Bahlil Orang Pande : Perspektif Tasawuf
Oleh : Moksen Idris Sirfefa (Ochen)*
Suatu hari, tepatnya 24 Juni 2019, secara kebetulan, saya dan Velix Wanggai bertemu Bahlil di atas pesawat dalam perjalanan dari Jayapura ke Jakarta. Kami berdiskusi sepanjang perjalanan kurang lebih 5 jam tak terasa kami tiba di Soekarno-Hatta. Hari itu juga saya posting di laman facebook dengan status : “A Long Discussion on the Glory of the Spice Road: Banda-Ternate-Tidore-Fakfak”, tentu pula pembicaraan kami menyangkut percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia.
Selaku ketum HIPMI, Bahlil sangat pede dan pandé menceramahi saya dan Velix selaku seniornya dari Papua. Apalagi dia baru sebulan lalu dipuji cerdas oleh presiden Jokowi sebagai calon menteri pada acara ‘bukber’ dan silatnas HIPMI, 25 Mei 2019 di tempat bergengsi, Ritz Carlton Jakarta. Di ujung ceramahnya, saya bilang, “ternyata ade ko pandé juga ee…!” Dia menimpali, “bah abang macam tra percaya saya ka?”
Lompatan Kapasitas
Sejak kecil, remaja dan menjadi aktivis HMI, anak ini angin-anginan. Lincah dan gesit, sehingga perkara “cari uang”, ia memang paten punya. Ia pernah menjadi bendahara umum PB HMI (2001-2003) dan bendahara DPD I partai Golkar Papua (2009-20014). Ia satu-satunya menteri dalam sejarah republik yang dilantik tiga kali dalam jabatan setingkat menteri dan menteri di masa kepresidenan yang sama (kepala BKPM, menteri investasi dan menteri ESDM) di periode kedua Presiden Jokowi (2019-2024).
Lagi-lagi memasuki era kepresidenan Prabowo, pada peringatan HUT partai Golkar ke-61, 6 Desember 2025, sang presiden secara blak-blakan memuji Bahlil sebagai orang yang sangat cerdas. Mungkin hanya dua presiden di Indonesia, Jokowi dan Prabowo, yang memuji menterinya secara blak-blakan di depan publik.
Saya kira, untuk sementara ini tak ada pejabat negara di Indonesia paling viral selain menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Di antara 4 Menko, 30 menteri dan belasan kepala badan setingkat menteri, Bahlil adalah menteri yang setiap saat dikuntit wartawan. Mereka sangat ingin mendengar stetmennya, tetapi banyak juga buzzer yang ingin menunggu bola muntah, kapan dia salah melangkah. Yang terakhir ini terkadang dia dituduh salah, sehingga pihak lawan punya alasan melakukan perundungan (bullying) lewat berita dan meme di media sosial.
Pengalaman menujukan fenomena hukum rimba politik di Indonesia, kalau muncul tokoh publik yang hebat/tampil beda, sepertinya ia mengganggu kemapanan. Tokoh seperti ini biasanya tak bertahan lama. Setahun atau dua tahun, langsung senyap dari popularitasnya di panggung politik. Ia pasti dihajar tanpa ampun. Bahlil beda dengan preposisi ini.
Ia berprestasi tapi hampir setiap hari dikecam di media sosial, meski yang mengecamnya belum tentu faham. Para partner ini tak mampu bertahan jika berhadapan secara face to face, beradu argumentasi dengannya. Ia seringkali digiring untuk masuk ke dalam perangkap kontroversi tetapi ia selalu lolos dalam jebakan itu. Kasus Rempang (2023) dan Raja Ampat (2025) sengaja menggiring Bahlil ke dalam perangkap kontroversi itu tapi ia mampu mengatasi kisruh kedua kasus itu dan menjelaskan duduk soalnya secara terang-benderang.
