JAKARTA – Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKB, Ali Ahmad atau Gus Ali, mengecam keras lemahnya pengawasan keselamatan proyek infrastruktur setelah seorang balita berinisial I (4) meninggal dunia akibat terjebak di lubang proyek pembangunan lapangan multifungsi di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.
Menurut Gus Ali, tragedi tersebut bukan lagi sekadar kecelakaan, melainkan alarm bahwa masih terdapat kelalaian sistemik dalam pengelolaan proyek-proyek publik yang berada di tengah permukiman warga.
“Kami menyampaikan rasa duka yang mendalam atas gugurnya ananda I di Manggarai. Namun, jujur saja, kami juga marah. Ini bukan kejadian pertama. Beberapa bulan lalu Surabaya, hari ini Jakarta. Ini adalah alarm keras bahwa ada kelalaian sistemik dalam pengawasan proyek tata kota kita,” kata Gus Ali, Selasa (30/6/2026).
Ia menilai pemerintah daerah tidak boleh lagi menganggap aspek keselamatan sebagai pelengkap dalam setiap proyek pembangunan. Seluruh proyek yang berada di kawasan padat penduduk, kata dia, wajib menerapkan standar keamanan yang jauh lebih ketat.
Gus Ali mendesak pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proyek infrastruktur yang sedang berjalan, terutama yang berada di ruang publik dan dekat kawasan permukiman.
“Proyek tata kota itu mayoritas dikerjakan di tempat strategis yang padat lalu lalang warga, termasuk anak-anak. Standardisasinya harus berlapis! Area proyek wajib diisolasi total, diberi pagar pembatas yang kokoh, lampu penerangan yang jernih di malam hari, dan rambu peringatan yang jelas. Jangan hanya modal tali plastik atau seng seadanya,” tegas legislator asal Jawa Timur tersebut.
Ia juga meminta penerapan Prosedur Operasional Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diawasi secara ketat oleh pemerintah daerah. Menurutnya, kontraktor yang terbukti mengabaikan standar keselamatan hingga menyebabkan korban jiwa harus dikenai sanksi tegas.
“Pemda harus ketat mengawasi kelayakan K3 para kontraktor ini. Kalau mereka lalai hingga menghilangkan nyawa warga, putus kontraknya dan bawa ke ranah hukum. Kita tidak boleh menukar segenggam pembangunan infrastruktur dengan nyawa manusia,” ujarnya.
Tragedi di Manggarai menambah daftar kecelakaan proyek infrastruktur yang memakan korban jiwa. Sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di Surabaya ketika pasangan suami istri lanjut usia terjatuh ke dalam proyek gorong-gorong sedalam 2,5 meter. Sang istri meninggal dunia akibat benturan beton, sementara suaminya mengalami luka-luka.
Gus Ali menegaskan, pembangunan infrastruktur harus tetap berjalan, tetapi keselamatan masyarakat wajib menjadi prioritas utama. Menurutnya, ruang publik harus menjadi tempat yang aman bagi warga, bukan justru berubah menjadi sumber ancaman akibat kelalaian pengelola (red)

Berita terkait