JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pakar telematika Roy Suryo angkat bicara terkait viralnya potongan video yang memperlihatkan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi berbicara di samping Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Dalam video tersebut, Budi Arie menyinggung kemungkinan terjadinya percepatan konstelasi politik sebelum Pemilu 2029.

Roy menilai pernyataan Budi Arie tersebut perlu mendapat perhatian serius karena muncul menjelang rencana aksi demonstrasi pada 27 Agustus 2026.

“Itu merupakan pernyataan yang berbahaya dan bahkan terindikasi bisa makar dengan menunggangi aksi-aksi masyarakat dalam waktu dekat sebelum 2029,” kata Roy, dikutip Rabu (26/8/2026).

Roy Pertanyakan Sikap Jokowi

Roy juga menyoroti keberadaan Jokowi dalam video tersebut. Menurutnya, Jokowi yang berada di samping Budi Arie terlihat tidak memberikan respons ketika pernyataan mengenai kemungkinan percepatan agenda politik itu disampaikan.

Kondisi tersebut, kata Roy, kemudian dapat memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.

“Jadi, tidak bisa disalahkan bila ada yang berpendapat Jokowi merupakan mastermind pernyataan Budi Arie tersebut,” ujar Roy.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan penilaian Roy terhadap video dan situasi yang berkembang. Belum ada penjelasan lebih lanjut dalam materi yang disampaikan mengenai maksud Budi Arie ketika menyampaikan pernyataan tersebut.

Minta Aparat Dalami Pernyataan Budi Arie

Roy juga mempertanyakan respons aparat intelijen terhadap video yang beredar luas tersebut. Ia menilai aparat seharusnya segera melakukan klarifikasi untuk mengetahui konteks dan maksud pernyataan Budi Arie.

Menurut Roy, langkah tersebut diperlukan agar tidak muncul spekulasi berkepanjangan yang berpotensi meningkatkan keresahan publik.

“Seharusnya Budi Arie minimal bisa dimintai keterangannya. Apa maksud dan tujuan pernyataan tersebut, karena sudah menimbulkan keresahan dan membuat gaduh masyarakat jelang demo 27 Agustus 2026,” pungkas Roy.

Roy menilai klarifikasi diperlukan untuk memastikan apakah pernyataan tersebut hanya merupakan pandangan politik atau memiliki maksud lain yang berkaitan dengan dinamika politik nasional.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap agenda politik dan rencana aksi demonstrasi, ia meminta seluruh pihak berhati-hati dalam menyampaikan maupun menafsirkan pernyataan yang berpotensi menimbulkan keresahan (red)