JAKARTA, BERITA SENAYAN — Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) mengukur popularitas sejumlah tokoh politik yang berpotensi masuk dalam dinamika Pemilu 2029. Hasilnya menunjukkan tingkat popularitas sejumlah tokoh berada di atas angka 80 persen.

Namun, Peneliti LKPI Irwan Ardiansyah mengingatkan bahwa popularitas tidak dapat disamakan secara langsung dengan elektabilitas atau pilihan politik masyarakat.

“Angka tersebut merupakan tingkat popularitas, sehingga tidak dapat secara langsung disamakan dengan ukuran elektabilitas atau pilihan politik dalam kontestasi pemilu,” kata Irwan Ardiansyah, dikutip Jumat (2/10/2026).

Dalam pengukuran LKPI, Presiden Prabowo Subianto memiliki tingkat popularitas 94,7 persen, disusul Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebesar 91,2 persen.

Prabowo dan Gibran Masuk Papan Atas Popularitas

Survei LKPI mencatat Prabowo Subianto menjadi tokoh dengan tingkat popularitas tertinggi dalam daftar yang diukur, yakni 94,7 persen.

Gibran Rakabuming Raka menyusul dengan tingkat popularitas 91,2 persen. Kemudian Anies Baswedan tercatat memiliki popularitas 90,01 persen.

Nama lain yang juga memiliki tingkat popularitas tinggi adalah Dedi Mulyadi sebesar 89,4 persen dan Pramono Anung 88,3 persen.

Selanjutnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki tingkat popularitas 87,56 persen, Puan Maharani 87,51 persen, Muhaimin Iskandar 84,14 persen dan Bahlil Lahadalia 76,48 persen.

Sementara Zulkifli Hasan tercatat memiliki tingkat popularitas 59,74 persen dan Surya Paloh sebesar 53,94 persen. Kelompok lainnya berada di angka 18,11 persen.

Berikut tingkat popularitas tokoh berdasarkan survei LKPI:

  • Prabowo Subianto: 94,7 persen
  • Gibran Rakabuming Raka: 91,2 persen
  • Anies Baswedan: 90,01 persen
  • Dedi Mulyadi: 89,4 persen
  • Pramono Anung: 88,3 persen
  • AHY: 87,56 persen
  • Puan Maharani: 87,51 persen
  • Muhaimin Iskandar: 84,14 persen
  • Bahlil Lahadalia: 76,48 persen
  • Zulkifli Hasan: 59,74 persen
  • Surya Paloh: 53,94 persen
  • Lainnya: 18,11 persen

Irwan menegaskan angka tersebut harus dibaca sebagai tingkat pengenalan atau popularitas tokoh di kalangan responden. Angka tersebut tidak otomatis menggambarkan siapa yang akan dipilih dalam kontestasi politik.

Pembedaan antara popularitas dan elektabilitas menjadi penting karena seorang tokoh dapat dikenal luas oleh masyarakat, tetapi tingkat dukungannya ketika responden diminta memilih calon tertentu dapat berada pada angka yang berbeda.

Elektabilitas Tokoh Berbeda dari Tingkat Popularitas

Ketika LKPI memberikan pertanyaan berbeda mengenai elektabilitas tokoh yang berpotensi menjadi pemimpin nasional pada 2029, angka yang muncul menunjukkan komposisi yang berbeda.

Prabowo Subianto tercatat memperoleh elektabilitas 35,5 persen. Pramono Anung berada di angka 10,4 persen, Gibran Rakabuming Raka 9,2 persen dan Anies Baswedan 8,7 persen.

Puan Maharani memperoleh elektabilitas 6,5 persen, sementara AHY tercatat 5,6 persen.

Selanjutnya Dedi Mulyadi berada di angka 3,8 persen, Bahlil Lahadalia 3,3 persen dan Muhaimin Iskandar 2,6 persen. Kelompok lainnya berada di angka 1,69 persen.

Sementara itu, sebanyak 12,71 persen responden tidak memberikan jawaban.

“Tidak berikan jawaban 12,71 persen,” kata Irwan.

Perbedaan angka tersebut memperlihatkan bahwa ukuran popularitas dan elektabilitas menggunakan pertanyaan yang berbeda. Karena itu, LKPI mengingatkan agar kedua indikator tersebut tidak dibaca sebagai ukuran yang sama.

Irwan juga menegaskan hasil survei merupakan potret preferensi responden ketika pengumpulan data dilakukan. Survei tidak dimaksudkan sebagai prediksi mengenai siapa yang akan memenangkan Pemilu 2029.

“Data ini merupakan potret preferensi responden pada saat survei dilakukan, yakni 8-20 September 2026, dan bukan prediksi hasil Pemilu 2029,” ujar Irwan.

Survei LKPI dilakukan pada 8-20 September 2026 dengan melibatkan 1.246 responden yang tersebar di 36 provinsi di Indonesia.

Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error kurang lebih 3,1 persen.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara face to face dan panggilan telepon yang dipandu langsung oleh pewawancara. Untuk wawancara melalui telepon seluler, tingkat kontak tercatat 35,6 persen dengan tingkat respons 33,1 persen.

Sementara wawancara face to face mencapai 64,4 persen dengan tingkat respons sebesar 58,3 persen.

Dengan demikian, hasil survei LKPI memberikan dua gambaran berbeda mengenai tokoh politik menjelang 2029. Popularitas menunjukkan seberapa dikenal tokoh oleh responden, sedangkan elektabilitas dalam survei tersebut mengukur pilihan ketika responden ditanya mengenai tokoh potensial sebagai pemimpin nasional.

Keduanya merupakan indikator berbeda dan perlu dibaca berdasarkan pertanyaan survei, periode pengumpulan data, serta metodologi yang digunakan (red)