Di beberapa momentum publik, baik di pertemuan partai, di gedung parlemen atau di televisi, ia selalu tampil persuasif. Celetukan joke-nya yang khas bisa jadi merupakan teknik bagaimana dia membuat lawan bicaranya tidak merasa kalah. Suasana yang mulanya serius tegang kembali cair dan mengalir. Sebuah nature yang jarang dimiliki figur pejabat negara. Bahlil mengalami lompatan kapasitas (capacity leaps) yang sangat cepat, sehingga manuvernya tak terkejar oleh yang lain. Padahal dia sendiri mengaku berasal dari institusi pendidikan yang tidak terlacak di Google.¹
Terlepas dari kemampuan retorika dan kepemimpinannya, Bahlil adalah orang yang rendah hati. Sekelas menteri, ia bisa bersenda-gurau dengan orang-orang kecil, termasuk rekannya sesama sopir angkot di terminal pasar Tumburuni di kampung halamannya di Fakfak. Bahlil juga suka bercanda atau guyon. Seorang teman di lingkungan Istana Presiden menceritakan, kalau presiden lagi stres memikirkan negara, menteri yang dipanggil adalah Bahlil. Di istana, bukan masalah pelik yang ditanyakan presiden padanya, tapi presiden ingin mendengar guyonannya. Kata teman tadi, candaan dan guyonan Bahlil bisa membuat sang presiden terpingkal-pingkal. Cuma tidak disebut presiden siapa!
Arti Sebuah Nama
Pujangga Inggris, William Shakespiere, pernah mengatakan, What’s in a Name?” tentu cocok untuk mengulik nama Bahlil. Tapi sebelum sampai kesana, saya justru melihat yang pintar memilih nama Bahlil adalah ayahnya, La Hadalia. Sepertinya sang ayah memperoleh wangsit, kasyf, kemampuan laduní yang mampu menerawang alam gaib dan mengaca masa depan, bahwa nama itu cocok di era disrupsi sekarang.
Mungkin pula satu-satunya warganegara Indonesia yang bernama Bahlil hanyalah Bahlil seorang. Sebab secara sosiologis, nama Bahlil di Indonesia identik dengan bodoh, dungu dan tolol. Sama dengan nama Abunawas, yang di Indonesia identik dengan ‘Abuleke’, istilah yang sering dipakai Bahlil yakni tukang tipu, putar-balik dan segala hal muslihat. Padahal Abunawas (Abû Nawâs) adalah seorang penyair Arab Persia terkemuka, seorang bijak bestari sekaligus sufi jenaka pada era kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad (756-814 M). Nama lengkapnya Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakamí. Ia masyhur berkat karya sastra klasik, kecerdikan serta kisah-kisah lucu yang sering membuat ia dekat dan paling sering berinteraksi dengan Khalifah Harûn al-Rasyîd dalam memecahkan masalah-masalah negara. Jika Bahlil pintar memoles spiritualitasnya, ia bisa selevel Abunawas.
Kehadiran Bahlil dari sopir angkot yang sering mengemis minyak untuk angkotnya di Fakfak, kini menjadi penentu kelimpahan minyak di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, ia mampu mendongkrak lifting minyak Indonesia pada 2025 melampaui target APBN, yakni mencapai 605.300 per hari (bph), pertama kali sejak 2008.
Indonesia membutuhkan banyak “orang gila” dengan kebijakan gila. Sebab hanya dengan kegilaan, suatu kebijakan yang melampaui kebiasaan (extraordinary policy) dapat diambil kemudian dieksekusi dengan cara gila pula. Biasanya kegilaan seperti ini mengguncang kemapanan dan mengusik kenyamanan pihak-pihak yang selama ini memonopoli kekayaan sumberdaya alam bangsa dan kekayaan negara secara tidak adil.
Kebijakan yang dilakukan “orang gila” kalau dilihat dari permukaan (syariat) sangat bertentangan dengan kebiasaan dan akal sehat. Namun, jika ditelusuri secara substansi (hakikat), justru disanalah kebenaran hakiki (makrifat) ditemukan. Inilah makna dari kata Bahâlil atau Bahlûl/Buhlūl yang berarti orang yang gembira dan banyak tertawa, orang gila, tidak waras dan pandir,² tetapi juga berarti seorang terhormat yang menghimpun sifat-sifat kebaikan dalam dirinya.³ Sebuah pepatah Arab menyatakan :
وكن كالباهاليل في حالهم مع الوقت يجرون كالعاقل
“Jadilah kau bak “orang gila”, keadaan (hâl) mereka berjalan bersama waktu layaknya orang berakal.”
