Berita Senayan
Network

Antara Aurelie Moeremans dan James W. Pennebaker

Redaksi
Laporan Redaksi
Jumat, 23 Januari 2026, 14:36:37 WIB
Antara Aurelie Moeremans dan James W. Pennebaker
Muhammad Shofa (Penulis)



Oleh : Muhammad Shofa*

JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pembaca mungkin bertanya-tanya dengan judul di atas. Apa hubungannya antara Aurelie dengan James W. Pennebaker, seorang peneliti yang juga psikolog? Di antara keduanya memang tak ada hubungan darah. James W. Pennebaker kelahiran Texas, Amerika. Sementara Aurelie Moeremans lahir di Brussels, Belgia. Selain itu, usia keduanya pun terpaut sangat jauh.

Tapi, bukan itu yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini. Melainkan apa yang telah diutarakan oleh James W. Pennebaker dalam bukunya yang berjudul Opening Up : The Healing Power of Expressing Emotions yang telah dipraktekkan secara langsung oleh Aurelie. Buku ini menjelaskan perihal efek dahsyat dan luar biasa dari aktivitas menulis dalam menyembuhkan diri. Dan Aurelie telah menapaki jalan itu lewat buku yang telah ditulisnya, Broken Strings.

James W. Pennebaker menuturkan, menuliskan pikiran dan perasaan terdalam yang menyimpan pengalaman traumatis dapat menghasilkan suasana hati yang lebih nyaman, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan yang lebih baik. Dan itulah yang dirasakan oleh Aurelie saat ia telah menuntaskan semua pengalaman pahitnya ke dalam bukunya Broken String.

Mungkin banyak pembaca yang penasaran atas alasan apa Aurelie menuliskan pengalamannya itu ke dalam sebuah buku? Bila melihat penyampaian Aurelie di kanal youtube miliknya, perempuan kelahiran Belgia ini mengatakan bahwa pada awalnya ia datang ke hypnoterapist. Kepadanya Aurelia menceritakan pengalaman hidup yang ia alami di saat masih berusia remaja sekitar 16 tahun yang lalu dan membawa trauma serta luka di dalam hidupnya. Dan, trauma itu masih ada hingga saat ia datang ke hypnoterapist itu. Kepada terapist itu pula, Aurelie curhat terkait kondisi dirinya jika kesedihan datang menyelimutinya. Terkadang, seperti yang  diakuinya, ia suka menyakiti diri sendiri. Aurelie menyadari bahwa ada hal yang masih belum selesai di hatinya. Yakni penyiksaan, penghinaan dan pelecehan yang dialaminya di saat ia masih remaja.

Oleh terapistnya itu, Aurelie disarankan untuk menulis diary atau catatan harian. Bagi Aurelie, menulis diary itu sangatlah berat. Karena dengan itu ia merasa seperti membuka kembali luka lamanya. Meski demikian, dengan menulis ulang kembali catatan hariannya, Aurelie mendapatkan pandangan baru yang berbeda dibanding sebelumnya. Ia merasa heran dengan kepolosannya dulu saat ia begitu saja patuh dan tunduk pada tekanan dan penindasan yang dialaminya, yang dilakukan oleh sosok yang disebutnya dengan nama Bobby di dalam bukunya itu.

Aurelie telah menerapkan proses mengikat makna secara tidak langsung. Apa yang dialaminya, dirasakannya, ia ungkapkan menjadi sebuah tulisan yang bisa memberikan manfaat yang luar biasa bagi para pembaca bukunya itu. Dan memang, setiap pengalaman hidup yang tidak dinilai, baik itu pengalaman baik dan buruk, akan menjadi sesobek kertas yang tak bermakna.

Penulis cum sastrawan Indonesia yang terkenal, Pramoedya Ananta Toer, dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, menulis, bahwa “ Setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain, akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan. Maka belajarlah kau menilai pengalamanmu sendiri”.

Aurelie sudah ada di tahap itu. Ia sudah memberikan penilaian atas perjalanan hidupnya di masa lalu. Dan itu membuatnya menjadi lebih bijak, berpikir positif, dan berdamai dengan masa lalunya yang menyakitkan. Berdamai di sini tentu bukan dengan pelaku yang mungkin masih menjadi batu kerikil di dalam sepatu perjalanan hidup Aurelie.

