JAKARTA, BERITA SENAYAN – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa partainya telah menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Indonesia atas berbagai dinamika politik yang terjadi pasca-Pemilu 2024.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi Inspektur Upacara dalam peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).
Menurut Hasto, permintaan maaf itu merupakan bentuk refleksi dan tanggung jawab politik PDIP terhadap perubahan yang terjadi dalam praktik kekuasaan dan demokrasi di Indonesia.
“Ini yang terjadi pada Pemilu 2024 yang lalu, maka di dalam Rakernas, PDI Perjuangan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas perubahan watak kekuasaan akibat ambisi kekuasaan,” kata Hasto.
Ia menilai berbagai peristiwa politik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah memunculkan kekhawatiran mengenai arah demokrasi nasional. Karena itu, PDIP merasa perlu melakukan evaluasi sekaligus menyampaikan sikap terbuka kepada masyarakat.
Refleksi Politik Pascapemilu
Hasto menjelaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi terhadap kondisi demokrasi Indonesia.
Menurutnya, nilai-nilai Pancasila mengajarkan pentingnya kekuasaan dijalankan untuk kepentingan rakyat, bukan demi kepentingan kelompok tertentu.
Ia menegaskan bahwa demokrasi yang sehat harus dibangun di atas prinsip keadilan, partisipasi rakyat, dan penghormatan terhadap hukum.
Soroti Supremasi Hukum
Selain menyinggung evaluasi politik pasca-Pemilu 2024, Hasto juga mengingatkan pentingnya menjaga supremasi hukum sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menilai berbagai kritik yang muncul terkait penegakan hukum harus menjadi perhatian bersama agar kepercayaan publik terhadap institusi negara tetap terjaga.
“Tanpa supremasi hukum tidak akan ada bangunan politik yang kokoh, dan tidak akan ada bangunan sistem perekonomian yang bisa tumbuh berkembang untuk kemakmuran,” ujarnya.
Momentum Kembali ke Nilai Pancasila
Hasto menegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila harus dimaknai sebagai pengingat untuk mengembalikan praktik politik nasional kepada nilai-nilai dasar bangsa.
Menurutnya, Pancasila tidak hanya menjadi ideologi negara, tetapi juga pedoman moral dalam menjalankan pemerintahan dan demokrasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momentum 1 Juni sebagai titik penguatan komitmen terhadap demokrasi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap hukum demi masa depan Indonesia yang lebih baik (red)

Berita terkait