JAKARTA, BERITA SENAYAN – Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) memotret peta elektabilitas partai politik menjelang Pemilu 2029. Hasilnya, Partai Gerindra berada di posisi teratas dengan elektabilitas 17,3 persen, hanya terpaut 0,5 persen dari PDI Perjuangan yang berada di angka 16,8 persen.

Peneliti LKPI Irwan Ardiansyah mengatakan hasil tersebut merupakan gambaran preferensi politik responden pada saat survei dilakukan. Di bawah Gerindra dan PDIP, sejumlah partai lain tercatat berada dalam persaingan dengan angka elektabilitas yang lebih rendah.

“Sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban,” kata Irwan Ardiansyah, dikutip Jumat (2/10/2026).

Survei LKPI dilakukan pada 8-20 September 2026 dengan melibatkan 1.246 responden yang tersebar di 36 provinsi di Indonesia.

Gerindra dan PDIP Terpaut 0,5 Persen

Dalam survei tersebut, Gerindra memperoleh elektabilitas 17,3 persen. PDI Perjuangan menyusul dengan 16,8 persen.

Selisih 0,5 persen tersebut menunjukkan kedua partai berada pada rentang angka yang berdekatan dalam pengukuran LKPI pada September 2026.

Setelah Gerindra dan PDIP, Partai NasDem tercatat memperoleh elektabilitas 7,3 persen. PKB berada di angka 6,2 persen, sementara Partai Golkar memperoleh 6,1 persen.

Selanjutnya, PKS mencatat 5,5 persen, PAN 4,3 persen, PSI 4,3 persen dan Partai Demokrat 4,1 persen.

Kelompok partai lainnya yang dalam survei disebut sebagai gabungan partai di luar parlemen memperoleh 5,6 persen.

Berikut gambaran elektabilitas partai politik berdasarkan survei LKPI:

  • Gerindra: 17,3 persen
  • PDIP: 16,8 persen
  • NasDem: 7,3 persen
  • PKB: 6,2 persen
  • Golkar: 6,1 persen
  • PKS: 5,5 persen
  • PAN: 4,3 persen
  • PSI: 4,3 persen
  • Demokrat: 4,1 persen
  • Partai di luar parlemen: 5,6 persen

Irwan mengatakan masih terdapat proporsi responden yang cukup besar yang belum memberikan pilihan ketika ditanya mengenai partai politik.

“Data tersebut menggambarkan bahwa menjelang kontestasi politik 2029, masih terdapat proporsi responden yang cukup besar yang belum memberikan pilihan atau belum menentukan jawabannya dalam pertanyaan mengenai partai politik,” ujar Irwan.

Dengan demikian, angka elektabilitas tersebut merupakan potret preferensi responden pada periode survei, bukan hasil Pemilu 2029.

LKPI Ungkap Metode Pengambilan Data

Survei LKPI dilaksanakan pada 8-20 September 2026 dengan melibatkan 1.246 responden. Responden tersebar di 36 provinsi yang mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error kurang lebih 3,1 persen.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan panggilan telepon. Proses wawancara dipandu langsung oleh pewawancara.

Untuk survei melalui telepon seluler, responden dihubungi menggunakan nomor ponsel virtual yang dihasilkan secara acak. Tingkat kontak melalui telepon seluler tercatat sekitar 35,6 persen, dengan tingkat respons sebesar 33,1 persen.

Sementara itu, wawancara tatap muka mencakup 64,4 persen dari proses pengumpulan data dengan tingkat respons sebesar 58,3 persen.

Hasil survei tersebut memperlihatkan persaingan elektabilitas yang relatif berdekatan antara Gerindra dan PDIP dalam pengukuran September 2026. Di sisi lain, partai-partai lain berada pada rentang elektabilitas yang lebih rendah dan masih memiliki ruang untuk melihat perkembangan preferensi publik menjelang Pemilu 2029.

Namun, besarnya proporsi responden yang tidak memberikan jawaban juga menjadi bagian penting dalam membaca hasil survei tersebut. Sebanyak 22,5 persen responden tercatat tidak memberikan jawaban ketika ditanya mengenai pilihan partai politik (red)