JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua DPP Partai NasDem sekaligus Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menilai maraknya praktik politik uang di Indonesia tidak lepas dari renggangnya hubungan antara partai politik dengan masyarakat. Menurutnya, partai harus membangun kedekatan secara berkelanjutan agar kepercayaan publik tidak hanya dibangun menjelang pemilu.

Pernyataan itu disampaikan Willy saat menjadi pembicara dalam Laga Perubahan 2.0 bertajuk NasDem Naik Kelas pada Pelatihan Kader Penggerak untuk Pengembangan Partai yang diikuti ratusan kader NasDem Banten di Akademi Bela Negara (ABN) NasDem, Pancoran, Jakarta Selatan.

Menurut Willy, hubungan yang terputus antara masyarakat dengan partai politik menjadi salah satu penyebab praktik politik uang terus berkembang dalam setiap kontestasi demokrasi.

“Ketika kita hadir hari ini, maka kemudian politik uang menjadi tidak satu-satunya. Kenapa politik uang menjadi tinggi? Karena representasinya patah. Itu yang kemudian kami lakukan secara sadar, hadir sedari awal, berjuang sedari awal, bergerak sedari awal,” ujar Willy, dikutip Minggu (28/6/2026).

Politisi Partai NasDem itu menegaskan, partai politik tidak boleh hanya muncul saat pemilu atau ketika menghadapi kontestasi politik. Sebaliknya, kader harus aktif berada di tengah masyarakat setiap hari untuk mendengarkan aspirasi sekaligus menjembatani kebutuhan publik dengan kebijakan pemerintah.

“Partai tidak hanya hadir di saat Pemilu semata-mata, partai tidak hanya hadir di saat kontestasi semata-mata, tapi bagaimana kehadiran partai itu day to day,” katanya.

Willy menambahkan, fungsi utama partai politik adalah menjadi penghubung antara masyarakat dan negara. Karena itu, keberadaan partai harus dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar alat meraih suara saat pemilu.

“Kehadiran partai itu wajib hukumnya untuk kemudian menjadi jembatan-jembatan dari aspirasi publik kepada kebijakan-kebijakan publik. Itu yang kemudian NasDem ingin luruskan, itu yang NasDem ingin bangun,” tegasnya.

Melalui penguatan kader dan kehadiran yang konsisten di tengah masyarakat, Willy berharap budaya politik transaksional dapat berangsur berkurang, sementara kepercayaan publik terhadap partai politik semakin meningkat (red)