JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengecam tindakan oknum pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bantul yang diduga mengolok-olok siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Gibran menilai ucapan pegawai tersebut tidak pantas, terlebih disampaikan di ruang publik ketika kondisi korban masih menjadi perhatian. Ia meminta masyarakat bersama-sama menjaga ruang publik agar tetap aman dan ramah bagi anak-anak.

“Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” ujar Gibran melalui unggahan di akun Instagram resminya, Senin (21/9/2026).

Kecaman Gibran muncul setelah beredar rekaman video yang memperlihatkan seorang pegawai SPPG Bantul sedang menyantap chicken katsu yang disebut merupakan sisa masakan sehari sebelumnya.

Dalam video tersebut, pegawai itu juga melontarkan gurauan mengenai kondisi kehilangan ingatan. Ucapan tersebut kemudian menuai sorotan karena dikaitkan dengan kondisi dua siswi asal Karo yang sebelumnya mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan program MBG.

Kedua siswi tersebut diketahui bernama Febiona Purba dan Agnesia Paruliana Silitonga. Febiona sebelumnya dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah insiden keracunan yang dialaminya.

Wapres Ingatkan Pentingnya Etika di Ruang Publik

Gibran menekankan pentingnya menjaga etika dan kepekaan ketika menyampaikan pernyataan di ruang publik. Menurutnya, anak-anak yang menjadi korban sebuah peristiwa tidak seharusnya kembali menjadi sasaran ejekan atau perundungan.

Pesan tersebut disampaikan Gibran bersamaan dengan unggahan yang menyoroti pernyataan oknum pegawai SPPG Bantul tersebut. Ia mengingatkan bahwa ruang publik, termasuk media sosial, seharusnya menjadi lingkungan yang aman bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

Di tengah sorotan terhadap kasus tersebut, Gibran juga menyampaikan perkembangan kondisi kesehatan kedua siswi korban keracunan MBG. Ia mengapresiasi Tim Dokter RSCM, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Sumatera Utara, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penanganan medis Febiona dan Agnesia.

Gibran menyebut kondisi kedua siswi kini telah berangsur membaik.

“Saat ini Agnesia dan Febiona telah kembali ke rumah masing-masing di Kab. Karo dan akan masuk sekolah kembali,” ujar Gibran.

Kepulangan kedua siswi ke Kabupaten Karo menjadi perkembangan terbaru setelah keduanya menjalani penanganan medis. Gibran menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pemulihan korban.

Menurutnya, perhatian terhadap kondisi korban tidak hanya menyangkut penanganan kesehatan, tetapi juga bagaimana lingkungan sosial memberikan rasa aman dan dukungan selama proses pemulihan.

Ia pun menegaskan pentingnya menjaga ruang publik agar tidak menjadi tempat munculnya perundungan terhadap anak-anak yang sedang menghadapi dampak sebuah peristiwa (red)