JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pengamat politik Ray Rangkuti menilai safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan sekadar agenda silaturahmi politik. Menurutnya, langkah tersebut merupakan strategi untuk menjaga elektabilitas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka agar tetap menjadi figur nasional menjelang kontestasi politik berikutnya.
Ray mengatakan, terdapat dua tujuan yang ingin dicapai Jokowi melalui aktivitas politik tersebut, yakni target jangka panjang dan jangka pendek. Dalam jangka panjang, Jokowi dinilai ingin memastikan posisi politik Gibran tetap kuat sebagai salah satu tokoh nasional.
“Ada target jangka pendek dan jangka panjang. Jangka panjangnya memastikan Gibran terus berada di level nasional. Target utamanya tetap bersama dengan Prabowo di pilpres yang akan datang,” kata Ray di Channel YouTube Kanal SA, Selasa (7/7/2026).
Meski demikian, Ray memprediksi peluang Presiden Prabowo Subianto kembali menggandeng Gibran sebagai calon wakil presiden pada pemilihan presiden mendatang tidak terlalu besar.
Menurutnya, Prabowo memiliki banyak alternatif figur yang berpotensi dipilih sebagai pendamping sehingga Jokowi mulai menyiapkan berbagai skenario politik bagi putranya.
“Pertanyaannya, apakah Pak Prabowo kelihatan meminang kembali Gibran sebagai calon wakil presiden? Prediksi saya tidak lebih dari 30 persen. Berarti 70 persennya beliau punya banyak sekali calon yang memungkinkan untuk direkrut sebagai cawapres. Nah, ini yang dibaca oleh Jokowi,” ujarnya.
Ray menilai apabila Gibran tidak kembali dipilih menjadi pendamping Prabowo, maka Jokowi kemungkinan akan menyiapkan opsi lain, baik mendorong Gibran maju sebagai calon presiden maupun berpasangan dengan tokoh nasional lainnya.
Namun apa pun skenario yang dipilih, menurut Ray, satu syarat utama tetap harus dipenuhi, yakni menjaga tingkat elektabilitas Gibran agar tidak mengalami penurunan.
“Tetap bersama dengan Prabowo atau tidak bersama dengan Prabowo dan bergandengan dengan yang lain, cuma satu syaratnya, elektabilitas Gibran itu harus terpelihara. Oleh karena itu sekarang dilakukan safari politik,” katanya.
Selain kepentingan jangka panjang, Ray juga melihat adanya pertimbangan politik jangka pendek di balik safari politik Jokowi. Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian dari antisipasi apabila terjadi dinamika politik atau kondisi tak terduga yang memengaruhi jalannya pemerintahan hingga 2029.
“Jangka pendeknya, siapa tahu ada sesuatu yang tidak terduga yang berhubungan dengan kekuasaan Pak Prabowo, mungkin karena faktor alam atau faktor politik sehingga tidak dapat melanjutkan pemerintahan sampai 2029,” ujarnya.
Dalam situasi tersebut, Ray menilai penguatan legitimasi politik Gibran menjadi penting agar publik semakin siap menerima peran politik yang lebih besar dari Wakil Presiden tersebut di masa mendatang.
“Kalau ada yang mengatakan harus memikirkan kemungkinan Prabowo tidak sampai 2029, maka otomatis di dalamnya juga ada kepentingan untuk mempersiapkan Gibran,” pungkasnya (red)

Berita terkait