JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKB, Ratna Juwita Sari, mendesak pemerintah segera mempercepat diversifikasi energi sebagai langkah strategis menghadapi ancaman geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan energi nasional.

Desakan ini muncul menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memperpanjang gencatan senjata di kawasan Timur Tengah. Ratna menilai kondisi tersebut belum menjamin stabilitas, bahkan masih menyimpan potensi konflik terbuka yang dapat berdampak pada pasar energi dunia.

“Kita tidak boleh lengah. Ketergantungan pada impor energi membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak global,” ujar Ratna di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Ia menegaskan bahwa langkah mitigasi tidak cukup hanya bersifat jangka pendek, tetapi harus diarahkan pada transformasi energi nasional secara menyeluruh. Salah satu langkah utama yang perlu dilakukan adalah mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai alternatif pengganti energi fosil.

Ratna memaparkan bahwa saat ini kebutuhan energi nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 605 ribu barel per hari. Kesenjangan besar tersebut memaksa Indonesia bergantung pada impor dalam jumlah signifikan.

Menurutnya, tanpa strategi diversifikasi yang jelas, Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan energi global.

“Ini bukan sekadar soal energi, tetapi menyangkut stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan,” tegasnya.

Selain mendorong transisi energi, Ratna juga menekankan pentingnya memperkuat cadangan energi strategis nasional guna mengantisipasi gangguan pasokan mendadak.

Ia menilai, percepatan kebijakan di sektor energi harus menjadi prioritas pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

“Kemandirian energi harus menjadi agenda utama agar Indonesia tidak terus bergantung pada dinamika global yang tidak bisa kita kendalikan,” pungkasnya (red)