JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Beniyanto Tamoreka, mendukung strategi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk meningkatkan produksi minyak nasional. Menurutnya, optimalisasi sumur minyak tua, pengaktifan kembali sumur tidak aktif, dan percepatan proyek minyak dan gas bumi (migas) menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Beniyanto menilai Indonesia masih memiliki potensi minyak yang perlu dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, pemerintah perlu mempercepat pemanfaatan teknologi, mengoptimalkan lapangan minyak eksisting, serta mendorong proyek migas yang telah memperoleh persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development (POD).

“Saya kira langkah yang disampaikan Menteri ESDM ini sangat tepat dan perlu didukung. Kita mempunyai lapangan minyak yang masih bisa dioptimalkan, ada sumur-sumur yang masih memiliki potensi, dan ada proyek migas yang sudah masuk tahap pengembangan. Semua potensi ini harus segera didorong agar memberikan tambahan produksi bagi negara. Kita tidak boleh terus bergantung pada impor sementara potensi minyak di dalam negeri belum dimanfaatkan secara maksimal,” kata Beniyanto lewat keterangan resminya kepada Berita Senayan, Jum’at (16/10)

Ia menjelaskan, penerapan teknologi pada sumur-sumur tua berpotensi meningkatkan produksi dari lapangan yang masih memiliki cadangan. Sementara itu, pengaktifan kembali sumur tidak aktif harus mempertimbangkan kelayakan teknis, keekonomian, dan keselamatan operasional.

Beniyanto juga mengapresiasi penataan sumur minyak rakyat melalui skema resmi. Menurutnya, upaya tersebut dapat membuka peluang peningkatan produksi sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya minyak yang lebih tertata.

“Ini perkembangan yang positif. Sumur minyak rakyat yang sebelumnya berada di luar sistem sekarang mulai ditata dan sebagian sudah memberikan tambahan produksi. Kita berharap langkah ini terus diperluas ke daerah-daerah lain yang memiliki potensi serupa,” ujarnya.

Dorong Optimalisasi Sumur Tua dan Percepatan Proyek Migas

Beniyanto menegaskan, peningkatan produksi minyak nasional membutuhkan langkah yang terukur dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan setiap strategi pengembangan migas mampu menghasilkan tambahan produksi nyata, bukan sekadar peningkatan jumlah proyek atau aktivitas pengeboran.

Ia meminta pemerintah, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), serta kontraktor kontrak kerja sama memperkuat koordinasi untuk mempercepat proyek-proyek strategis. Hambatan investasi, perizinan, dan persoalan teknis yang memperlambat pengembangan lapangan harus segera diidentifikasi dan diselesaikan.

Selain mengoptimalkan lapangan yang sudah berproduksi, kegiatan eksplorasi juga perlu diperkuat untuk menemukan cadangan baru. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi minyak nasional dalam jangka panjang.

“Ukuran keberhasilannya harus jelas. Bukan hanya berapa banyak sumur yang dibor atau berapa proyek yang disetujui, tetapi berapa tambahan barel minyak yang benar-benar masuk ke produksi nasional,” tegasnya.

Menurut Beniyanto, peningkatan produksi perlu menjadi prioritas karena kebutuhan minyak Indonesia masih lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri. Setiap tambahan produksi domestik diharapkan membantu mengurangi kebutuhan impor dan memperkuat ketahanan energi.

Ia juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi harus disertai pengawasan terhadap aspek keselamatan dan kelayakan ekonomi. Dengan demikian, upaya meningkatkan produksi tidak hanya memberikan hasil dalam jangka pendek, tetapi juga menjaga keberlanjutan kegiatan usaha hulu migas.

Strategi Bahlil Dinilai Sejalan dengan Target Swasembada Energi Prabowo

Beniyanto berharap tiga strategi yang disampaikan Bahlil, yakni optimalisasi sumur tua melalui teknologi, pengelolaan kembali sumur tidak aktif, dan percepatan proyek migas yang telah disetujui, segera menghasilkan peningkatan produksi yang terukur.

Menurutnya, keberhasilan strategi tersebut membutuhkan kerja sama pemerintah dan pelaku industri, disertai target produksi yang jelas serta evaluasi berkala terhadap hasil pelaksanaannya.

Ia menilai peningkatan produksi minyak dalam negeri sejalan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada energi sebagai salah satu prioritas nasional. Karena itu, percepatan implementasi kebijakan dinilai penting untuk memperkuat kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

“Kita mendukung langkah Pak Bahlil untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Presiden Prabowo sudah memberikan arah yang jelas mengenai swasembada energi, dan sekarang yang dibutuhkan adalah percepatan pelaksanaannya. Semakin besar kemampuan Indonesia memproduksi minyak sendiri, semakin kecil ketergantungan terhadap impor dan semakin kuat ketahanan energi nasional kita,” pungkas legislator dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah tersebut.

Beniyanto menegaskan, penguatan produksi domestik harus didukung kebijakan yang konsisten, percepatan investasi, pemanfaatan teknologi, serta optimalisasi potensi sumber daya yang tersedia. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memperkecil kesenjangan antara produksi dan kebutuhan minyak nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia (red)