Berita Senayan
Network

Hetifah Sjaifudian: AI Hanya Co-Pilot, Bukan Pengganti Jurnalis

Redaksi
Laporan Redaksi
Minggu, 15 Maret 2026, 20:15:28 WIB
Hetifah Sjaifudian: AI Hanya Co-Pilot, Bukan Pengganti Jurnalis
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bersama dengan narasumber diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” di Jakarta, Minggu (15/3/2026).



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seharusnya diposisikan sebagai co-pilot atau alat bantu dalam kerja jurnalistik, bukan sebagai pengganti peran manusia di ruang redaksi.

Hal tersebut disampaikan Hetifah saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” di Jakarta, Minggu (15/3/2026). Diskusi tersebut digelar bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan dihadiri para jurnalis dari berbagai media.

Menurut Hetifah, perkembangan pesat AI telah mengubah lanskap jurnalisme global secara fundamental, mulai dari proses produksi hingga cara masyarakat mengonsumsi informasi.

“Berdasarkan survei di Asia Tenggara, sekitar 95 persen jurnalis sudah familiar dengan AI. Namun keputusan editorial, verifikasi fakta, serta pertimbangan etika harus tetap mutlak berada di bawah kendali jurnalis manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fenomena tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi pintu masuk yang mulai menggeser peran tradisional media massa.

Di sisi lain, perubahan perilaku publik juga semakin terlihat. Data menunjukkan lebih dari 70 persen Generasi Z kini menggunakan AI untuk mencari informasi, menggantikan cara konvensional melalui mesin pencari atau media tradisional.

Meski demikian, Hetifah menilai AI memberikan peluang besar bagi efisiensi kerja di ruang redaksi. Teknologi ini mampu membantu jurnalis melakukan berbagai pekerjaan berat secara cepat, seperti analisis ribuan dokumen, transkripsi wawancara, hingga pengolahan data publik.

“Perubahan ekosistem ini membawa peluang besar bagi efisiensi ruang redaksi, di mana AI mampu melakukan tugas berat seperti analisis ribuan dokumen, transkripsi, hingga pengolahan data publik secara instan,” paparnya.

Politisi dari Partai Golkar tersebut menambahkan bahwa integrasi teknologi tersebut melahirkan konsep smart journalism, yakni evolusi praktik jurnalistik yang memadukan riset, data, dan kecerdasan buatan.

Melalui pendekatan tersebut, jurnalis diharapkan tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga mampu menyajikan pengetahuan kompleks yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Namun di balik berbagai manfaat tersebut, Hetifah juga mengingatkan adanya ancaman serius berupa disinformasi serta konten manipulatif seperti deepfake. Teknologi ini mampu menciptakan rekaman audio maupun visual yang sangat realistis sehingga berpotensi disalahgunakan untuk penipuan maupun manipulasi opini publik.

Selain itu, ia menilai kecepatan arus informasi digital sering kali menjebak media dalam perlombaan menjadi yang tercepat, yang pada akhirnya berisiko mengorbankan akurasi.

“AI dapat membantu mempercepat proses kerja, namun integritas nurani dan tanggung jawab moral tetap tidak bisa didelegasikan kepada algoritma,” tegasnya (red)