JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mendorong penguatan ketersediaan bahan baku lokal untuk menopang perkembangan industri aluminium nasional.

Menurutnya, kebutuhan bahan baku dan energi harus menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan pabrik serta pengembangan ekosistem industri di dalam negeri.

Bambang menilai ketersediaan bahan baku yang memadai menjadi salah satu faktor penting agar agenda hilirisasi industri mineral dapat berjalan optimal dan tidak terganggu persoalan pasokan.

“Saran-saran kami, di dalam perencanaan pembangunan pabrik dan perhitungan ekosistem ekonomis, kita bisa memperhatikan perkembangan ketersediaan bahan baku dan energi,” ujar Bambang dalam Audiensi Komisi XII DPR RI dengan Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Jangan Sampai Hilirisasi Terganggu

Bambang menegaskan, pemerintah perlu memperhitungkan seluruh aspek yang berkaitan dengan keberlanjutan industri, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga energi.

Ia mengingatkan, hambatan pasokan dapat berdampak terhadap kemampuan industri dalam meningkatkan produksi dan memperkuat daya saing manufaktur nasional.

“Jangan sampai hambatan-hambatan seperti ini mengganggu optimasi produksi dalam negeri terkait hilirisasi,” tegas legislator Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Bangka Belitung tersebut.

Menurut Bambang, pengembangan industri aluminium tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas produksi. Ekosistem industri juga harus dirancang dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber bahan baku secara berkelanjutan.

Dalam audiensi tersebut, Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) menyampaikan kebutuhan terhadap kemudahan regulasi impor scrap aluminium.

Galunesia menilai pasokan scrap aluminium dari dalam negeri masih terbatas, sementara material tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan industri casting dan extrusion.

Keterbatasan pasokan domestik membuat pelaku industri harus menggunakan aluminium primer atau virgin ingot sebagai alternatif bahan baku.

Namun, penggunaan virgin ingot dinilai memiliki biaya produksi lebih tinggi sehingga dapat memengaruhi daya saing produk manufaktur aluminium Indonesia di pasar regional.

Solusi Bahan Baku Harus Berkelanjutan

Menanggapi kondisi tersebut, Bambang tidak menutup mata terhadap kebutuhan industri memperoleh bahan baku dengan biaya kompetitif.

Namun, ia menilai solusi terhadap persoalan bahan baku harus tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keselamatan nasional.

Menurutnya, pemerintah bersama pelaku industri perlu mencari titik temu antara kebutuhan bahan baku, penguatan industri nasional, perlindungan lingkungan, serta kepastian pasokan energi.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar kebijakan industri tidak hanya menyelesaikan persoalan bahan baku dalam jangka pendek, tetapi juga mampu membangun ekosistem aluminium nasional yang kuat dan berkelanjutan.

Dengan ketersediaan bahan baku dan energi yang lebih terjamin, Bambang berharap industri dalam negeri dapat meningkatkan produksi sekaligus mendukung agenda hilirisasi pemerintah tanpa menghadapi hambatan pasokan yang berulang (red)