JAKARTA, BERITA SENAYAN – DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DKI Jakarta menegaskan bahwa sekolah dan pesantren harus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak, bukan justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan seksual yang mengancam masa depan generasi muda.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Pendidikan Tanpa Kekerasan Seksual, Ruang Aman Bukan Mimpi” yang digelar di Aula Kantor DPW PKB DKI Jakarta. Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pengelola pesantren, kepala sekolah, guru, aktivis perlindungan anak, organisasi perempuan, mahasiswa hingga media massa.

Wakil Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Wafa Patria Umma, mengatakan seluruh pemangku kepentingan harus memiliki kesadaran yang sama bahwa lembaga pendidikan wajib menjadi ruang yang aman bagi tumbuh kembang anak.

“Kami berharap seluruh pihak memiliki kesadaran yang sama bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang. Karena itu, pencegahan dan penanganan kekerasan, termasuk kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, harus menjadi perhatian bersama,” kata Wafa, Minggu (14/6/2026).

Menurut Wafa, perlindungan terhadap peserta didik tidak cukup hanya dengan slogan atau kampanye sesaat. Diperlukan langkah konkret berupa penguatan regulasi, sistem pengawasan yang efektif, serta keberanian seluruh pihak untuk bertindak ketika menemukan indikasi kekerasan seksual.

Ia juga mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Sekolah untuk memastikan setiap kasus ditangani secara cepat, transparan, dan berpihak kepada korban.

Dalam diskusi tersebut, Sekretaris Wilayah DPW PKB DKI Jakarta, Fauzi, mengingatkan bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan masih terus terjadi dan memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa.

“Indonesia hari ini belum sepenuhnya baik-baik saja. Berbagai kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk di pesantren, masih terus terjadi dan menjadi perhatian serius,” ungkap Fauzi.

Sementara itu, psikolog Mia Silmiah Sazely menilai pendidikan pencegahan kekerasan seksual sejak dini menjadi salah satu kunci penting untuk melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan.

Menurut Mia, edukasi yang tepat dapat membangun keberanian anak untuk menolak tindakan yang tidak pantas, melapor ketika menjadi korban, serta membantu teman yang mengalami kekerasan.

“Kekerasan seksual menimbulkan dampak serius dan masif bagi masyarakat. Edukasi pencegahan diperlukan untuk membentuk karakter anak yang berani menolak, berani menyuarakan anti-kekerasan, dan mampu menjaga dirinya sendiri,” jelasnya.

Melalui forum tersebut, PKB DKI Jakarta mendorong pembentukan SOP penanganan kekerasan seksual di sekolah dan pesantren, pembentukan unit perlindungan anak dan santri, serta penguatan pendidikan pencegahan kekerasan seksual yang sesuai dengan nilai agama dan budaya Indonesia.

PKB berharap gerakan bersama ini dapat mengakhiri praktik kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dan memastikan setiap anak Indonesia memperoleh haknya untuk belajar dalam suasana yang aman, nyaman, dan bermartabat (red)