JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menempati posisi empat besar dalam dua survei elektabilitas calon presiden (capres) 2029. Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai respons Gibran terhadap sejumlah persoalan nasional, termasuk polemik Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap dirinya.

Dalam survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada 18 Oktober 2026, Gibran memperoleh elektabilitas 6,9 persen melalui simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind. Sementara itu, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 17 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gibran sebesar 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama capres. Dalam simulasi tersebut, Gibran berada di urutan keempat setelah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto.

Ari menilai sikap Gibran dalam merespons persoalan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat dapat memengaruhi persepsi publik. Menurutnya, respons Gibran terhadap isu MBG dan karhutla memperlihatkan pendekatan yang berbeda dari Presiden Prabowo Subianto.

“Harus diakui pemilihan sikap Gibran terhadap kebijakan pemerintahan seperti polemik MBG dan masalah Karhutla begitu berbeda dengan sikap Prabowo dan publik menaruh respek kepada Gibran,” ujar Ari dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).

Menurut Ari, posisi Gibran dalam survei perlu dilihat dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari respons terhadap persoalan publik hingga pengaruh dinasti politik yang melekat pada dirinya. Ia menilai kontroversi politik yang selama ini mengiringi Gibran tidak otomatis membuat namanya keluar dari jajaran kandidat yang memperoleh dukungan responden.

Ari Junaedi Soroti Respons Gibran terhadap MBG dan Karhutla

Ari berpandangan, cara seorang pejabat merespons persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat dapat menjadi salah satu faktor pembentuk citra politik. Isu MBG dan karhutla, misalnya, berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, kesehatan, keselamatan warga, dan tanggung jawab pemerintah dalam menangani masalah di lapangan.

Menurutnya, sikap Gibran dalam menyikapi persoalan tersebut dapat memengaruhi penilaian sebagian masyarakat terhadap dirinya. Namun, penilaian tersebut merupakan pandangan Ari mengenai faktor yang mungkin berperan dalam persepsi publik, bukan bukti bahwa satu sikap tertentu secara langsung menyebabkan kenaikan elektabilitas.

Hasil kedua survei juga perlu dibaca sesuai metode masing-masing. PPI menggunakan pertanyaan terbuka yang meminta responden menyebutkan nama capres secara spontan, sedangkan SMRC menggunakan simulasi semi-terbuka dengan daftar 24 nama. Karena perbedaan metode tersebut, angka 6,9 persen dan 8,4 persen tidak dapat dibandingkan secara langsung seolah-olah berasal dari pengukuran yang sama.

Meski demikian, kedua hasil survei sama-sama menempatkan Gibran di urutan keempat dalam skenario yang diuji. Temuan tersebut menunjukkan bahwa namanya masih disebut responden dalam bursa capres 2029, meskipun angka survei tidak dengan sendirinya memastikan pencalonan atau hasil pemilu mendatang.

Ari Junaedi Sebut Pengaruh Jokowi Masih Mewarnai Elektabilitas Gibran

Selain menyoroti respons Gibran terhadap persoalan nasional, Ari mengingatkan bahwa pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi faktor penting dalam membaca posisi putranya di survei.

Menurut Ari, nama besar Jokowi memiliki pengaruh politik di masyarakat yang dapat ikut memengaruhi pengenalan dan penerimaan publik terhadap Gibran. Faktor tersebut, menurutnya, perlu diperhitungkan bersama faktor lain ketika menganalisis elektabilitas Wakil Presiden.

“Kalau pun Gibran bisa masuk lima besar peraih elektabilitas tertinggi tidak terlepas dari efek nama besar ayahnya Jokowi yang memang punya efek politik di masyarakat,” pungkas Ari.

Ari menilai posisi Gibran dalam survei merupakan hasil yang perlu dibaca secara menyeluruh, dengan memperhatikan sikap politik, respons terhadap persoalan publik, serta faktor popularitas dan pengaruh keluarga. Berbagai faktor tersebut dapat berkontribusi terhadap persepsi responden, tetapi besarnya pengaruh masing-masing tidak dapat dipastikan hanya dari angka elektabilitas.

Menjelang Pemilu 2029, hasil survei tersebut memberikan gambaran tentang pilihan responden pada periode pengumpulan data Oktober 2026. Posisi Gibran masih berada di empat besar dalam dua simulasi yang berbeda, sementara dinamika politik dan perkembangan kebijakan pemerintah tetap dapat memengaruhi persepsi masyarakat ke depan (red)