Rasisme Bukan Kritik: Membaca Prestasi Bahlil Lahadalia di Sektor Energi dan Tambang
Senin, 27 Oktober 2025, 10:27:07 WIB
Oleh: Azhar Adam
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ada garis tipis antara kritik dan penghinaan. Di negeri yang menjunjung kebebasan berpendapat, kritik adalah tanda sehatnya demokrasi. Tapi ketika kritik berubah menjadi cemoohan rasial, itu bukan lagi ekspresi intelektual, itu pelecehan terhadap akal sehat.
Beberapa waktu terakhir, Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menjadi sasaran serangan bernuansa rasis di media sosial. Ia dituding, diolok, bahkan dipelesetkan dengan meme dan kata-kata yang tak layak. Namun, yang menarik bukanlah serangannya, melainkan caranya merespon, tenang, tanpa dendam, dan tetap menegaskan bahwa “kritik boleh saja, asal beradab”.
Di balik semua hiruk-pikuk itu, publik seharusnya menengok kembali fakta di lapangan. Sebab jika berbicara data dan capaian, kinerja Bahlil di sektor ESDM justru sedang mencetak banyak langkah besar, terutama dalam penataan energi dan penegakan hukum pertambangan yang selama ini menjadi lubang hitam ekonomi nasional.
Kerja Nyata di Tengah Sorotan
Satu tahun terakhir, sektor ESDM mencatat percepatan luar biasa. Pemerintah meluncurkan 37 proyek kelistrikan strategis dengan kapasitas lebih dari 3,2 gigawatt (GW), sebagian besar berbasis energi baru terbarukan (EBT). Angka ini bukan sekadar statistik, di baliknya ada puluhan ribu tenaga kerja yang terserap dan ribuan desa yang akhirnya menikmati listrik stabil.
Tak berhenti di situ. Pada pertengahan 2025, Bahlil meresmikan rangkaian proyek energi bersih senilai Rp25 triliun yang tersebar di 15 provinsi. Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan panas bumi (PLTP) itu menandai komitmen kuat Indonesia menuju transisi energi berkelanjutan.
Langkah ini strategis. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan harga energi global, memperkuat energi domestik berarti memperkuat kedaulatan ekonomi. Negara yang mampu menghasilkan listrik sendiri, apalagi dari sumber terbarukan, tidak mudah diguncang oleh krisis minyak atau gas dunia.
Menertibkan Sektor Tambang
Kita semua tahu, tambang di Indonesia tak hanya soal kekayaan alam, tapi juga soal ketimpangan kekuasaan dan tumpang tindih izin. Selama bertahun-tahun, banyak tambang beroperasi tanpa izin, bahkan di kawasan hutan lindung.
Negara rugi, rakyat sekitar tak sejahtera, dan lingkungan rusak.
Bahlil tidak mau menutup mata. Ia menggerakkan penertiban besar-besaran tambang ilegal bersama Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Pemerintah kini memiliki kriteria hukum yang jelas untuk menentukan tambang ilegal, mulai dari tambang tanpa izin, tambang yang izinnya tumpang tindih, hingga tambang yang melampaui batas wilayah izin.
Hasilnya mulai terlihat. Ratusan titik tambang bermasalah ditertibkan, puluhan izin ditinjau ulang, dan sebagian wilayah dikembalikan ke negara. Tak hanya menyelamatkan potensi penerimaan negara, kebijakan ini juga menurunkan ketegangan sosial di banyak daerah penghasil tambang.
Langkah ini butuh keberanian politik. Sebab mereka yang dihadapi bukan hanya penambang kecil, tapi juga kelompok besar yang selama ini menikmati “zona abu-abu” regulasi. Bahlil memilih jalan sulit menegakkan aturan, meski risikonya dicaci.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Langkah-langkah tersebut membawa efek berlapis. Dari sisi ekonomi, penerimaan negara dari sektor minerba meningkat tajam. Digitalisasi izin dan pengawasan tambang membuat ruang untuk manipulasi makin sempit. Negara tak lagi kehilangan miliaran rupiah tiap bulan akibat tambang liar yang tak membayar royalti.
Dari sisi sosial, banyak perusahaan kini terdorong untuk lebih taat terhadap aturan tenaga kerja lokal dan tanggung jawab sosial (CSR). Data internal Kementerian ESDM mencatat, ribuan pekerja baru terserap di proyek infrastruktur energi dan tambang legal sepanjang tahun 2025.
Sementara dari sisi lingkungan, penertiban tambang dan kewajiban reklamasi lahan bekas galian mulai menunjukkan hasil. Beberapa wilayah yang sebelumnya rusak berat kini masuk program rehabilitasi ekosistem nasional. Negara tak lagi membiarkan tanahnya diobrak-abrik tanpa tanggung jawab.
Antara Kritik dan Kebencian
Sayangnya, langkah tegas itu justru membuat sebagian pihak tak nyaman. Dari sinilah muncul narasi miring, fitnah, hingga serangan pribadi yang menyinggung latar belakang etnis Bahlil. Ini bukan hal baru di politik Indonesia, tapi tetap menyedihkan.
Menyerang seseorang karena asal-usulnya adalah bentuk kemunduran moral. Kita boleh tidak sepakat dengan kebijakan, tapi tidak boleh menyerang identitas. Sebab begitu politik diwarnai rasisme, diskusi publik akan kehilangan substansi. Yang tersisa hanya kebencian.
Bahlil sendiri memilih jalan damai. Ia memaafkan pembuat meme dan meminta laporan hukum terhadapnya dicabut. Tindakan ini sederhana tapi bermakna. Pejabat publik harus kuat menghadapi kritik, tapi juga tegas menjaga batas etika publik. Ia tak menuntut penghormatan pribadi, hanya meminta perdebatan yang waras.
Serangan rasis terhadap Bahlil Lahadalia adalah cermin betapa rapuhnya sebagian ruang publik kita dalam membedakan kritik dengan kebencian. Namun di sisi lain, sikap tenang Bahlil menunjukkan kelas seorang pemimpin. Ia tidak membalas fitnah dengan amarah, melainkan dengan kerja yang bisa diukur.
Dan bukankah itu yang paling kita butuhkan saat ini? Pemimpin yang tidak sibuk menjawab cibiran, tapi sibuk membenahi negara.
Bahlil mungkin tidak sempurna. Tapi dalam satu tahun kepemimpinannya di ESDM, ia telah membuktikan bahwa keberanian menertibkan yang salah, dan ketegasan menata energi nasional, jauh lebih penting daripada perdebatan murahan di media sosial.
Di negeri yang besar karena keberagaman, rasisme tak pernah punya tempat. Yang seharusnya menonjol adalah kerja, bukan warna kulit atau asal daerah. Dan dalam hal itu, Bahlil sudah berbicara dengan bahasa paling universal, “Hasil Nyata”.
*Penulis adalah Sekretaris BSNPG
Berita terkait
Membela rakyat tak pernah salah
Menempatkan Guru sebagai Pilar Martabat Bangsa...
Pak Harto, Sang Jenderal Besar dan...
Saatnya Memilih Menjadi Kewajiban Hukum di...
Healing Ala Menteri Ketum Bahlil
Reaktualisasi Hari Sumpah Pemuda
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
