JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Taufiq R. Abdullah, meminta penyelenggara Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) lebih adaptif terhadap kondisi di lapangan, termasuk ketika menghadapi cuaca ekstrem.

Menurut Taufiq, kondisi cuaca, kemampuan fisik peserta, kecukupan hidrasi, waktu istirahat, serta kesiapan fasilitas kesehatan harus menjadi bagian dari pertimbangan selama latihan berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul wafatnya Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Ekonomi Kreatif, Vanreko Varkas Bagaskara, saat mengikuti Latsarmil Komcad di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (28/09).

Taufiq menilai keberhasilan latihan tidak semestinya hanya diukur dari tingkat beratnya materi yang diberikan. Keselamatan dan kesehatan peserta juga harus menjadi bagian penting dari pencapaian tujuan latihan.

Taufiq Minta Instruktur Berani Sesuaikan Beban Latihan

Taufiq meminta Kementerian Pertahanan dan penyelenggara Latsarmil Komcad memberikan ruang kepada instruktur untuk melakukan penyesuaian apabila situasi di lapangan berpotensi membahayakan peserta.

Penyesuaian dapat dilakukan melalui pengurangan beban fisik, perubahan pola latihan, penambahan waktu istirahat, hingga penghentian sementara kegiatan apabila kondisi dinilai tidak memungkinkan.

Menurutnya, keputusan tersebut bukan berarti mengurangi kualitas latihan. Sebaliknya, kemampuan penyelenggara dalam membaca kondisi peserta dan lingkungan menjadi bagian dari manajemen risiko dalam pelatihan.

“Jangan sampai ada anggapan bahwa semakin berat latihan berarti semakin baik hasilnya. Ukuran keberhasilan pelatihan bukan seberapa berat beban diberikan, melainkan bagaimana peserta mencapai tujuan pelatihan dengan tetap selamat dan sehat,” ucap Taufiq.

Ia juga mengingatkan bahwa peserta Latsarmil Komcad memiliki latar belakang dan kemampuan fisik yang beragam. Karena itu, kesiapan seseorang tidak cukup ditentukan berdasarkan pemenuhan persyaratan administratif.

“Peserta harus benar-benar siap secara fisik dan mental. Jangan hanya melihat seseorang memenuhi syarat secara administratif, tetapi kondisinya harus dipastikan mampu mengikuti seluruh tahapan latihan,” kata Taufiq.

Keselamatan Peserta Jadi Bagian Kesiapan Pertahanan

Taufiq menegaskan program Komcad tetap memiliki nilai strategis bagi sistem pertahanan negara. Namun, pencapaian kesiapsiagaan pertahanan harus berjalan bersama dengan perlindungan terhadap keselamatan peserta.

Ia meminta standar penyelenggaraan latihan memperhatikan berbagai faktor yang dapat memengaruhi kondisi peserta. Selain cuaca dan intensitas aktivitas fisik, aspek hidrasi, istirahat, serta kesiapan tenaga dan fasilitas kesehatan juga perlu diperhitungkan.

“Pelaksanaan latihan harus mempertimbangkan kondisi cuaca, kemampuan fisik peserta, kecukupan hidrasi, waktu istirahat, serta kesiapan fasilitas kesehatan. Jangan sampai standar latihan justru mengabaikan keselamatan peserta,” tegasnya.

Menurut Taufiq, peristiwa wafatnya peserta Latsarmil Komcad menjadi momentum untuk memperkuat manajemen risiko dalam setiap kegiatan latihan pertahanan.

Komisi I DPR RI, kata dia, akan terus mengawal proses investigasi dan penataan ulang standar operasional prosedur (SOP) penyelenggaraan Komcad.

“Harus ada perbaikan yang nyata pada sistem penyelenggaraan Latsarmil Komcad di masa depan. Perlindungan keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program latihan pertahanan negara,” pungkas Taufiq (red)