JAKARTA, BERITA SENAYAN – Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Y. Thohari menyoroti minimnya referensi tertulis mengenai latar belakang dan pemikiran politik para pendiri Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Hal itu disampaikan Hajriyanto dalam diskusi bertajuk “Para Pendiri Sekber Golkar dan Pemikiran-Pemikiran Politiknya” yang digelar di Sekretariat DPP Partai Golkar, Rabu (9/9/2026).
Menurut Hajriyanto, sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah awal Sekber Golkar selama ini lebih banyak dikenal dari nama dan jabatannya. Sementara, pemikiran politik yang melatarbelakangi keterlibatan mereka masih belum banyak terdokumentasi.
“Tokoh-tokoh bergelar yang lain seperti Pak S. Sukowati, Pak Amir Murtono, dan beberapa nama yang lain itu hanya diketahui namanya dan banyak yang tidak tahu latar belakang pemikiran-pemikiran politiknya,” ujar Hajriyanto.
Hajriyanto menilai, keterlibatan sejumlah tokoh dalam kepemimpinan Sekber Golkar pada masa konsolidasi Orde Baru tentu memiliki pertimbangan politik tertentu. Menurutnya, penunjukan tokoh-tokoh seperti Djuhartono dan Amir Murtono tidak terlepas dari latar belakang, kecenderungan dan pemikiran politik yang mereka miliki.
“Pasti diperlukan pimpinan-pimpinan yang memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu, memiliki banyak hal sehingga dipilih,” katanya.
Namun, upaya menelusuri pemikiran para tokoh tersebut menghadapi kendala karena terbatasnya dokumen dan karya tertulis. Hajriyanto menyebut, dalam penelusuran yang dilakukan Akademi Partai Golkar, sejumlah pihak yang pernah berinteraksi dengan para tokoh tersebut juga mengakui tidak banyak mengetahui pemikiran politik mereka.
Karena itu, nama Prof. Thomas Suyatno dinilai menjadi salah satu rujukan penting untuk menggali kembali cerita mengenai para tokoh Sekber Golkar.
“Referensi literal dalam bentuk buku-buku atau dokumen-dokumen tertulis itu sangat kurang mengenai tokoh-tokoh Sekber Golkar tersebut,” jelasnya.
Banyak Bergantung pada Cerita Lisan
Hajriyanto mengatakan, selama ini informasi mengenai tokoh-tokoh Sekber Golkar banyak diperoleh melalui referensi lisan atau cerita dari orang-orang yang pernah mengenal mereka. Persoalannya, sumber-sumber tersebut semakin terbatas karena sebagian besar generasi yang mengalami langsung periode tersebut telah meninggal dunia.
Kondisi itu membuat dokumentasi sejarah pemikiran politik para pendiri Sekber Golkar menjadi semakin mendesak untuk dilakukan.
Hajriyanto kemudian membandingkan persoalan tersebut dengan penelitian Benedict Anderson mengenai gagasan kekuasaan di Indonesia.
Menurutnya, Anderson pernah menghadapi keterbatasan referensi ketika berusaha memahami konsep kekuasaan masyarakat Indonesia pada masa lalu. Karena keterbatasan sumber tertulis, Anderson kemudian menggunakan cerita rakyat sebagai salah satu sumber untuk menangkap gagasan mengenai kekuasaan.
Akademi Golkar Telusuri Akar Pemikiran Partai
Berangkat dari persoalan tersebut, Akademi Partai Golkar berencana melanjutkan serial diskusi mengenai sejarah dan pemikiran politik para tokoh yang berada di balik lahirnya Sekber Golkar.
Hajriyanto mengatakan, langkah tersebut penting agar Partai Golkar tidak hanya mengetahui sejarah organisasinya secara kelembagaan, tetapi juga memahami gagasan politik yang menjadi akar pembentukannya.
Ia menyinggung Anggaran Dasar Partai Golkar yang memuat sejumlah gagasan mengenai pembaruan, pembangunan, dan Golkar sebagai kekuatan pembaruan.
“Kalau kita baca pembukaan Anggaran Dasar Partai Golkar, itu ada sembilan alinea. Tujuh alinea itu mengatakan pembaruan-pembaruan. Golkar sebagai kekuatan pembaruan dan pembangunan dan sebagainya,” katanya.
Menurut Hajriyanto, penting untuk mengetahui pembaruan seperti apa yang dimaksud dan dari kondisi apa pembaruan tersebut hendak dilakukan.
“Ngomong-ngomong yang dulu saja belum kita inventarisir seperti apa dan apanya yang diperbarui, itu pun kita kurang tahu,” ujarnya.
Karena itu, Akademi Partai Golkar akan mencoba melacak akar sejarah Partai Golkar yang bermula dari Sekber Golkar dan organisasi-organisasi fungsional yang menjadi bagian dari proses pembentukannya.
“Kita akan mencoba melacak itu semua, mencari akar-akar Partai Golkar yang bermula dari Sekber Partai Golkar yang sebelumnya itu dari organisasi-organisasi fungsional,” pungkas Hajriyanto (red)

Berita terkait