JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota DPR RI Fraksi PKB Habib Syarief menilai tewasnya seorang siswa SMP berinisial MI (16) akibat dugaan perundungan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjadi bukti bahwa sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah masih lemah. Ia meminta tragedi tersebut dijadikan momentum evaluasi nasional terhadap pengawasan dan pencegahan bullying di sekolah.
Menurut Habib, sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi peserta didik. Namun, kasus yang berujung hilangnya nyawa seorang siswa menunjukkan adanya kegagalan dalam mendeteksi dan mencegah kekerasan sejak dini.
“Ketika perundungan sampai merenggut nyawa peserta didik, berarti ada sistem perlindungan anak yang harus diperbaiki. Guru harus mampu mendeteksi sejak dini potensi kekerasan antarsiswa dan segera melakukan intervensi sebelum menimbulkan korban. Tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi perundungan di sekolah,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Politikus PKB itu menegaskan aparat penegak hukum dan Dinas Pendidikan tidak cukup hanya memproses pelaku secara pidana. Menurutnya, yang lebih penting adalah mengaudit sistem pengawasan di sekolah, termasuk efektivitas peran guru, wali kelas, hingga layanan bimbingan konseling.
Habib menilai budaya menganggap perundungan sebagai kenakalan remaja biasa harus segera diakhiri. Sebab, tindakan tersebut dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban, bahkan berujung pada kematian.
“Peristiwa ini merupakan tragedi yang sangat menyedihkan dan tidak boleh kembali terulang. Kasus ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh. Perundungan merupakan salah satu dosa besar dalam dunia pendidikan yang tidak boleh lagi dianggap sebagai kenakalan biasa,” katanya.
Ia juga mendesak sekolah membangun mekanisme pelaporan yang aman dan mudah diakses siswa agar korban maupun saksi perundungan berani melapor tanpa takut mendapat tekanan.
Menurut Habib, seluruh elemen pendidikan harus menjadikan keselamatan peserta didik sebagai prioritas utama sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
“Setiap kasus perundungan harus menjadi pelajaran untuk memperbaiki sistem. Keselamatan dan perlindungan anak harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai ada lagi peserta didik yang kehilangan masa depan, bahkan kehilangan nyawa, akibat perundungan yang seharusnya dapat dicegah,” pungkasnya (red)

Berita terkait