Berita Senayan
Network

Atalia Praratya Soroti Tren Anak Muda Menunda Pernikahan

Redaksi
Laporan Redaksi
Rabu, 01 April 2026, 19:34:54 WIB
Atalia Praratya Soroti Tren Anak Muda Menunda Pernikahan
Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya,



BOGOR, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, menyoroti fenomena penurunan angka pernikahan dan tren menunda pernikahan di kalangan generasi muda yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Hal tersebut disampaikan saat pengawasan revitalisasi Kantor Urusan Agama (KUA) dalam Kunjungan Kerja Spesifik Tim Komisi VIII DPR RI di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026).

Atalia mengapresiasi program pendampingan pra-nikah dan keluarga sakinah yang dijalankan Kementerian Agama. Namun, ia menilai tantangan sosial saat ini semakin kompleks, seiring perubahan pola pikir generasi muda.

“Ada kekhawatiran terkait masa depan di kalangan anak muda, sehingga mereka ragu untuk membina keluarga atau memiliki keturunan. Di sisi lain, kita juga masih menghadapi PR besar terkait tingginya angka pernikahan usia dini bagi mereka yang belum cukup umur,” ujar Atalia.

Menurutnya, fenomena seperti pilihan hidup tanpa anak (childfree) hingga orientasi berlebihan pada karier menjadi faktor yang turut memengaruhi keputusan generasi muda untuk menunda pernikahan.

Ia menegaskan, peran KUA sangat penting sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi terkait kehidupan berkeluarga.

“Situasi ini perlu kita dampingi bersama. Edukasi kepada masyarakat harus diperkuat agar nilai-nilai keluarga tetap terjaga. Masalah ini akan menjadi poin krusial yang akan kami kawal dalam rapat kerja bersama Kementerian Agama mendatang,” tegasnya.

Selain itu, Atalia juga menyoroti kondisi infrastruktur KUA, khususnya di Jawa Barat, yang dinilai masih memprihatinkan.

“Sebagian di antaranya tidak layak, ada yang rusak ringan hingga rusak berat. Bahkan ada kantor yang ruangannya sangat sempit, sehingga untuk meletakkan meja saja harus berebutan. Ini harus menjadi perhatian serius,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan sumber daya manusia di KUA, termasuk penghulu dan penyuluh agama yang dinilai belum mendapatkan perhatian memadai.

“Kebutuhan akan penyuluh dan penghulu harus kita penuhi, namun harus dibarengi dengan perhatian pada kesejahteraan mereka. Dedikasi dan kerja keras mereka dalam melayani masyarakat harus dihargai secara layak oleh negara,” pungkasnya.

Atalia berharap, melalui penguatan edukasi keluarga serta perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan SDM, peran KUA dapat semakin optimal dalam menghadapi dinamika sosial yang berkembang di masyarakat (red)