Menulis perjalanan hidup pribadi itu sangat berat. Penulisnya harus jujur pada diri sendiri. Menceritakan pengalaman-pengalaman yang dialaminya, apalagi pengalaman pahit dan menyedihkan, membuat sang penulis harus memeras otak kembali untuk menyatukan puzzle-puzzle kehidupan masa lalunya yang rapuh dan penuh kekasaran.

Ada banyak buku memoar yang meledak dan menjadi konsumsi bacaan banyak orang. Seperti I’m Glad My Mom Died- nya Jennette McCurdy, The Diary of Young Girl-nya Anne Frank, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu-nya Pramoedya Ananta Toer, Spare karyanya Pangeran Harry dan Becoming-nya Michel Obama.

Bila membaca Broken Strings, kita akan melihat bagaimana perih dan pedihnya perjalanan hidup Aurelie yang dijerat cinta oleh laki-laki yang usianya jauh di atas dirinya. Pelaku menancapkan pengaruhnya ke Aurelie yang masih polos waktu itu dan belum memahami apa arti cinta yang sesungguhnya. Perlahan-lahan pelaku kemudian mengambil apa yang dipunya oleh Aurelie. Tak hanya waktu, tapi juga perasaan, tubuh bahkan kehormatannya dengan satu alasan : cinta.

Dalam buku itu kita juga bisa melihat bagaimana agama juga berpeluang digunakan sebagai alat untuk menjerat Aurelie. Dengan alasan Tuhan, pelaku menakut-nakuti Aurelie dan mengancamnya dengan kata yang kerap dikhotbahkan oleh agamawan : dosa.

Broken String mengisahkan perjalanan hidup Aurelie di masa kecilnya. Masa yang seharusnya diisi dengan keriangan malah diisi kemurungan dan kemuraman seorang gadis cupu yang masih belum tahu apa-apa. Dari buku ini, kita sebagai manusia, sebagai orang tua, bisa memetik pelajaran darinya bagaimana menjaga anak keturunan kita tidak menjadi korban atau pun pelaku dari child grooming.

Memoar Aurelie Moeremans ini tak akan bisa dinikmati oleh pembaca, andai saja, suami dari Aurelie tak membaca catatan harian yang ditulis oleh Aurelie. Suaminya menyarankan agar Aurelie menerbitkan buku ini agar bisa menyelamatkan perempuan-perempuan lain yang mengalami nasib yang sama dengan dirinya tapi tak berani untuk bersuara.

Meski awalnya ragu, tapi Aurelie sudah berani untuk berbicara. Dan ini menimbulkan ledakan luar biasa di media sosial yang dipenuhi anak-anak muda Gen Z yang masih dalam proses pencarian jati diri. Aurelie telah memulai. Menulis pengalamannya. Pahit. Pedih. Dan menyedihkan. Membaca buku itu, meski saya laki-laki, juga bergidik melihat kelakuan dan modus sang pelaku saat menyiksa Aurelie secara psikologis.

Semoga dengan terbitnya buku Broken Strings dalam bentuk fisik, hal itu bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang membacanya untuk menjaga anak-anak masing-masing agar tak mengalami nasib yang sama dengan apa yang dialami oleh Aurelie. Dan tentu saja, mengetahui motif dan modus para pelaku child grooming wajib diketahui oleh para orang tua. Demikian.

*Penulis adalah pegiat literasi dan pembaca buku


Berita terkait

Nalar Hukum KPK dan Warisan Kolonial Hukum Romawi
Nalar Hukum KPK dan Warisan Kolonial...
30 Januari 2026, 23:45:35
KPK, Nalar Silo Digital Hukum dan Diskresi Kuota Haji
KPK, Nalar Silo Digital Hukum dan...
28 Januari 2026, 20:42:04
Jokowi dalam Pusaran Isu Korupsi Kuota Haji
Jokowi dalam Pusaran Isu Korupsi Kuota...
26 Januari 2026, 17:05:11