JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, menilai melemahnya nilai tukar rupiah justru memberikan peluang bagi sektor pariwisata nasional. Kondisi tersebut dinilai membuat biaya liburan di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan mancanegara, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing dan penerimaan devisa negara.

Menurut Chusnunia, sejumlah data menunjukkan tren peningkatan kunjungan wisatawan dari negara-negara tetangga maupun kawasan Asia dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena itu dinilai berkaitan dengan daya beli wisatawan asing yang meningkat akibat kurs mata uang yang lebih kuat dibandingkan rupiah.

“Kita berharap tren tersebut akan terus berlanjut, di mana peningkatan jumlah wisatawan juga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penerimaan devisa negara,” ujar Chusnunia.

Politisi yang akrab disapa Nunik itu menjelaskan, manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing tidak hanya dirasakan oleh sektor perhotelan dan maskapai penerbangan. Berbagai sektor pendukung pariwisata juga berpotensi menikmati dampak ekonomi yang signifikan.

Menurutnya, wisatawan asing yang memperoleh keuntungan dari nilai tukar cenderung menghabiskan waktu lebih lama selama berada di Indonesia. Kondisi ini dapat meningkatkan belanja mereka untuk kebutuhan akomodasi, kuliner, hiburan, transportasi, hingga produk-produk lokal.

“Sektor lain seperti restoran, transportasi lokal, pusat oleh-oleh, pelaku ekonomi kreatif, hingga UMKM juga ikut menikmati peningkatan aktivitas ekonomi. Ketika wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar akibat kurs yang menguntungkan, pengeluaran mereka cenderung meningkat,” jelasnya.

Nunik menambahkan, situasi tersebut menjadi kabar baik bagi daerah-daerah yang selama ini menggantungkan pertumbuhan ekonomi pada sektor pariwisata. Peningkatan kunjungan wisatawan dinilai dapat membantu memperkuat perputaran ekonomi lokal dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya membawa dampak positif. Sejumlah pelaku usaha pariwisata yang masih bergantung pada barang impor tetap menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya operasional.

“Sejumlah pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor, seperti makanan premium, minuman impor, hingga perlengkapan hotel tertentu, tetap menghadapi kenaikan biaya operasional,” ungkapnya.

Meski melihat peluang dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing, Chusnunia berharap nilai tukar rupiah dapat kembali menguat agar perekonomian nasional secara keseluruhan semakin sehat dan sektor pariwisata dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Ia juga mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk tetap optimistis dan memanfaatkan momentum tersebut guna memperkuat daya saing destinasi wisata Indonesia di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

“Dalam situasi sekarang seluruh pelaku industri pariwisata harus tetap optimistis melihat peluang yang muncul di tengah berbagai tantangan global. Kita harus bergandeng tangan bersama untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata nasional,” pungkasnya (red)