Berita Senayan
Network

Toha Soroti Kerusakan Lingkungan sebagai Pemicu Bencana

Redaksi
Laporan Redaksi
Jumat, 05 Desember 2025, 13:43:19 WIB
Toha Soroti Kerusakan Lingkungan sebagai Pemicu Bencana
Anggota Komisi II DPR RI, Mohammad Toha



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi II DPR RI, Mohammad Toha, menyoroti semakin parahnya kerusakan lingkungan yang menjadi pemicu berbagai bencana hidrometeorologi di Indonesia. Ia menegaskan perlunya peran aktif pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan agar kerusakan lingkungan tidak terus menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat.

Menurut Toha, tumpukan persoalan lingkungan yang dibiarkan selama bertahun-tahun kini berbalik menjadi bencana besar. Ia menilai hal ini terjadi karena lemahnya pemantauan di tingkat daerah serta rendahnya pelaporan terhadap dugaan penyalahgunaan kawasan hutan.

“Kondisi lapangan itu paling dipahami pemerintah daerah. Karena itu, jika ada penyalahgunaan kawasan hutan atau pelanggaran izin, mereka harus segera bertindak. Jangan sampai ada pembiaran,” ujarnya di Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Ia mendorong pemda membangun sistem pemantauan yang terstruktur dan real time sehingga potensi pelanggaran dapat terdeteksi lebih cepat. Meski banyak izin dikeluarkan oleh pemerintah pusat, eksekusi kegiatan tetap berada dalam ruang koordinasi pemda.

Toha juga menyerukan keterlibatan masyarakat dan aktivis lingkungan untuk memperkuat fungsi kontrol publik. Menurutnya, sinergi banyak pihak menjadi kunci untuk mencegah semakin meluasnya kerusakan lingkungan.

Legislator PKB itu menekankan bahwa penegakan hukum harus dilaksanakan tanpa tebang pilih agar memberi efek jera kepada para pelaku yang merusak kawasan hutan.

“Penegakan hukum harus tegas dan adil. Jika ada pembiaran, semua pihak yang membiarkan ikut menanggung konsekuensinya,” tegasnya.

Seruannya ini merespons bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Peristiwa tersebut menyebabkan 3,3 juta warga terdampak, lebih dari 700 meninggal dunia, serta puluhan ribu bangunan rusak.

Selain faktor cuaca ekstrem, bencana itu disebut sebagai akumulasi dari kerusakan lingkungan yang dibiarkan menumpuk hingga akhirnya meledak menjadi bencana dahsyat (red)