Sang pandé akan mengatakan kepada mereka yang nyinyir pada setiap kebijakannya, bahwa “kalian akan sadar sendiri tentang apa yang kalian katakan padaku, melalui bermacam meme dan fitnah. Kalian salah menilaiku.” Sebuah mahfudhzât berbunyi :
لميزت بيني وبين الذِيْ يجلي لك الحق كالباطل
“Niscaya bisa kau bedakan diriku dengan mereka yang memperlihatkan kebenaran padamu tampak seperti kesalahan.”
Para buzzer sering terkecoh dan bingung dengan “jurus mabok” yang dilakukannya. Target mereka untuk menjatuhkannya selalu terpental tak mempan. Selaku senior, saya pernah menasihatinya, “pastikan dirimu baik. Dengan modal “baik”, kejahatan apapun yang akan mencelakakanmu tak akan mampu menjatuhkanmu.”
Dalam keseharian (‘âlam al-syahâdah) mereka menetap bersama ruh hewaninya. Hanya makan, minum dan berlaku berdasarkan insting hewaninya seperti hewan pada umumnya yang secara fitrah mengetahui apa saja yang bermanfaat dan berbahaya bagi jasmani indrawinya, dengan tanpa kontrol, pertimbangan dan kemampuan berpikir. Mereka berbicara tentang hikmah tanpa memiliki sedikit pun ilmu tentangnya dan tanpa ada maksud untuk memberi manfaat apapun kepada orang lain. Hal ini sebagai hikmah bagi kita bahwa segala perkara yang kita lakukan bukan karena otoritas kita. Diri kita hanyalah hamba yang digerakkan melalui pengaturan dari Sang Maha Bijaksana (Hakîm).
Si Bodoh Yang Gila
Tokoh-tokoh mistis, seperti Khidir membocorkan perahu yang ditumpanginya bersama Musa, Syekh Siti Jenar dan Al-Hallaj yang ucapan dan tindakannya dianggap nyeleneh, “Manunggaling Kawula Gusti,” “Ana Al-Haqq” atau Sultan Nuku di Tidore yang memasukkan salah satu pengikutnya yang khianat ke dalam moncong meriam dan ditembakkan membuat tubuh sang pengkhianat hancur menyebar ke empat penjuru mata angin⁴ adalah sebetulnya berada pada hâl (keadaan) kegilaan pada Tuhannya (Gila Ilahi).
Sultan Nuku bahkan digambarkan suka minum arak, humoris, tapi ia setia pada satu istri. Istrinya, Geboca, adalah penasehat utamanya yang setia. Beliau pasti menerima hâl melampaui (beyond) syariat, yang dalam tradisi mistik Tidore, arak berubah menjadi madu. Sisi “kontroversial” ini selalu membuat penilaian orang pada sosok-sosok gila itu menyalahi kepatutan.
Beban taklif tidak berlaku atas orang-orang tersebut, karena mereka tidak memiliki akal yang bisa menerima dan memahaminya.⁵ “Kau lihat mereka memandang kepadamu padahal mereka tidaklah bisa melihat, maka ambillah kebajikan yang muncul dari mereka” (Qs. Al-A’raf : 198-199),⁶ yakni sebagian kecil dari beragam hikmah dan nasihat yang dihujamkan ke jiwa mereka oleh Tuhan (wârid), terucap lewat lisan-lisan mereka.
Di dunia tasawuf, terdapat level (maqâm) dan keadaan (hâl/ahwâl), dimana semua penempuh jalan spiritual (sâlik) mengalaminya. Contoh maqâm, seperti sabar, tawakal, menjaga diri dari maksiat (wará), hidup pas-pasan (faqîr), menerima apa adanya (qana’ah), menolak kemewahan (zuhd), rela terhadap keadaan (ridhá), cinta (mahabbah), dan mengenal Tuhan (ma’rifah). Sementara contoh hâl/ahwâl seperti merasa selalu diawasi (murâqabah), takut (khauf), selalu berharap (rajá), rindu (syawq), tenang dan intim (uns), tenang (thuma’nînah), penyaksian (musyâhadah), keyakinan yang teguh (yaqîn) yang semuanya mengarah pada Tuhan.
