Berita Senayan
Network

Riyono : Pangan Jadi Senjata Politik Global di Tengah Perang

Redaksi
Laporan Redaksi
Minggu, 29 Maret 2026, 16:19:28 WIB
Riyono : Pangan Jadi Senjata Politik Global di Tengah Perang
Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono,



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, menyoroti perubahan signifikan dalam dinamika pangan global di tengah meningkatnya konflik internasional. Ia menilai, komoditas pangan kini telah bergeser dari kebutuhan dasar menjadi instrumen politik antarnegara.

Menurut Riyono, konflik yang melibatkan sejumlah negara besar telah menciptakan tekanan serius terhadap distribusi pangan dunia. Kondisi ini berdampak pada lonjakan harga serta ketidakpastian pasokan di berbagai negara, termasuk negara berkembang.

“Pangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata mematikan untuk menguasai bahkan ‘menjajah’ suatu negara atas nama impor,” ujar Riyono dalam keterangan tertulis, Minggu (29/3/2026).

Ia menjelaskan, negara produsen pangan saat ini cenderung menahan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri, sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian global. Akibatnya, negara-negara yang bergantung pada impor menghadapi tekanan yang semakin besar.

Lebih jauh, Riyono mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi mengganggu target global dalam mengakhiri kelaparan, sebagaimana tercantum dalam agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Untuk itu, ia mendorong pemerintah Indonesia agar memperkuat strategi ketahanan pangan nasional. Salah satunya dengan menjaga cadangan pangan serta memastikan distribusi berjalan efektif.

“Cadangan pangan berupa beras yang sudah tembus 4 juta ton harus dijaga kualitas dan manajemen pengelolaannya,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap petani sebagai produsen utama pangan, termasuk melalui kebijakan harga yang berpihak serta dukungan terhadap risiko produksi.

Riyono juga mengingatkan agar anggaran sektor pertanian tetap menjadi prioritas, mengingat perannya yang krusial dalam menjaga stabilitas pangan nasional di tengah gejolak global.

“Rakyat jangan sampai mendapatkan harga pangan mahal karena imbas perang dan ketidakpastian global ini,” pungkasnya (red)