Bupati Trenggalek Tegaskan Nasionalisme dan Islam Harus Bersatu
Kamis, 23 Oktober 2025, 09:39:48 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Bupati Trenggalek Muchammad Arifin menegaskan pentingnya menyatukan nasionalisme dan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan, bukan sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan sebagai kekuatan moral dan sosial untuk membangun bangsa.
Pesan itu disampaikan Arifin, yang juga kader PDI Perjuangan berlatar santri, dalam Diskusi Hari Santri Nasional 2025 di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (22/10/2025).
“Nasionalisme dan Islamnya dapat dua-duanya. Jadi saya meyakini di PDI Perjuangan bisa jadi amal jariyah saya,” ujar Arifin dalam forum tersebut.
Arifin menceritakan perjalanan pribadinya dalam memahami ajaran Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri. Sebelum menulis buku tentang nilai-nilai kepemimpinan, ia sempat sowan ke para kiai dan ulama untuk meminta restu.
Salah satu kisah yang membekas baginya datang dari Romo Kiai Husen Ilyas, pengasuh Ponpes Al-Misbar Mojokerto. Menurut sang kiai, Bung Karno muda sering tinggal di rumahnya dan rutin membaca Al-Qur’an setiap habis Magrib.
“Suaranya Bung Karno waktu baca Al-Qur’an enak,” tutur Arifin menirukan cerita sang kiai.
Dari pengalaman itu, Arifin meyakini perjuangan Bung Karno sejalan dengan perjuangan Rasulullah SAW, yakni menyatukan semangat kebangsaan dan nilai-nilai Islam yang memerdekakan.
Ajaran Bung Karno dan Megawati Jadi Pedoman Kepemimpinan
Arifin menjelaskan, Bung Karno mengajarkan bahwa politik bukan alat untuk meminta-minta, tetapi untuk menuntut keadilan dan memperjuangkan martabat manusia.
Sementara itu, ajaran Megawati Soekarnoputri tentang “merawat pertiwi” ia maknai sebagai refleksi dari konsep khalifah fil ardh dalam Islam—yakni manusia sebagai penjaga bumi.
“Ini bukan hanya soal pertahanan terhadap perang, tapi juga tentang krisis iklim yang dirisaukan Ibu Megawati,” tegasnya.
Dalam kepemimpinannya, Arifin menerapkan nilai-nilai tersebut melalui program pemberdayaan santri dan anak muda. Salah satunya adalah Festival Gagasan, wadah bagi generasi muda untuk menyampaikan ide pembangunan daerah.
“Santri Muhammadiyah punya bank sampah, kemudian diuji oleh panelis. Kalau lolos, usulan itu didanai APBD dan jadi bagian dari 10 program prioritas kabupaten,” jelasnya.
Diskusi semakin menarik saat para peserta muda ikut menyampaikan pandangan. Ketua Umum Kopri PB PMII, Wulansari, menyoroti pentingnya karakter kepemimpinan yang berakar pada ilmu dan nilai kebangsaan.
“Ciri seorang santri itu mengabdi pada ilmu. Kita lebih mudah takjub pada orang-orang berkelas karena keilmuannya,” katanya.
Sementara Hawra Tustari, seorang pilot muda berprestasi internasional, menilai anak muda kini lebih realistis melihat kondisi politik.
“Kita lihat sistem itu gitu-gitu aja. Ganti presiden, ganti pemimpin, ya gitu-gitu aja. Tapi bukan berarti kita berhenti berharap,” ujar Hawra.
Hawra berharap semangat go internasional generasi muda tetap diimbangi dengan tekad untuk kembali membangun Indonesia (red),
Berita terkait
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
Transmigrasi Patriot Libatkan 2.000 Peneliti Kaji...
PIRA Wujudkan Amanat Prabowo Lewat Aksi...
Pengajian Al-Hidayah Ajak Lansia Hidup Sehat...
Rustini Gaungkan Gerakan Ayo Membaca di...
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