Di bagian lain, saya telah memasukkan mabuk (sukr, sakira), menangis (buká) sebagai hal bagi orang-orang yang menikmati jalan spiritual ini. Tetapi yang lebih revolusioner adalah bodoh (bahlûl/bahâlil) dan gila (majnûn/majânin)⁷ sebagai hal oleh Ibnu Arabi. Ia mengisahkan pernah bertemu dan beinteraksi dengan orang-orang bodoh dan gila ini pada beberapa kesempatan.⁸
Dengan cara hidup seperti itu, para penempuh jalan spiritual mencapai Tuhan (ma’rifah) secara sempurna. Ketika pada level ma’rifah, kelakuan atau perbuatan seorang hamba ibarat robot yang digerakkan. Bukan ia yang melakukan sesuatu melainkan Tuhan yang melakukannya. Kehendaknya adalah kehendak Tuhan. Niatnya mewujudkan sesuatu, maka jadilah sesuatu itu.
Tuhan punya sekelompok orang yang akalnya ditirai oleh kesibukannya mengurusi pekerjaan yang disyariatkan padanya. Pekerjaan disini berupa ibadah mahdhah.(hablun min al-Lâh) seperti shalat, puasa, zakat, haji maupun ibadah ghayra mahdhah/mua’malah, bisnis, urusan umum lain yang baik dalam hubungannya dengan kemanusiaan (hablun min al-nâsi), termasuk mengurus negara. Mereka ini tidak tahu-menahu dan tidak memiliki ilmu bahwa Tuhan memiliki “perkara-perkara yang datang (menghujam) secara tiba-tiba” (wârid) tanpa ada sebab yang mendahului, tanpa disadari tanpa memiliki ilmu serta kesiapan akan kedahsyatannya. Akibatnya orang-orang itu kehilangan akal selayaknya orang yang hilang akal. Kemudian Tuhan menjadikan perkara yang Dia hujamkan itu senantiasa tersaksikan (syahid) bagi orang tersebut, hingga akhirnya ia hanyut dalam kecintaan pada perkara itu dan terus-menerus menghabiskan waktu bersamanya. Mereka bertindak di luar akalnya. Akalnya tertawan dan yang tersisa hanya akal hewaninya (secara fitrah) seperti makan, minum, dan bertindak tanpa kendali dan pertimbangan. Akalnya ada tapi tak fungsional.
Mereka ini adalah “orang-orang Gila yang Berakal” (‘uqalâ’ al-majânîn),⁹ karena mereka masih bisa mengonsumsi kebutuhan tabiatinya seperti hewan-hewan dan makhluk hidup lainnya. Berbeda dengan mereka yang hâl-nya itu berlangsung terus-menerus hingga akhir hidupnya, maka inilah di jalan spiritual dengan “kegilaan” (junûn), seperti kasus Abû ‘Iqal al-Maghribi ra. Tapi ada juga para majnûn yang ‘dikembalikan’ normal, sehingga ia terlepas dari hâl-nya dan bisa berkomunikasi dengan akal sehatnya. Ia bisa mengendalikan tindakannya dan paham tentang apa yang dikatakannya.
Kesufian Populer
Bahlil bukan seorang sufi apalagi Nabi. Ia hanya seorang hamba yang sama dengan hamba Tuhan yang lain. Pasti banyak orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama bahkan paling suram sekalipun, dibanding Bahlil. Cuma Tuhan selalu memilih hamba-hamba-Nya (yang secara fitrah adalah khalifah), dengan derajat yang berbeda-beda untuk menguji setiap hamba tentang apa yang diperolehnya (Qs. Al-An’am : 165).
