Petani Muda Jadi Fokus Penguatan Ketahanan Pangan Nasional
Sabtu, 08 November 2025, 02:28:53 WIB
MALANG, BERITA SENAYAN – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kembali mendapat sorotan melalui kegiatan Dialogista bertema “Pemuda dan Ketahanan Pangan: Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), Jumat (7/11), di Aula Gedung Sentral FP UB, Malang.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Dr. Mochamad Syamsulhadi, S.P., M.P. (Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FP UB), Heru Sutomo (Ketua P4S Restu Bumi), dan I Nyoman Sugidana (Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025). Diskusi dipandu oleh Tazkiyyah, mahasiswa Fakultas Pertanian UB.
Dalam paparannya, Dr. Mochamad Syamsulhadi menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia—khususnya petani muda—harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan sektor pertanian.
“Per Oktober 2025, anggaran pertanian hanya meningkat 13 persen dari total Rp140 triliun. Program cetak sawah dan food estate belum banyak mengubah peta potensi pangan nasional,” ujarnya.
Ia menilai bahwa pembukaan lahan di wilayah tertentu, seperti Papua, belum bisa menjadi basis lumbung pangan nasional. Menurutnya, peningkatan kapasitas petani jauh lebih penting ketimbang kebijakan instan seperti subsidi pupuk atau pembagian alat pertanian.
Petani Muda Tergerus, Dampak Iklim Kian Terasa
Narasumber kedua, Heru Sutomo, menyoroti tantangan turunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian serta dampak perubahan iklim dalam tiga tahun terakhir.
“Fenomena kemarau basah menjadi keluhan petani. Data BPS 2024 menunjukkan produksi padi justru menurun. Petani muda makin sedikit karena profesi ini dianggap melelahkan dan tidak menjanjikan,” ujarnya.
Heru juga mengungkap bahwa rata-rata petani hanya menggarap 1.000 meter persegi dengan pendapatan sekitar Rp6 juta per tahun, sehingga regenerasi petani berjalan sangat lambat.
Sementara itu, I Nyoman Sugidana mengajak mahasiswa dan generasi muda berperan lebih aktif dalam menjawab persoalan agraria.
“Kita menghadapi alih fungsi lahan, perubahan iklim, kelangkaan pupuk, dan lemahnya irigasi. Mahasiswa harus kreatif melalui rekayasa teknologi untuk mempercepat masa panen dan meningkatkan produktivitas,” katanya.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah melalui BP BUMN Pupuk Indonesia dalam memperkuat distribusi dan percepatan penyaluran pupuk bersubsidi agar lebih tepat sasaran.
Melalui kegiatan Dialogista ini, BEM FP UB dan PIN berharap lahir kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, komunitas petani, industri, dan pemerintah. Mereka juga mengajak seluruh pihak untuk mengawasi distribusi pupuk agar benar-benar terserap untuk petani yang membutuhkan.
Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kapasitas pemuda sebagai garda depan sektor pertanian, sekaligus memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah tantangan global (red).
Berita terkait
Milenials Freedom Deklarasikan Dukungan ke Abah...
Demokrasi di Ambang Retak: Ketika PBNU...
Biaya Gerai Koperasi Merah Putih Dinilai...
Badko HMI Jawa Timur Audiensi Dengan...
DR. Dhifla Nilai KUHAP Baru Perkuat...
Kohati Ushuluddin Gelar Bedah PDK I...
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
