Awali Tahun 2026, Haedar Nashir Serukan Solidaritas dan Keteladanan Elite Bangsa
Rabu, 31 Desember 2025, 15:39:30 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyerukan pentingnya solidaritas nasional, empati sosial, dan keteladanan elit bangsa dalam mengawali tahun 2026, di tengah duka akibat bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan sejumlah daerah lainnya.
Haedar menilai, musibah yang terjadi menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia harus menghadapi awal tahun dengan keprihatinan bersama, bukan pesta pora dan euforia berlebihan.
“Mengawali tahun 2026 alangkah elok jika dilakukan dengan empati, tanpa pesta dan hura-hura, sebagai wujud merasakan derita sesama saudara sebangsa,” ujar Haedar dalam Refleksi Akhir Tahun bertajuk Bangkit Bersama untuk Indonesia, Rabu (31/12).
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum memperkuat ketangguhan, persatuan, serta semangat membangun kehidupan yang lebih produktif dan bermakna.
Menurut Haedar, refleksi spiritual, intelektual, dan sosial sangat diperlukan agar perjalanan kebangsaan Indonesia ke depan tetap berada di jalan yang benar dan tercerahkan. Nilai-nilai ketuhanan serta Pancasila harus terus dirawat sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di tengah situasi bencana, Haedar menegaskan pentingnya membangun optimisme dan semangat bangkit, bukan menyebarkan kepanikan, pesimisme, maupun kegaduhan sosial.
“Kami menaruh hormat kepada para korban bencana yang terus berjuang dengan kesabaran dan semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi ekosistem Indonesia pascabencana, melalui kajian objektif berbasis riset multidisipliner. Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi dasar pembenahan di bidang politik, sosial, ekonomi, tata ruang, dan lingkungan.
Selain itu, Haedar mengingatkan bahwa kohesivitas nasional menjadi kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas tantangan global. Nilai Persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika harus dihidupkan sebagai nilai nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan agar media sosial tidak dijadikan arena konflik yang merusak persatuan bangsa. Menurutnya, kegaduhan akibat informasi sensitif dan tidak sahih berpotensi melahirkan konflik sosial jika tidak disikapi dengan kedewasaan.
“Bangsa ini terlalu mahal harganya jika harus pecah hanya karena ketidakmampuan menahan diri dalam bermedia sosial,” tegas Haedar.
Dalam konteks global yang semakin kompleks, Haedar menilai Indonesia dituntut melakukan transformasi kehidupan yang bermakna, berlandaskan Pancasila, agama, dan nilai luhur budaya bangsa, agar mampu menjaga demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralitas secara berkeadaban.
Ia pun menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam menjalankan kewajiban konstitusional secara konsisten untuk melindungi rakyat, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjaga perdamaian dunia.
Menutup pernyataannya, Haedar mengimbau para tokoh politik, pejabat negara, dan pemimpin agama agar menampilkan keteladanan dan jiwa kenegarawanan yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan.
“Para elit bangsa harus menjadi suluh pencerah, sementara seluruh rakyat dituntut semakin dewasa dan terdidik agar Indonesia melangkah menuju masa depan yang berkemajuan dan berperadaban utama,” pungkasnya (red)
Berita terkait
Andi Syafrani: Rakernas II LIRA Upaya...
PPKD Masalili Umumkan Calon Kades yang...
Ketua AMPG DKI Prediksi Persija Menang...
Afdhal Alattas: Provinsi Luwu Raya adalah...
Institute Sarinah: AS Lakukan Terorisme Negara...
KUHP Baru di Persimpangan Harapan dan...
Berita Terbaru
Menopang Ekonomi Indonesia di 2026 :...
Hetifah Sjaifudian: Anggaran Khusus Bencana Wajib...
