TANGERANG, BERITA SENAYAN – Isu kesejahteraan guru kembali mengemuka dalam kegiatan “Perempuan Menginspirasi, Guru Berdaya” yang digelar PGRI Ranting Desa Talaga di salah satu kafe di kawasan Citra Raya, Tangerang, Sabtu (1/11/2025). Hadir sebagai narasumber utama, Anggota DPR RI Dapil Banten III, Okta Kumala Dewi, menegaskan bahwa perbaikan taraf hidup guru harus menjadi prioritas dalam agenda pembangunan nasional.
Dalam pemaparannya, Okta menyebutkan bahwa lebih dari satu juta guru di Indonesia masih berada di bawah standar layak hidup, berdasarkan data Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS). Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk menata ulang kebijakan pendidikan.
“Guru adalah motor penggerak bangsa. Mereka melahirkan semua orang besar di negeri ini. Karena itu kesejahteraan guru harus menjadi prioritas utama,” tegas Okta.
Okta menjelaskan bahwa pemerintah telah menggulirkan sejumlah program untuk meningkatkan kesejahteraan guru, mulai dari penambahan tunjangan profesi, rekrutmen ASN-PPPK, hingga beasiswa pendidikan untuk 150 ribu guru non-S1 yang akan bergulir tahun depan. Namun ia menilai kebijakan tersebut harus terus diperkuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para pendidik di lapangan.
Meski bertugas di Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, Okta menegaskan bahwa sebagai wakil masyarakat Banten III, ia tetap memperjuangkan aspirasi terkait pendidikan, salah satunya melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi siswa SD hingga SMA.
“Komunikasi lintas komisi itu sangat penting agar kebijakan pendidikan benar-benar sampai kepada masyarakat di daerah,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, sekitar seratus guru, mayoritas perempuan, turut terlibat dalam dialog interaktif yang membahas tantangan kesejahteraan, peningkatan kapasitas, hingga peran perempuan dalam memajukan pendidikan.
Dua tokoh lain, Sri Panggung Lestari, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Komisi III, dan Ahmad Aziz Faozi, akademisi Universitas Cendekia Abditama, memperkaya diskusi dengan sorotan mengenai pentingnya kebijakan pendidikan yang inklusif dan berperspektif gender. Mereka menekankan bahwa guru, terutama perempuan yang jumlahnya mencapai lebih dari 70 persen secara nasional, harus ditempatkan sebagai garda terdepan perubahan sosial.
Kegiatan ini menjadi ruang bertukar gagasan untuk menghadirkan pendidikan yang lebih berkeadilan. Dari sudut kecil Citra Raya, lahir harapan besar bahwa kesejahteraan guru dapat menjadi agenda prioritas pemerintah menuju pencapaian Generasi Emas Indonesia 2045 (red)

Berita terkait