CIREBON, BERITA SENAYAN – Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menegaskan lulusan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) harus menjadi generasi yang memimpin Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, para santri yang lulus saat ini akan menjadi aktor utama dalam menentukan masa depan bangsa pada 2030.
Hal tersebut disampaikan Muhaimin, yang akrab disapa Cak Imin, saat menghadiri Wisuda Kelas XII SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren BIMA di Cirebon, Minggu (28/6/2026) malam.
“Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian,” tegas Cak Imin disambut tepuk tangan para wisudawan.
Menurutnya, Indonesia saat ini tengah memasuki fase bonus demografi yang menjadi peluang besar sekaligus tantangan. Karena itu, generasi muda, khususnya lulusan pesantren, harus dipersiapkan dengan kemampuan yang memadai agar mampu menjadi pemimpin di berbagai sektor.
Cak Imin menegaskan santri masa depan tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus memiliki kompetensi, integritas, dan kedisiplinan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
“Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama memiliki skill dan kemampuan. Kedua memiliki integritas. Ketiga taat asas terhadap ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin juga mengungkapkan kekagumannya terhadap konsep pendidikan Pesantren BIMA yang dinilainya visioner dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Ia mengaku pertama kali mengenal Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, melalui media sosial sebelum akhirnya beberapa kali berkunjung langsung.
“Saya kenal beliau bukan langsung bertemu, tetapi lewat Instagram. Saya melihat ada pesantren yang unik, bangunannya bagus, suasananya luar biasa. Akhirnya saya beberapa kali sowan ke BIMA dan semakin yakin bahwa pesantren ini memiliki visi, tahapan, dan model pendidikan yang sangat jelas,” katanya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes BIMA KH Imam Jazuli optimistis target mencetak 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri dalam negeri dapat tercapai lebih cepat dari rencana.
“Target kami tahun 2028 harus ada 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di PTN nasional. Namun melihat perkembangan saat ini, insyaallah target tersebut akan tercapai pada tahun 2027,” ujar KH Imam Jazuli.
Tahun ini, sebanyak 175 santri BIMA diterima melanjutkan studi ke berbagai negara, seperti Rusia, Tiongkok, Tunisia, dan sejumlah negara di Timur Tengah. Selain itu, 99 santri diterima di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan mayoritas mengambil program studi umum.
KH Imam Jazuli menegaskan pesantren harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya saleh, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan keahlian strategis yang dibutuhkan bangsa.
“Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara,” pungkasnya (red)

Berita terkait