Ada yang diangkat derajatnya menjadi menteri, pejabat tinggi, pejabat rendahan, staf biasa hingga office boy untuk menguji ketaatan mereka pada pekerjaannya dan pertanggungjawaban akhirnya kepada Tuhan. Derajat (jabatan dan harta) manusia yang berbeda-beda itu sesuai dengan hasil usahanya. Dalam hal ini, hasil tidak pernah mengingkari usaha seseorang (Qs. An-Najm : 39).
Pengalaman Bahlil yang panjang, jatuh bangunnya, sabar dalam kemiskinan (termasuk sabar menghadapi orang-orang yang menghina dan memfitnahnya), tawakal, rela atas keadaan yang menimpanya, hidup pas-pasan sewaktu kecil hingga remaja, tidak mewah-mewah walaupun sudah punya banyak jabatan dan harta (tidak biasa berada di ruang ber-AC terlalu lama), pasrah pada ketentuan apapun atasnya, misalnya rela mati-matian mempertahankan marwah negara dari rongrongan deep state,¹⁰ adalah latihan (riyâdhah) dan perjuangan (mujâhadah) dalam makna yang lebih nyata atau juga representasi dari praktek kesufian populer.¹¹
Bahlil berkali-kali mengatakan ia bekerja sesuai arahan presiden, memahami apa yang diperintahkan dan memahami profesinya selaku pembantu presiden. Ia bekerja secara tekun, menghabiskan waktu bersama presiden untuk hal-hal pelik di luar pengetahuannya. Pada posisi ini akalnya tertawan, dan yang bekerja adalah instingnya. Ia pernah mengakui, mengurusi investasi dan energi adalah di luar pengetahuannya, namun hasilnya spektakuler, melampaui target. Sebuah kegilaan (‘uqalâ’ al-majânîn), dalam kategori prestasi kerja.
Satu hal yang tidak pernah terjadi di era kepemimpinan partai Golkar sebelumnya, yaitu ketika menghadiri HUT ke-65 MKGR di Jakarta, 18 Januari 2025, ia terkesan dengan pembacaan ayat Al-Qur’an di awal acara. Dalam sambutannya, ia meminta agar pembacaan ayat suci Al-Qur’an dijadikan tradisi di setiap acara resmi partai Golkar, baik yang diselenggarakan oleh partai maupun oleh kader Golkar di DPR. Bayangkan, partai nasionalis sekuler sekelas Golkar, ia mampu menjadikannya sebagai partai nasionalis relijius.
Bahlil dengan pesonanya selalu tampil membawakan spritualitas publik yang jarang dipunyai jajaran kabinet. Dan jika anda perhatikan, di setiap penampilan publiknya, frasa keislaman seperti “Bismillah”, “Alhamdulillah” atau “Insya Allah” termasuk ketika menutup pembicaraan dengan ucapan “Billahit taufiq wal hidayah” (tradisinya di HMI), senantiasa selalu menjadi ciri khasnya. Faktor-faktor kecil tapi menentukan ini yang membuat Bahlil berbeda di panggung politik nasional. Ia memang pandé membaca peta sosial politik Tanah Air.
Ciputat, 22 Februari 2026.
————————–
¹Saat ini STIE Port Numbay Jayapura Papua sudah terlacak di Google.
²Boleh jadi kata “pandir” yang berarti “bodoh” dalam pengucapan orang-orang di wilayah timur Indonesia menjadi pandé yakni “orang pintar” (orang pandai). Rasulullah Muhammad S.a.w juga disebut Nabi yang ummí, yang diartikan tidak pandai membaca (illiterate) tetapi mengapa beliau memiliki kepiawaian di dalam memimpin?
³Lihat, Muhyiddin Ibnu ‘Arabi, Al-Futûhât al-Makkiyah (terjemahan catatan kaki), penterjemah Harun Nur Rosyid, jilid 4, Cet.II, II, Yogyakarta : Darul Futuhat, 2017, h. 65.
⁴Lihat, Muridan S. Widjojo, Pemberontakan Nuku, Depok : Komunitas Bambu, 2013, h. 343.
