JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB Neng Eem Marhamah Zulfa mendukung penuh langkah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang meliburkan sementara puluhan ribu dokter magang untuk menjalani pemeriksaan kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya tragedi meninggalnya enam dokter magang sepanjang 2026.

Neng Eem menilai skrining ulang kesehatan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bentuk perlindungan nyata bagi tenaga medis yang selama ini menghadapi tekanan kerja tinggi.

“Kami mendukung penuh keputusan Kemenkes untuk memperketat skrining fisik dan jiwa bagi calon dokter magang. Kebijakan ini harus menjadi instrumen perlindungan nyata, bukan sekadar pemenuhan syarat administratif di atas kertas. Dokter membutuhkan kondisi fisik dan mental yang kuat untuk bisa menyelamatkan nyawa orang lain,” tegas Neng Eem di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Politisi PKB asal Jawa Barat itu mengungkapkan bahwa beban kerja yang panjang, tekanan psikologis, dan tanggung jawab besar di garda terdepan pelayanan kesehatan membuat dokter magang sangat rentan mengalami burnout atau kelelahan ekstrem hingga gangguan kesehatan mental.

Karena itu, pengetatan medical check-up (MCU) dan tes kepribadian Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) dinilai penting sebagai upaya deteksi dini, bukan untuk memberi stigma terhadap dokter muda.

“Deteksi dini ini murni bentuk perlindungan. Jika sejak awal ditemukan adanya indikasi masalah kesehatan atau kelelahan mental, mereka bisa langsung mendapatkan terapi, pendampingan, atau penyesuaian beban kerja. Dokter yang terganggu kesehatan jiwanya tentu berisiko mengalami kelalaian,” ujarnya.

Menurut Neng Eem, keselamatan tenaga medis harus menjadi prioritas karena kondisi fisik dan mental dokter berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan kepada pasien.

Ia juga menegaskan bahwa meninggalnya enam dokter magang di berbagai daerah sepanjang 2026 harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan dan penempatan dokter internship di Indonesia.

Enam dokter yang meninggal tersebut masing-masing bertugas di RSUD Pagelaran, RS Bhina Bhakti Husada, RS Bhayangkara Denpasar, RSUD KH Daud Arif, RSUD Sukadana, dan RS Sentra Medika Cisalak.

Merespons peristiwa tersebut, Kementerian Kesehatan meliburkan sementara 10.564 dokter magang dari total sekitar 12.000 peserta program internship nasional mulai 30 Juli hingga 14 Agustus 2026 untuk menjalani skrining kesehatan ulang secara massal.

Neng Eem memastikan Komisi IX DPR RI akan mengawal hasil evaluasi tersebut agar menghasilkan perbaikan nyata, termasuk penataan regulasi jam kerja dan sistem pengawasan di rumah sakit.

“Tragedi hilangnya nyawa enam dokter muda ini harus menjadi koreksi mendasar bagi tata kelola program magang nasional. Komisi IX akan memastikan bahwa setelah evaluasi dua pekan ini selesai, regulasi jam kerja dan sistem pengawasan di rumah sakit rujukan benar-benar memanusiakan para tenaga medis kita,” pungkasnya (red)