Berita Senayan
Network

Anggia Erma Rini: Menenun Pengabdian dari Sragen ke Senayan

Redaksi
Laporan Redaksi
Jumat, 10 April 2026, 19:57:57 WIB
Anggia Erma Rini: Menenun Pengabdian dari Sragen ke Senayan
Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Erma Rini.



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Di antara riuh rendah panggung politik nasional, nama Anggia Erma Rini hadir dengan keteguhan yang tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari tanah sederhana di Sragen, Jawa Tengah, pada 25 September 1974, sebuah awal yang kelak menjelma menjadi perjalanan panjang pengabdian, yang berkelindan antara intelektualitas, spiritualitas, dan keberanian menembus batas.

Sejak kecil, hidupnya telah ditempa dalam disiplin yang nyaris asketis. Pagi hari ia bersekolah formal, sore di madrasah diniyah, dan malam dihabiskan dengan mengaji. Pola hidup itu bukan sekadar rutinitas, melainkan fondasi karakter. Dari sanalah lahir keteguhan yang kelak menjadi napas dalam setiap langkahnya di dunia publik.

Pendidikan menjadi jalan sunyi yang ia tekuni dengan kesadaran penuh, meski tidak selalu dimulai dari pilihan yang ia cintai. Ia menempuh studi di Universitas Negeri Malang dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris—jurusan yang awalnya bukan pilihan hatinya. Namun waktu mengajarkan penerimaan.

“Saya belajar bahwa tidak semua jalan hidup kita pilih sendiri, tetapi kita bisa memilih bagaimana menjalaninya,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan wawancara.

Dari Malang, langkahnya berlanjut ke Universitas Indonesia, menekuni Ilmu Kesehatan Masyarakat. Lalu, pada 2023, ia menuntaskan perjalanan akademiknya dengan gelar doktor Ilmu Administrasi Publik dari Universitas Padjadjaran. Pendidikan baginya bukan sekadar capaian, melainkan alat untuk memahami masyarakat secara utuh. Dimulai dari persoalan kesehatan hingga tata kelola negara.

Namun, Anggia bukan hanya tentang gelar dan ruang kelas. Ia adalah anak kandung tradisi organisasi. Namanya tumbuh bersama denyut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tempat ia mengasah kepemimpinan sejak muda. Di sana, ia belajar bahwa gagasan harus bertemu dengan aksi, dan idealisme harus menemukan bentuknya dalam kerja nyata.

Langkah politiknya menemukan rumah di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang secara ideologis sejalan dengan akar kulturalnya di Nahdlatul Ulama. Di bawah kepemimpinan Abdul Muhaimin Iskandar, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB, sebuah posisi strategis yang menandai kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar.

Perjalanan menuju Senayan tidak selalu mulus. Ia pernah gagal melangkah ke DPR RI pada periode 2014–2019. Namun kegagalan itu justru menjadi jeda reflektif yang menguatkan pijakan. Pada 2019, ia kembali, kali ini sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI, meliputi Tulungagung, Blitar, dan Kediri. Di sanalah ia mulai menenun peran sebagai legislator yang bekerja dalam diam, namun berdampak nyata.

Di parlemen, ia pernah mengemban tugas di Komisi IX dan kemudian menjadi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, yang membidangi pertanian, kelautan, dan pangan. Kini, pada periode 2024–2029, ia dipercaya sebagai Ketua Komisi VI DPR RI, sebuah posisi penting yang mengawasi sektor industri, perdagangan, investasi, dan BUMN.

Bagi Anggia, politik bukan sekadar arena kekuasaan. Ia pernah menegaskan, “Politik harus menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar tempat meraih jabatan.” Kalimat itu bukan retorika; ia hidup dalam setiap kebijakan yang ia dorong, terutama yang menyentuh pelaku usaha kecil, perempuan, dan masyarakat akar rumput.

Di luar parlemen, napas pengabdiannya berlanjut melalui Fatayat Nahdlatul Ulama, di mana ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum. Di sana, ia menjadi wajah bagi gerakan perempuan muda yang tidak hanya berbicara tentang emansipasi, tetapi juga pemberdayaan nyata.

Meski hari-harinya dipenuhi rapat, kunjungan kerja, dan dinamika politik, Anggia tetap menjaga ruang sunyi bernama keluarga. Bersama suaminya, Sultonul Huda, dan keempat anaknya, ia merawat keseimbangan yang tidak mudah. Dari sanalah ia memetik kekuatan, bahwa peran publik dan domestik bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sisi yang saling menguatkan.

Kini, dari Sragen hingga Senayan, Anggia Erma Rini berdiri sebagai simbol ketekunan yang tidak berisik, kepemimpinan yang tidak selalu mencari sorotan, dan pengabdian yang berjalan dalam kesunyian kerja. Ia membuktikan bahwa dalam dunia politik yang kerap riuh oleh ambisi, masih ada ruang bagi ketulusan untuk tumbuh dan memberi arti (red)


Berita terkait