⁵Kisah cinta Qays yang tergila-gila pada Layla membuatnya lupa mandi dan makan, mengelana kemana-mana mencari Layla. Pakaiannya yang lusuh dan badanya kurus kerontang tak dipedulikannya. Ia menjadi pria majnûn yang rela mencium cakar anjing-anjing yang lewat di jalan yang pernah dilewati Layla. Juga kisah Syekh Syan’an dalam kisah klasik versi Attar yang jatuh cinta pada seorang gadis Kristen, meninggalkan segala yang berhubungan dengan Islam. Ia rela menggembala babi-babi milik sang kekasih. Selanjutnya, lihat, Rorano Pagi, “Hakikat Cinta” by ochen, 21 Mei 2023.
⁶Kalimat ini diambil dari penggalan ayat Qs. Al-A’raf : 198-199 :
وَتَرٰٮهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ. خُذِ الْعَفْوَ.
Ibn ‘Arabi menafsirkannya sebagai isyarat dengan makna yang berbeda dari konteks ayat. Selain berarti maaf dan ampunan, kata al-‘afwu juga berarti kebajikan atau apa yang terbaik dari sesuatu.
⁷Kata majnûn adalah obyek (maf’ûl) dari kata j-n-n yang berarti menutupi, menirai dan menyembunyikan. Misalnya, sahabat Ibnu ‘Arabi semasa di Granada, Abû Al-Hajjâj Yûsuf Al-Gallayrî ra. Juga salah satu sahabatnya semasa di Andalusia, Abu Hasan Ali Al-Salawi ra. Sahabat Ibn ‘Arabi yang terakhir ini selalu tertawa setiap saat, baik ketika shalat maupun di luar shalat.
⁸Terdapat beberapa nama sufi era Abad Pertengahan Islam yang identik dengan status “bodoh” dan “gila” mereka, seperti Abû Bahlûl bin ‘Amrû Al-Syayrafî Al-Hâsyimî Al-‘Abâsî Al-Kûfí, ra, seorang sufi gila yang hidup di era khalifah Hârûn Al-Rasyîd (sezaman dengan Abû Nawâs). Juga Sa’dûn Al-Majnûn ra alias Sa’îd, salah satu dari ‘Uqalâ’ Al-Majânîn yang tinggal di kota Basrah, Irak. Ia berpuasa selama 60 tahun hingga selaput otaknya mengering dan orang memanggilnya si gila.
⁹Lihat, Rorano Sore : “Nalar Orang-orang Gila”, by ochen, 8 Mei 2021, yang mengulas buku Abu Al-Qasim Al-Naisaburi, ‘Uqalâ’ al-Majânîn (1987) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: “Kitab Kebijaksanaan Orang-orang Gila,” oleh penerbit Turos, Jakarta, 2019.
¹⁰Istilah deep state sering digunakan oleh Prabowo Subianto merujuk pada kelompok bayangan atau oknum tertentu yang nyaman dengan pola lama dan berusaha memengaruhi kebijakan negara sementara mereka tidak lagi memegang kendali formal. Kelompok ini digambarkan sebagai penghalang perubahan dan sering mengatur kekuasaan dari balik layar untuk kepentingan kelompoknya.
¹¹Kesufian populer adalah hilirisasi (praktek) tasawuf agar tidak dianggap hanya milik kalangan eksklusif, milik kalangan kyai dan orang-orang yang berkecimpung dalam kehidupan spiritual Islam semata. Kesufian populer menyasar kalangan kelas menengah kota yang setiap hari sibuk berkutat dengan pekerjaan agar kesehariannya lebih spiritual dan transenden.
Berita terkait
Setahun ASR–Hugua: Membaca Arah Tata Kelola...
Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79...
Membaca Sulawesi Tenggara Lewat Data: Perbandingan...
Board of Peace: Perdamaian Tanpa Keadilan
Tentang Email antara Jeffrey Epstein dan...
Penerimaan Road Map: Kekalahan atau Kenegarawanan?...
Berita Terbaru
Miftahul Arifin: PT 7 Persen Bisa...
Dorong Sinergi Program 3 Juta Rumah,...
