambahkan, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan melalui pelatihan merupakan bentuk kontribusi berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Ia berharap kerja sama Akademi Partai Golkar dan LP3ES tidak berhenti pada kegiatan workshop, tetapi menghasilkan produk intelektual yang terus berkembang.
Hajriyanto Ungkap Strategi Kaderisasi Baru, Golkar Kini Rangkul Simpatisan
Selain mengungkap rencana penerbitan jurnal, Hajriyanto memaparkan pembaruan sistem kaderisasi Partai Golkar yang kini diarahkan untuk menjangkau masyarakat lebih luas.
Menurutnya, selama ini Golkar mengenal dua kategori utama dalam struktur keanggotaan, yakni anggota dan kader partai.
Anggota merupakan individu yang secara resmi bergabung dengan Partai Golkar. Sementara itu, kader adalah anggota yang telah mengikuti berbagai jenjang pendidikan dan pelatihan kaderisasi.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Golkar memperkenalkan kategori ketiga, yaitu simpatisan.
Hajriyanto menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan respons terhadap kecenderungan menurunnya minat masyarakat untuk menjadi anggota partai politik sebagaimana tergambar dalam berbagai survei.
Karena itu, partai politik perlu menghadirkan pendekatan baru yang memungkinkan masyarakat terlibat dalam kegiatan organisasi tanpa harus terlebih dahulu menjadi anggota resmi.
“Pada periode ini kita menambah kategori yang ketiga, yaitu simpatisan Partai Golkar,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, Golkar ingin membuka ruang partisipasi bagi masyarakat yang memiliki kesamaan aspirasi, ketertarikan, atau perhatian terhadap berbagai isu yang menjadi perhatian partai.
Salah satu implementasinya adalah pengembangan kaderisasi informal melalui pendidikan dan pelatihan khusus atau Diklatsus.
Hajriyanto mengungkapkan, Akademi Partai Golkar telah menyiapkan 17 jenis Diklatsus yang dirancang untuk mengakomodasi beragam minat dan kompetensi masyarakat.
Workshop Jurnal Populer Ilmiah merupakan salah satu program dalam skema tersebut.
Ke depan, Akademi Partai Golkar juga berencana mengembangkan berbagai komunitas berbasis minat, termasuk komunitas literasi, jurnal ilmiah, hingga kajian geopolitik.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi kalangan akademisi, profesional, generasi muda, dan masyarakat umum untuk berkontribusi dalam pengembangan gagasan serta pemikiran organisasi.
“Jadi sebenarnya tidak harus masuk sebagai anggota Partai Golkar. Kalau masuk, boleh saja. Tapi kalau tidak masuk, tidak apa-apa. Namun, bisa menjadi simpatisan Partai Golkar,” tutur Hajriyanto.
Lebih jauh, ia menilai pembaruan kaderisasi juga harus disertai evaluasi terhadap struktur dan kultur organisasi partai politik.
Menurutnya, partai tidak cukup hanya menyiapkan kader untuk menduduki jabatan legislatif maupun eksekutif, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan mengelola organisasi, mengembangkan pemikiran, serta merumuskan kebijakan strategis.
Karena itu, Akademi Partai Golkar diharapkan menjadi ruang pengembangan berbagai jenis kepemimpinan, mulai dari calon legislator, kepala daerah, diplomat, menteri, hingga pengelola organisasi partai.
Melalui pengembangan jurnal populer ilmiah dan pembentukan komunitas berbasis keahlian, Hajriyanto berharap Partai Golkar dapat memperkuat perannya sebagai organisasi politik yang tidak hanya berorientasi pada kontestasi elektoral, tetapi juga berkontribusi dalam produksi pengetahuan dan pengembangan gagasan kebangsaan.
Langkah ini sekaligus menandai upaya Akademi Partai Golkar membangun ekosistem kaderisasi yang lebih terbuka, inklusif, dan berbasis intelektualitas, dengan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu fondasi kepemimpinan politik masa depan (red)

Berita terkait