JAKARTA, BERITA SENAYAN – Rencana Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V dinilai tidak otomatis membuka jalan menuju Senayan. Pengamat politik Adi Prayitno menegaskan, kemenangan dalam pemilihan legislatif tetap ditentukan oleh kerja politik, bukan semata faktor nama besar keluarga atau daerah asal.
Adi mengatakan, banyak pihak mengaitkan langkah Kaesang dengan status Dapil Jawa Tengah V yang mencakup Solo Raya, kampung halaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Namun, menurutnya, asumsi tersebut tidak cukup menjadi jaminan elektoral.
“Sekalipun Kaesang maju sebagai caleg di Dapil 5 Jawa Tengah, tidak ada jaminan akan mendapatkan dukungan dan meraih kursi, meskipun ayahnya Jokowi berasal dari Solo,” kata Adi Prayitno melalui kanal YouTube pribadinya, Jumat (31/7/2026).
Adi menjelaskan, pemilihan legislatif memiliki karakter yang berbeda dengan pemilihan presiden maupun kepala daerah. Persaingan antarcalon berlangsung sangat dinamis karena bergantung pada kekuatan partai, konsolidasi organisasi, jaringan politik, hingga kemampuan kandidat membangun kedekatan dengan pemilih.
Menurutnya, siapa pun yang maju di daerah pemilihan tersebut harus mampu bekerja keras membangun basis dukungan secara langsung.
Ia juga menilai peta politik menjelang Pemilu 2029 masih sangat cair. Partai maupun kandidat yang saat ini terlihat dominan belum tentu mempertahankan kekuatannya pada saat pemungutan suara nanti.
“Pertarungan pileg itu sesuatu yang sangat dinamis. Hari ini kelihatan kuat dan solid, tetapi menjelang 2029 bisa berubah secara signifikan. Yang kuat bisa menjadi lemah, yang lemah pun bisa menjadi kuat. Semua tergantung kerja politik,” ujarnya.
Karena itu, Adi menilai narasi bahwa Kaesang akan dengan mudah memenangkan kursi DPR RI hanya karena bertarung di wilayah asal keluarga Jokowi merupakan kesimpulan yang terlalu dini.
Ia menegaskan, setiap calon legislatif tetap harus membuktikan kapasitas politiknya melalui kerja elektoral yang konsisten di lapangan.
“Itulah rumitnya pertarungan pileg,” pungkas Adi (red)

Berita terkait