JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa Nihayatul Wafiroh menyoroti meningkatnya kerentanan perempuan terhadap kekerasan di ruang digital, seiring pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi dan deklarasi “Sobat Digital Bukan Korban Digital” yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026 di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, transformasi digital memang membuka banyak peluang bagi perempuan, termasuk dalam bidang ekonomi dan ekspresi diri. Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan ancaman yang tidak bisa diabaikan.
“Transformasi digital membuka peluang besar bagi kemandirian perempuan. Namun di sisi lain, ruang digital juga bisa menjadi hutan belantara yang penuh ancaman,” ujarnya.
Nihayatul menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi perempuan saat ini berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu perjuangan perempuan berfokus pada akses pendidikan dan kesetaraan, kini ancaman justru datang dari ruang virtual yang tanpa batas.
Ia juga menyoroti bahwa implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual masih belum optimal, terutama dalam menangani kasus kekerasan berbasis digital yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
“Kita tidak boleh diam. Ruang digital harus menjadi ruang yang aman bagi perempuan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong Perempuan Bangsa untuk menjadi garda terdepan dalam meningkatkan literasi digital, serta memberikan pendampingan kepada korban hingga ke tingkat akar rumput.
Deklarasi “Sobat Digital Bukan Korban Digital” yang digelar dalam kegiatan tersebut menegaskan komitmen untuk menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan di dunia maya, mendorong keberanian korban untuk melapor, serta mendesak negara dan platform digital bertindak tegas terhadap pelaku.
Melalui momentum Hari Kartini, Nihayatul mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang digital yang lebih aman, adil, dan beradab bagi perempuan Indonesia (red)

Berita terkait